Toshihiko Izutsu Pemikir Islam Dari Negeri Sakura

 Toshihiko Izutsu Pemikir Islam Dari Negeri Sakura
Digiqole ad

HIDAYATUNA.COM, Jakarta – Selama ini mungkin banyak yang mengira Jepang jauh dengan agama Islam. Tapi siapa sangka, jika ternyata negeri berjuluk negara sakura itu memiliki pemikir pemikir Islam yang menjadi salah satu rujukan dunia.

Salah satu pemikir Islam dari Jepang yang paling terkenal di dunia adalah Toshihiko Izutsu. Ia adalah seorang sarjana keislaman yang fasih berbahasa Arab baik dengan lisan maupun tulisan.

Ia adalah orang pertama yang berhasil menterjemahkan al-Qur’an ke dalam bahasa Jepang tahun 1957. Selain itu, Izutsu juga mampu mengkhatamkan al-Qur’an dalam waktu 1 bulan setelah mempelajari bahasa Arab.

Bisa dikatakan Izutsu adalah seorang sarjana yang jenius. Ia menguasai banyak bahasa dunia. Ia menguasai lebih dari 30 bahasa, termasuk bahasa Arab, Persia, Sansekerta, Pali, Cina, Rusia, dan Yunani.

Sebagai bukti dirinya adalah seorang pemikir Islam, Izutsu telah banyak melahirkan karya yang banyak menjadi rujukan sarjana modern di bidang Islam.

Sederet karya dia antara lain God and Man in the Qur’an: Semantics of Qur’anic Weltanschauung, Ethico-Religious Concepts in the Qur’an, dan The Concept of Belief in Islamic Theology. Ketiga buku ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Pengaruh Izutsu dapat dilihat dalam pandangan salah satu sarjana Muslim Asia Tenggara, Wan Mohammad Nor Wan Daud. Dengan merujuk kepada Izutsu, ia mempertimbangkan bahwa perbedaan mazhab hukum Islam dan teologi bersumber pada perbedaan metode dalam menafsirkan al-Quran dan Hadis.

Oleh karena itu, cara penafsir klasik menggunakan analisis gramatikal dan filologi dipandang tidak cukup karena tidak bisa mendapatkan penjelasan yang menyeluruh.

Biografi Singkat

Sebagai informasi, Izutsu lahir pada 4 Mei 1914 di Tokyo dan meninggal di Kamakura pada 7 Januari 1993. Ia menyelesaikan pendidikan tingkat perguruan tinggi di Universitas Keio Tokyo.

Di tempat inilah dia juga mengabdikan dirinya sebagai dosen dan mengembangkan karier sebagai seorang intelektual yang diakui di dunia. Beliau mengajar di sini dari tahun 1954 sampai dengan 1968 dan mendapatkan gelar Profesor Madya pada tahun 1950.

Redaksi

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

eighteen − 3 =