Cancel Preloader

Ulama yang Menghidupkan Nifsyu Sya’ban

 Ulama yang Menghidupkan Nifsyu Sya’ban

Ulama yang Menghidupkan Nifsu Sya’ban (Ilustrasi/Hidayatuna)

Digiqole ad

HIDAYATUNA.COM – Khalid bin Ma’dan bin Abi Karb al-Kila’iy dari Syam merupakan ulama yang pertama menghidupkan budaya malam Nifsyu Sya’ban. Hal ini berdasarkan kitab Lathaif al-Ma’arif (hal. 137) yang ditulis Imam Ibnu Rajab.

Khalid adalah salah satu ulama dari kalangan tabi’in ahli ibadah yang wafat tahun 104 Hijrah. Namanya tertulis dalam daftar rijal ulama hadis.

Beliau masuk dalam kategori tsiqah, dan terkenal sebagai seorang ahli ibadah yang wara’. Khalid lahir di Yaman, akan tetapi lama tinggal di Hamsh, Syam dan wafat di tempat yang sama.

Dalam kitabnya al-A’lam (2/299), dikutip dari Republika.co.id, Imam Al-Zirikli menukil cerita dari Ibnu Asakir. Ibnu Asakir menyebutkan bahwa Khalid bin Ma’dan ialah orang yang rajin sekali bertasbih.

Bahkan ketika sekarat pun, tangannya terlihat bergerak seperti sedang bertasbih. Kebiasaan yang dilakukan oleh Khalid bin Ma’dan itu kemudian diikuti oleh ulama Syam lainnya seperti Makhul dan Luqman bin ‘Amir.

Kebiasaan itu akhirnya diikuti oleh masyarakat, bukan hanya sekitaran Syam. Hampir seluruh pelosok negeri Islam turut menghidupkan malam Nisfu Sya’ban ini.

Hadis kemuliaan malam Nisfu Sya’ban itu sendiri memang ada dan menjadi sandaran bagi mereka yang menghidupkan malam Nifsu Sya’ban. Misalnya dengan melakukan amalan-amalan ibadah meski tidak semua shahih.

Hadis-hadis tersebut ada yang shahih, ada yang juga yang dhaif, bahkan maudhu’ (palsu). Di antara yang lemah dan palsu itu, ada satu hadis yang dihukumi oleh jumhur lama hadis ini sebagai hadis shahih.

Hadis shahih inilah yang dijadikan sandaran sehingga dilegalkan untuk menghidupkan malam Nifsu Sya’ban. Hadis itu ialah hadis yang diriwayatkan oleh Imam al-Baihaqi dalam kitabnya Syu’ab al-Iman.

Nabi SAW bersabda: “Allah SWT. melihat kepada hamba-Nya di malam Nisfu Sya’ban. Dia mengampuni dosa semua makhluk-Nya kecuali orang musyrik dan orang yang sedang berseteru (dengan saudaranya).” (HR. al-Baihaqi)

Redaksi

Redaksi

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

10 − 3 =