Cancel Preloader

Umar bin Abdul Aziz Menangis Mendengar Ayat Alquran Ini

 Umar bin Abdul Aziz Menangis Mendengar Ayat Alquran Ini

Umar bin Abdul Aziz (Ilustrasi/Hidayatuna)

Digiqole ad

HIDAYATUNA.COM – Umar bin Abdul Aziz dikenal sebagai khalifah yang amanah dan warak. Selayaknya orang yang memahami ilmu-ilmu agama, ia memahami adanya tanggung jawab, baik di dunia maupun akhirat kelak.

Khalifah Umar bin Abdul Aziz semakin takut akan pengadilan Hari Akhir dan perjumpaan dengan Tuhannya. Apalagi ketika Umar mendengar ayat dalam Alquran, ia bahkan sampai menangis dibuatnya.

Dikisahkan Ibnu Abi Dzuaib, suatu ketika seorang lelaki membacakan Alquran surat al-Furqan ayat 13.

وَإِذَا أُلْقُوا مِنْهَا مَكَانًا ضَيِّقًا مُقَرَّنِينَ دَعَوْا هُنَالِكَ ثُبُورًا

Dan apabila mereka dilemparkan ke tempat yang sempit di neraka itu dengan dibelenggu, mereka di sana mengharapkan kebinasaan.”

Mendengar ayat Alquran tersebut, Umar seketika menangis tersedu-sedu. Firman Allah SWT. itu menceritakan keadaan orang-orang yang mendustakan Hari Kiamat.

Perkataan yang keluar dari lisan mereka menandakan penyesalan yang amat mendalam atas ketidaktaatannya selama di dunia. Hati nurani Umar sangat peka akan Alquran.

Pernah dalam sebuah majelis sebagaimana dilansir dari Republika.co.id, Khalifah Umar membaca surat at-Takasur. Surah itu menyinggung perihal mereka yang gemar bermegah-megahan serta akibat yang akan diterimanya kelak.

Baru dua ayat dibacanya, Umar menangis sesenggukan. Sesudahnya Umar menjadi lebih tenang.

Khalifah Umar berkata, “Aku tidak melihat kuburan kecuali sebagai tempat diziarahi. Dan setiap yang menziarahinya pun kelak akan kembali, apakah ke surga atau neraka.”

Umar bin Abdul Aziz adalah khalifah yang memerintah antara tahun 99 dan 102 H (717 hingga 720 Masehi). Dalam kepemimpinannya, Umar menerapkan kebijakan untuk kembali kepada syariat.

Khalifah Umar memang tercatat dengan tinta emas dalam sejarah peradaban Islam. Hal itu tertuang dalam “Biografi Umar bin Abdul Aziz: Khilafah Pembaru dari Bani Umayyah (2010)” yang ditulis Prof Ali Muhammad ash-Shallabi.

Redaksi

Redaksi

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

six + seven =