Wawasan Islam

Tips Mengatasi Pesantren yang Terpapar Wabah

HIDAYATUNA.COM, Jakarta – KH Alawy Ali Imron membagikan tips dalam mengatasi pesantren yang terpapar wabah seperti virus corona.

Putra dari ulama terkemuka di Lamongan ini mendapatkan tips mengatasi pesantren yang terpapar wabah berdasarkan pengalamannya.

“Ada sekitar 15 pesantren yang menjadi klaster penyebaran wabah ini,” ungkap Gus Awy , Selasa (15/9/2020).

Data itu ia dapatkan sekitar hampir 2 bulan lalu, saat diundang webinar bertema “Covid dan Penyikapannya di Lingkungan Pesantren. Saat itu KH. Abdul Ghoffar Rozin, Ketua RMI pusat memberikan data tersebut.

Sebulan kemudian, dirinya sempat membaca news line di salah satu channel TV. Terdapat rilis resmi dari RMI bahwa pesantren yang menjadi klaster meningkat sampai 25 pesantren.

“Ini semua terjadi setelah libur pulang Syawal. Sebelum Romadan, hanya ada 3 pesantren yang menjadi klaster,” jelasnya.

Untuk itu dirinya memberikan tips untuk seluruh pesantren agar siap dan waspada dengan virus corona. Ia mengingatkan agar pihak pesantren tidak terlalu yakin pesantren mereka akan aman dari wabah ini.

Oleh sebab itu, Gus Awu membagikan tips atau langkah khusus, jika ada pesantren terpapar wabah virus corona.

Jika Pesantren Terpapar Wabah

Gus Awy sapaan Alawy Ali Imron menyebut setidaknya ada 16 langkah yang harus dilakukan dalam mengatasi pesantren jika terpapar wabah.

Berikut ini langkah-langkah yang harus segera lakukan jika pesantren yang bersangkutan terpapar wabah virus corona.

Pertama, tidak perlu panik. Tidak perlu merasa malu, apalagi takut nama baik pesantren hancur. Jika terpapar wabah ini, sikapi dengan cara yang sudah dituntunkan syariat, yaitu karantina dan usaha penyembuhan.

Kedua, tidak perlu menutup-nutupi informasi. Apalagi membaik-baikannya, memanipulasi data kalau terjadi apa-apa. Tidak perlu mengumumkan ke sana kemari via sosmed. Biarkan semua berjalan alami saja.

Baca Juga :  Tarian Sufi Sebagai Ruang Ekspresi di Tengah Masyarakat Konservatif Afghanistan

Ketiga, segera berlakukan karantina pesantren. Semua santri di-lockdown, kecuali yang bertugas belanja kebutuhan dasar & penting saja

Keempat, usahakan jangan ambil sikap memulangkan santri. Itu justru dapat membahayakan wali santri. Sekaligus jadi andil penyebaran wabah di tengah masyarakat.

Kelima, segera pisahkan santri yang terlihat sehat dan santri yang sakit atau mengalami gejala.

Keenam, kosongkan sebagian ruangan atau komplek pesantren. Hal ini bisa dijadikan ruang isolasi.

Gus Awy menjelaskan, ruang isolasi minimal memiliki 4 kamar. Ini dapat digunakan bagi santri yang mengalami demam. Juga bagi santri pasca demam, ditunggu minimal 2 hari apakah mengalami anosmia (kehilangan indera pembau) atau tidak.

Kemudian ruang isolasi bagi santri yang anosmia. Segera pindahkan ke ruang tertentu dan lakukan penanganan khusus hingga pulih. Sementara itu ruang isolasi ke-4 bagi santri pasca anosmia sampai sembuh total. Minimal 14 hari karantina dilakukan.

Ketujuh, ruang isolasi jangan diberi kipas angin, apalagi AC. Tapi pastikan ventilasinya bagus. Sterilkan ruangan sehari sekali pada pukul 12. Paling tidak semprotkan wipol.

Kedelapan, agar tidak bosan dan psikologi tidak down yang berpengaruh pada imun, beri apa pun yang mereka minta, kecuali HP.

Kesembilan, maksimalkan perawatan sebaik-baiknya. Jika tim kesehatan pesantren memungkinkan untuk melakukannya. Minimal selalu sediakan vitamin C, vitamin E, air panas, wedang jahe merah dan degan. Hal ini dilakukan jika pesantren mengambil sikap tidak rapid atau swab test.

Kesepuluh, jika tidak sanggup, hubungi tenaga kesehatan atau gugus tugas terdekat.

Kesebelas, jemur santri di seluruh ruang isolasi setiap jam 12, minimal 20 menit.

Kedua belas, guru-guru usia 40 tahun ke atas dan yang punya penyakit bawaan, serta masyayikh yang sepuh untuk sementara waktu (minimal 14 hari) tidak kontak dengan seluruh santri, meski yang “terlihat” sehat. Pengajian disarankan untuk libur.

Baca Juga :  Mengenal Sanad Keilmuan Abuya Dimyathi Cidahu di Bidang Ilmu Qira’at

Ketiga belas, santri yang “terlihat” sehat tetap melakukan kegiatan seperti biasa, tak perlu panik dan jangan mendekat ruang isolasi. Untuk menjaga kebugaran, minum wedang jahe-gula merah panas setiap hari.

Keempat belas, tutup seluruh kunjungan dari luar. Jika ada wali santri yang terpaksa berkunjung, seperlunya saja dan langsung pulang.

Kelima belas, terapkan protokol kesehatan seketat-ketatnya untuk santri yang “terlihat” sehat.

Keenam belas, karena umumnya santri itu berusia muda, biasanya gejala wabah tidak semuanya ada. Khususnya sesak nafas dan pneumonia. Paling banter yang dialami adalah anosmia.

Gus Awy juga mengingatkan agar tidak pernah meremehkan wabah virus corona. Kini wabah sedang mengamuk luar biasa, sementara kebanyakan orang sedang abai-abainya dan tak lagi percaya. “Ingat, sekali kena dan kamu tidak punya imun yang bagus, maka pastikan babak belur dan remuk seremuk-remuknya,” tandasnya. (Hidayatuna/MK)

Tags

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close