Ulama Pejuang Asal Banten Resmi Ditetapkan Sebagai Pahlawan Nasional

 Ulama Pejuang Asal Banten Resmi Ditetapkan Sebagai Pahlawan Nasional

Ulama Pejuang Asal Banten Resmi Ditetapkan Sebagai Pahlawan Nasional (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM, Jakarta — Ulama dan juga pejuang asal Banten, Raden Aria Wangsakara resmi ditetapkan sebagai pahlawan nasional. Penetapan itu merujuk pada Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 109 dan 110 TK Tahun 2021 tentang Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional dan Tanda Kehormatan Bintang Jasa.

Presiden Joko Widodo secara resmi menganugerahkan gelar pahlawan nasional kepada Raden Aria Wangsakara, pendiri wilayah Tangerang. Gelar tersebut diberikan dalam upacara yang dilaksanakan di Istana Negara, Jakarta.

Dilansir dari NU Online, Sabtu (20/11/2021) selain Raden Aria Wangsakara, ada tiga tokoh lainnya yang diberi gelar tersebut yakni Tombolututu dari Sulawesi Tengah, Sultan Aji Muhammad Idris dari Kalimantan Timur, dan Usmar Ismail dari DKI Jakarta.

Raden Aria Wangsakara merupakan salah satu keturunan Raja Sumedang yang lahir pada tahun1024 H. Ada versi lain yang menyebut Raden Aria Wangsakara lahir 1615 M.

Bangunan pertama yang menjadi sarana untuk dakwah adalah masjid yang dibangun di wilayah Desa Lengkong Kulon, Pagedangan, Kabupaten Tangerang bernama Masjid al-Muttaqin. Pondasi awalnya kayu, menggunakan atap genteng dan sebagian temboknya memakai bilik dari bambu.

Selanjutnya pemukiman santri dibangun. Mengikuti posisi masjid yang mengarah Kiblat. Seiring waktu, perlahan tempat yang dirintisnya mengalami perkembangan dan menjadi pusat mencari ilmu para santri sekitar Tangerang, hingga pada suatu hari kolonial Belanda menyerang pesantrennya.

Mengabdi pada Masyarakat dengan Ilmu Agamanya

Puncaknya tahun 1655, VOC menawarkan pembaharuan perjanjian dagang dengan Kesultanan Banten. Karena banyak merugikan, Sultan Ageng Tirtayasa menolak lantang pembaharuan perjanjian itu. Dua tahun berselang, Sultan Ageng Tirtayasa mengumpulkan basis-basis gerilya untuk melakukan perlawanan terhadap Belanda, salah satu yang dipersiapkan adalah Aria Wangsakara.

Pasca momentum Tugu Tangerang, peristiwa yang menjadi muasal penyebutan daerah Tangerang. Sebagai penanda batas wilayah, Sebuah bangunan tugu berbahan dasar bambu yang didirikan Pangerang Soegiri, putra Sultan Ageng Tirtayasa dari Kesultanan Banten.

Masa itu, Raden Senopati Ingalaga, Raden Aria Wangsakara dan santrinya sering terlibat gerilya menghadapi pasukan Belanda. Puncaknya Mei 1658 sampai Juli 1659. Penyerangan dilakukan ke Batavia melalui daerah Angke.

Namun sayang, kabar penyerangan itu bocor diketahui oleh Belanda sehingga bisa diantisipasi. Tak kenal takut pasukan memerangi Belanda sampai berhari-hari. Sultan Ageng Tirtayasa mendapati kabar pasukan mengalami kelelahan, lalu mengirim pasukan tambahan untuk membantu. Oleh karena kegigihannya, pasukan melawan sampai mendekati batas Batavia. Pada akhirnya Belanda terdesak lalu mengajukan gencatan senjata pada 10 Juli 1659.

Pasca peperangan melawan Belanda. Banyak korban berjatuhan di kedua belah pihak. Raden Aria Wangsakara mengumpulkan keluarga korban dan menyantuninya di Bale Kambang dan mushola-mushola. Setelah itu, Aria Wangsakara memilih untuk menyerahkan tahta pada 12 Januari 1666. pemerintahan Tangerang diserahkan kepada anaknya Raden Aria Yudhanegara.

Raden Aria Wangsakara lebih memilih untuk mengajar agama kepada masyarakat. Ketokohan Raden Aria Wangsakara semakin tersohor. Banyak masyarakat sering meminta nasihat padanya. Ariaan sekitaran Banten dan Raden Aria Yudhanegara juga sering mengunjungi ayahnya. Meminta nasihat dan petunjuk dalam menjalankan amanahnya sebagai Aria Tangerang II.

Romandhon MK

Peminat Sejarah Pengelola @podcasttanyasejarah

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

seventeen − sixteen =