Tradisi Titip Sandal Kepada Jamaah yang Berangkat Haji di Bali

 Tradisi Titip Sandal Kepada Jamaah yang Berangkat Haji di Bali
Digiqole ad

Pulau Dewata Bali yang Muslimnya minoritas, memiliki tradisi yang sangat unik dalam pelepasan jamaah yang hendak berangkat menunaikan ibadah umrah ke Tanah Suci. Usai Shalat Ashar, sejumlah warga berkumpul di depan halaman rumah salah satu tokoh masyarakat (H Mashur ) di Jalan Gatot Subroto (Gatsu) VI-L, Banjar Teruna Sari Dauh Puri Kaja (Gatsu Tengah), Kota Denpasar, Bali. Bahkan jamaah hingga seratusan orang menghadiri tasyakuran umrah itu.
Acara tersebut diawali dengan pembacaan ayat suci Alquran yang mengisahkan napak tilas perjalanan Nabi Ibrahim yang merupakan ritual haji atau umrah. Kemudian disambung dengan sambutan keluarga yang diwakili anak H Mashur, yakni Farizqi Mulya.
“Meskipun belum 100 persen pulih, kami mohon doa restu bapak-bapak agar ayah saya yang sempat mengalami stroke bisa kembali sehat seperti sediakala, sehingga ibadah umrahnya lancar,” kata Rizqi dalam sambutannya.
Hadirin yang datang pun serempak mengaminkan doa Rizqi. Setelah sambutan maka acara dilanjutkan dengan pembacaan shalawat dan talbiah hingga ditutup dengan doa dan diakhiri santap siang. Menunya, ada gulai, lontong, dan aneka hidangan kue serta buah-buahan.
Saat pembacaan shalawat dan talbiah itulah, H Mashur bersama anaknya, Farizqi Mulya, tampak berjalan keliling menyalami hadirin satu per satu. Keduanya mewakili keluarga besar H Mashur yang menunaikan ibadah umrah, yakni istri, kedua anaknya, dan kedua besannya.
Acara usai, maka seratusan anggota Jamaah Musholla Al-Hidayah Gatsu, Jamaah Masjid Raya Baiturrohman Wanasari, dan sekitarnya yang hadir pun berpamitan dengan menyalami H Mashur selaku shohibul bait (tuan rumah) di depan rumahnya.
Saat bersalaman untuk berpamitan pulang itu, ada sebagian hadirin yang menitipkan sandal untuk dibawa ke Tanah Suci. Sandal itu menjadi simbol agar dirinya terpanggil untuk beribadah haji atau umrah. Namun tidak sedikit yang meminta didoakan dari Tanah Suci. “‘Inshaa-Allah,” kata H Mashur menjawab dengan tersenyum.
Begitulah semangat minoritas Muslim di Bali untuk menunaikan rukun Islam kelima (haji) atau umrah yang ditunjukkan dengan tradisi pelepasan sebagai ungkapan syukur dan doa. “Kalau acara seperti ini di Jawa sudah biasa, karena di sana memang mayoritas Muslim. Tapi kalau di Bali yang Muslimnya minoritas, tentu ini menjadi tradisi yang luar biasa,” kata anggota Jamaah Musholla Al-Hidayah Gatsu, Denpasar, Umar Alkhatab.
Diamankan Pecalang
Hal yang menarik, tradisi pelepasan jamaah umrah dari minoritas Muslim di Pulau Dewata itu justru diamankan pecalang (petugas keamanan adat) dari umat Hindu. Mereka berjaga di ujung barat dan timur dari Jalan Gatsu VI-L itu.
Selain itu, sejumlah tamu dari umat Hindu juga tampak hadir untuk “melepas” H Mashur sekeluarga yang merupakan tokoh masyarakat setempat. Oleh karena itu, Kelian Banjar Teruna Sari juga terlihat datang bersama istrinya.
“Sebagai wakil rakyat yang sering datang ke sini, saya tahu sendiri bahwa Banjar Teruna Sari merupakan contoh toleransi antarumat beragama yang baik di Bali,” kata Anggota DPRD Kota Denpasar Ketut Suteja Kumara ST.
Oleh karena itu, Anggota DPRD Denpasar yang kini mencalonkan diri sebagai legislator untuk ketiga kalinya itu pun sering mengajak teman-temannya untuk datang ke Banjar Teruna Sari. “Kalau mau melihat contoh yang terbaik untuk toleransi di Bali ya datang saja ke Banjar Teruna Sari. Warganya sangat harmonis antara Muslim, Hindu, dan Kristen,” kata dia di sela-sela berdialog dengan warga banjar setempat.
Politikus salah satu partai politik Denpasar itu, mencontohkan saat ibadah qurban (Idul Adha) di Musholla Al-Hidayah Gatsu, sejumlah pecalang beragama Hindu yang mengamankan prosesi pemotongan hewan kurban itu. “Saya pernah ke sini saat warga Muslim di sini mengangkat hewan kurban secara ramai-ramai untuk dipotong Haji Daldiri (Pembina Yayasan Musholla Al-Hidayah Gatsu, Red). Saya bertemu pecalang non-Muslim yang mengamankan prosesi ritual Muslim itu,” kata dia.
Sebaliknya, kalau Hari Suci Nyepi, maka tenaga pengamanannya adalah pecalang dari Muslim dan Kristen. “Begitu juga kalau Natal, maka pecalang beragama Hindu dan Muslim yang membantu pengamanan ritual ibadahnya,” kata legislator muda itu.
Jadi, kehidupan antarumat beragama di kawasan Banjar Teruna Sari Dauh Puri Kaja, Kota Denpasar, Bali itu, cukup harmonis. Bahkan juga diakui sangat harmonis, sehingga dapat menjadi contoh toleransi bagi daerah-daerah lain.
“Itu karena di sini tidak pernah terjadi ada penolakan warga beragama lain untuk tinggal di sini, seperti isu yang sering beredar dari mulut ke mulut tanpa fakta di pulau ini,” katanya.
Warga Banjar Teruna Sari Dauh Puri Kaja, Kota Denpasar terus menghidupi tradisi toleransi beragama yang elok itu. Dalam keberagaman, mereka hidup bersama, Mereka layak jadi teladan. 

Redaksi

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

eighteen − 10 =