HIDAYATUNA.ID – Guru H. Ismail Mundu dikenal sebagai ulama legendaris dari Kerajaan Kubu. Beliau lahir tahun 1870 dari pasangan Daeng, Abdul Karim Jailani alias Daeng Talengka dan Zahra alias Wak Soro. Ayah Guru H. Ismail Mundu merupakan Mursyid Thariqah. Sedangkan ibunya berasal dari Kakap, Kalimantan Barat. Meninggal dunia pada hari Kamis, 15 Jumadil Akhir 1376 H atau 16 Januari 1957 M, namun pengaruhnya masih kuat hingga saat ini. Ajaran-ajarannya terus disebarkan ke berbagai wilayah di Kalbar. Terutama oleh mereka yang pernah belajar pada tokoh penyebar agama Islam itu.

Beliau adalah seorang ulama besar di Kalimantan Barat, tepatnya di Teluk Pakedai, Kabupaten Kubu Raya (dulu Kabupaten Pontianak), namun sebenarnya leluhur dia berasal dari Suku Bugis, Sulawesi Selatan. Guru H. Ismail Mundu masih memiliki keturunan ‘darah biru’ dengan Kerajaan Sawitto di Sulawesi Selatan.

Salah satu sejarah besar keislaman dan tokoh ulama Indonesia yang ini memang bukan sosok yang asing bagi masyarakat Sulawesi Selatan dan Teluk Pakedai, Pontianak, Kalimantan Barat. Guru H. Ismail Mundu mempunyai jiwa rendah hati sebagai seorang ulama, memilih mendengar dan bertanya kepada rekan sesama pemuka agama sejawatnya. Tetapi beliau salah satu figur yang disegani karena keluhuran budi pekerti dan luasnya ilmu yang dimiliki.

Kemampuan mumpuni Guru H. Ismail Mundu terhadap keislaman sebenarnya telah menonjok sejak ia masih anak-anak. Guru H. Ismail Mundu pertama kali belajar mengaji pada usia 7 tahun dengan pamannya sendiri yaitu H. Muhammad bin H. Ali. Dalam kurun waktu tujuh bulan belajar mengaji, Guru H. Ismail Mundu mampu mengkhatamkan Al Quran.

Beranjak remaja, ayahanda Guru H. Ismail Mundu menyuruhnya supaya kembali memperdalam ilmu keislaman. Lantas Guru H. Ismail Mundu belajar kepada beberapa ulama terkemuka di Kalimantan Barat, seperti salah satunya H.  Abdullah Bilawa yang digelari Ulama Batu Penguji. Kepada beberapa ulama tersebut, Guru H. Ismail Mundu mempelajari khasanah kitab ilmu agama Islam sekaligus menghafalnya.

Baca Juga :  "Tantangan Mbah Wahab" Menjadi Lecutan KH. Tholchah Mansoer

Guru H. Ismail Mundu terhitung hingga empat kali menunaikan ibadah berhaji ke Tanah Suci Makkah. Usia 20 tahun adalah pertama kalinya Guru H. Ismail Mundu berangkat menunaikan ibadah Haji ke Makkah. Pada saat beliau belum menikah, ia mengakhiri masa lajang di Makkah. Menikah dengan seorang wanita yang berasal dari suku Habsyi yang bernama Ruzlan untuk mendapatkan keturunan. Tetapi dalam kenyataanya, keinginan tersebut tidak selamanya dapat terwujud, karena setelah selang beberapa waktu hidup bersamanya. Sang istri tercinta telah berpulang ke Rahmatullah (meninggal), sebelum dikaruniai seorang anak.

Oleh sebab itu, tidak lama kemudian Guru H. Mundu menikah kembali yang kedua kalinya dengan seorang wanita yang berasal dari pulau sasaran yang bernama Hj. Aisyah. Kemudian Guru H. Ismail Mundu kembali ke Indonesia, sejak itulah beliau lebih dikenal dengan nama H. Ismail Mundu. Seperti halnya pernikahan yang pertama dan keduanya, Allah Swt menguji kesabaran Guru H. Ismail Mundu yang baru saja membina keluarga dengan HJ. Aisyah, ternyata sang istri tercinta segera dipanggil kemmbali ke Rahmatullah (meninggal) dan belum dikarunia seorang anak, demikianlah kehendak Allah Swt.

Setelah meninggal HJ. Aisyah, maka Guru H. Ismail Mundu kembali ke Desa Sungai Kakap Pontianak, disanalah beliau menikah yang ketiga kalinya dengan seorang wanita yang masi memiliki ikatan saudara dengan sepupu beliau yang bernama Hafifa binti H. Sema’ila. Dari pernikahan tersebut barulah dikaruniai tiga anak (dua anak laki-laki dan satu anak perempuan) yang bernama;

  • Ambo’ Saro alias Openg
  • Fatma
  • Ambo’ Sulo

Dengan dikarunia tiga seorang anak, sayangnya tidak lama kemudian sang istri tercinta Hafifa binti H. Sema’ila meninggal dunia setelah kelahiran putra yang ke tiganya. Begitu pula dengan putra-putri Guru H. Ismail Mundu meninggal dunia pada usia yang relatife muda, sehingga dapat dikatakan bahwa beliau tidak memiliki keturunan (dzuriyah).

Baca Juga :  KESAKTIAN ILMU SUNAN MURIA

Dengan meninggalnya istri ketiga Hafifa berarti H. Ismail Mundu dalam keadaan duda. Hal ini tidak dikehendaki oleh Guru H. Ismail Mundu untuk sendirian semasa hidupnya, oleh sebab itu beliau kembali menikah yang keempat kalinya dengan seorang wanita yang berkebangsaan Arab Suku Natto yang bernama HJ. Asmah binti Sayyid Abdul Kadir. Bersama dengan Hj. Asamah, Guru H. Ismail Mundu menunaikan Ibada Haji yang kedua kalinya. Disamping menunaikan ibadah Haji, beliau juga menuntut ilmu kepada seorang Mufti Makkah Al Mukarramah yang bernama Saeyed Abdullah Azzawawi.

Setelah dianggap mengusai ilmu yang cukup, maka pada tahun 1904 M/1324 H. Guru H. Ismail Mundu kembali ke Indonesia. Kemudian berdomisili di desa Teluk Pakedai yang termasuk dalam wilayah kerajaan Kubu Pontianak Kalimantan Barat. Disanalah beliau terpanggil untuk mengamalkan dan mengembangkan ilmu pengetahuan yang telah beliau terima dan kuasai. Sebagai seorang alim, beliau mengupayakan senantiasa memilki keterkaitan dengan syi’ar islam dan menegakan kebenaran dan menumpas kebatilan yang pada saat itu mulai merajalela.

Menurut keterangan dari salah seorang murid dari Guru H. Ismail Mundu yang bernama H. Arsyad, sebelum kedatangan beliau di Teluk Pakedai, sudah menjadi tradisi dalam masyrakat bahwa setiap tamu yang datang ke daerah Teluk Pakedai akan diuji dulu ketinggian ke ilmuanya melalaui suatu perkelahian yang mengorbankan nyawanya.

Berkaitan dengan ketinggian Ilmu Guru H. Ismail Mundu, terdapat suatu kisah nyata, ketika beliau selesai menunaikan ibadah sholat shubu, di tengah perjalanan Guru H. Ismail Mundu dihadang oleh lima orang bersenjata, pada saat itu beliau masih berusia 25 tahun. Sementara pembegalan rata-rata usia 40 tahun yang berpengalaman dalam hal pembegalan. Kelima orang tersebut mempersilakan Guru H. Ismail Mundu untuk menggunakan segala senjata dimilki. Dengan penuh wibawa beliau mengatakan bahwa kehadirannya ke Teluk Pakedai bukan untuk mencari musuh, tetapi kehadiran beliau adalah untuk menyebarkan kebenaraan, tapi tidak menyurutkan keinginan para pembegal untuk melaksanakan aksi pengujian.

Baca Juga :  Jejak Syekh Yusuf Makassar di Afrika

Sebelum pertikaian dimulai, Guru H. Ismail Mundu menyuruh mereka untuk mencabut ranggas kelapa yang tertanam sebagian. Ternyata dari kelima orang tersebut tidak ada yang mampu melaksanakannya, oleh sebab itu Guru H. Ismail Mundu menasehati agar mereka tidak sombong. Selanjutnya dengan membaca bismillah tanpa mengalami kesulitan, beliau mencabut ranggas kelapa dengan mudah dan Mandau (senjata) dari kelima orang tersebut dibengkokkan. Guru H. Ismail Mundu berkata bahwa Mandau saja bisa sujud kepada Allah SWT, bagaimana dengan kalian?, mereka menyatakan bertaubat dan mengakui ketinggian ilmu Guru H. Ismail Mundu.

Atas segala kemampuan dan kharisma serta besarnya pengaruh yang dimiliki oleh Guru H. Ismail Mundu, maka pada tanggal 31 Agustus 1930 M/ 1349 beliau mendapatkan penghargaan dari pemerintah Belanda berupa bintang jasa dan Honorrarium dari Ratu Whiel Mina. Jabatan Mufti disbanding oleh Guru H. Ismail Mundu sampai beliau kembali menunaikan ibadah Hajinya yang ketiga kalinya.

Guru H. Ismail Mundu bagi masyarakat yang tinggal di Teluk Pakedai, Kalimantan Barat, adalah ulama teladan dan panutan. Kehadiran Guru Haji Ismail Mundu di Teluk Pakedai untuk menetap sambil menyiarkan Islam mampu mengubah ciri daerah yang beringas dan tanpa aturan menjadi tertib, sesuai tuntunan Islam dan religius. (K-HL)

Guru Haji Ismail Mundu juga pernah didaulat menjadi Mufti Kerajaan Kubu, Kalimantan Barat. Kemampuan ilmu keislamannya membuat pihak kerajaan memberikan amanah kepadanya sebagai sumber rujukan masalah-masalah keislaman. Kendati demikian, Guru Haji Ismail Mundu tetap tak terkesan hebat. Cara penyampaian penjelasan masalah keislaman Guru Haji Ismail Mundu lebih mengesankan perbincangan santai dan dialog seperti saling belajar.

Sejarah mencatat, keberhasilan putra dari pasangan Daeng Abdul Karim alias Daeng Talengka berdarah Sulawesi dan Zahro (Wak Soro) dari Kalimantan Barat ini, dalam menyebarkan Islam dan berdakwah dalam sosial keagamaan.