Kabar UnggulanSantripreneur

Tips Hidup Sejahtera Dunia dan Akhirat

HIDAYATUNA.COM – Sejahtera adalah idaman dari semua manusia yang hanya bisa direalisasikan dengan bekerja. Sedangkan bekerja atau mencari penghasilan bukan hanya sekedar perkara punya uang atau tidak punya uang, atau bukan urusan duniawi semata. Bekerja adalah perintah Allah Swt yang sangat terkait dengan urusan akhirat.

Bekerja (urusan duniawi) sangat bisa menjadi perantara urusan akhirat, karena dunia adalah mazro’ah al-akhirah (ladang menuju akhirat). Maka tidak salah jika ada seorang pemuda yang bercita-cita mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya agar ketika tubuh sudah renta, dia tidak lagi sibuk dengan urusan harta, hari-harinya fokus ibadah semata, karena semuanya sudah dipersiapkan sejak muda.

Pertanyaannya, bagaimana dia bisa menjaga ibadahnya ketika proses pengumpulan harta?. Bagaimana jika umur tidak sampai tua, apakah sia-sia yang dicitakannya?. Sebab itu perlu keseimbangan antara dunia dan akhirat dalam proses menuju sejahtera.

Terkait keseimbangan antara dunia dan akhirat, Imam Ghazali dalam kitab Ihya’ Ulumuddin membagi manusia menjadi tiga kriteria: Pertama, orang yang sibuk dengan urusan dunianya sehingga lupa urusan akhiratnya. Ia termasuk golongan orang-orang yang celaka. Kedua, orang yang sibuk dengan urusan akhiratnya sehingga lupa urusan dunianya. Ia termasuk golongan orang-rang yang beruntung.

Ketiga, orang yang menjadikan urusan dunianya untuk urusan akhiratnya. Ia berada diantara dua golongan sebelumnya, yang berarti bisa beruntung atau celaka. Maka dari itu dalam proses menggapai sejahtera jangan sampai terjerumus terhadap cara-cara yang bertentangan dengan nilai-nilai atau norma yang ada.

Pada prinsipnya untuk menggapai sejahtera dunia dan akhirat perlu ditanamkan mainset yang tepat, komitmen yang kuat, serta konsistensi yang hebat. Mainset yang tepat dalam konteks sejahtera berarti selalu membiasakan pola pikir entrepreneur. Hal itu bisa dibangun melalui seorang guru, buku serta apapun media pembelajaran yang bisa membentuknya.

Baca Juga :  Ini Jenis Daging yang Digemari Rasulullah

Setelah menemukan mainset yang tepat kemudian menguatkan tekad (komitmen) untuk melakukannya secara terus menerus (konsisten). Jika sudah terbentuk mainset yang tepat, apapun tips atau rencana yang disusun untuk menuju kesejahteraan pasti akan mudah untuk dilaksanakan.

Setidaknya ada 2 (dua) tips umum dan sederhana yang sudah banyak orang mengetahuinya namun enggan untuk melakukannya:

  1. Mencari penghasilan berkah.

Memang sumber penghasilan sangatlah luas. Cara untuk mendapatkannya pun pun beraneka ragam. Tugas kita adalah memilah serta memilih mana yang bisa membawa keberkahan bagi kita. Yaitu proses mencari penghasilan dengan cara yang halal dan baik. Sebagaimana firman Allah Swt dalam surat al-Baqarah ayat 127 : ”Hai orang-orang yang beriman, makanlah diantara rezeki yang baik-baik yang kami berikan kepada kalian”.

Adapun ciri-ciri pekerjaan yang membawa keberkahan diantaranya adalah: pertama, membuat seseorang semakin dekat kepada Allah Swt. Pekerjaannya tidak menjadikannya lalai terhadap segala perintah-Nya. Kedua, dapat memberi kenyamanan, sehingga produktifitas pun terjaga. Ketiga, meningkatkan rasa syukur kepada Allah Swt. Tidak membuat seseorang semakin serakah.

Keempat, menambah harmonis rumah tangga. Karena tujuan utama bekerja adalah untuk keberlangsungan hidup berumah tangga. Percuma jika penghasilan melimpah namun rumah tangga pecah. Kelima, menjadi jalan berbuat baik untuk sesama. Artinya mampu memberi kemanfaatan terhadap lingkungan sekitarnya.

  • Berinvestasi

Berinvestasi berarti menunda kemanfaatan harta yang kita miliki untuk dikelola dan dikembangkan. Dalam hal ini Alquran telah mengajarkan kepada kita melalui cerita Nabi Yusuf As. Beliau pernah memerintahkan rakyat Mesir untuk bercocok tanam seperti biasa selama tujuh tahun, namun tidak boleh memakan hasil panen tersebut secara keseluruhan, sebagian harus disimpan untuk kepentingan masa yang akan datang. Hal tersebut mengajarkan kepada kita agar tidak mengkonsumsi semua kekayaan yang kita dapatkan, melainkan untuk kita kelola serta kembangkan sebagian untuk kepentingan masa depan. Semakin dini kita men set-up masa depan kita, semakin cepat pula kita bebas dari beban-beban duniawi.

Baca Juga :  Santri Diminta Harus Berani Tampil di Media Sosial

Langkah pertama yang perlu dilakukan dalam berinvestasi adalah memeriksa kondisi keuangan kita. Apakah punya tanggungan hutang?, apakah pengeluaran lebih besar daripada penghasilan?, dan sebagainya. Setelah keluar hasil pemeriksaan keuangan selanjutnya membuat goal keuangan yang ingin dicapai. Dan goal harus membumi atau bisa diperhitungkan, tidak mengambang jauh ke awan.

Misal kita ingin pensiun kerja dan fokus ibadah diusia 40 tahun (asumsi pada tahun 2020 berumur 25 tahun), sedangkan perkiraan biaya hidup kita nanti 15 juta/bulan, maka goal nya juga harus relevan sesuai dengan instrumen investasi pilihan kita. Misal kita pilih investasi di kos-kosan dimana setiap pintu menghasilkan sewa 500rb per bulan, maka goal nya “mempunyai kos-kosan 30 pintu pada tahun 2035”. Atau misal kita memilih instrumen investasi perkebunan durian, dimana setiap pohonnya menghasilkan uang 1 juta/tahun, maka goal nya adalah “memiliki 180 pohon durian siap panen pada tahun 2035” (asumsi 180 x 1 juta : 12 bulan = 15 juta/bulan).

Setelah goal terbentuk selanjutnya mengobati dulu penyakit keuangan kita. Kita bayar semua hutang-hutang kita, kita seimbangkan pengeluaran dan penghasilan kita dengan cara mengelola pengeluaran seminim-minimnya dan menambah penghasilan sebesar-besarnya.

Setelah kondisi keuangan kita sehat dan tidak punya hutang lagi maka tetap pada aturan awal (mengelola pengeluaran seminim-minimnya dan menambah penghasilan sebesar-besarnya), serta mulai menyisihkan uang untuk investasi, bisa 10%, 20%, 50% atau bahkan 90 % dari penghasilan kita, tergantung kondisi keuangan dan kesiapan mental kita hidup sederhana. Tentunya semakin besar presentase yang kita sisihkan semakin cepat pula kita mencapai goal yang kita inginkan.

Setelah kita mencapai goal yang kita inginkan maka kita tidak perlu lagi mencari penghasilan dengan cara-cara yang mungkin menguras tenaga dan pikiran kita dalam beribadah saat usia sudah menua. Setelah goal dunia tercapai selanjutnya kita bisa membuat goal-goal akhirat, bisa sehari khatam 30 juz, wirid shalawat sehari 10 ribu kali, dan seterusnya, tanpa terganggu masalah harta. Karena harta adalah sumber dari segala malapetaka.

Baca Juga :  Israel Blokir Ekspor Hasil Pertanian dari Palestina

Meski ada yang bilang kekayaan adalah sumber dari segala kemaksiatan tapi pada kenyatannya kemiskinan lah sumber dari segala kemaksiatan. Belum ada cerita orang miskin yang hidupnya tidak tergantung orang lain. Bahkan jika tidak ada yang bisa dijadikan gantungan hidup, si miskin akan melakukan berbagai cara yang tentu sangat riskan terhadap keimanannya, seperti hal nya meminta-minta. Untuk itulah harta bisa menjadi benteng keimanan kita.

Begitulah tips sederhana agar kita sejahtera dunia dan akhirat. Tentunya sejahtera dalam arti yang sebenarnya, bukan bersifat materialistik semata. Yaitu terpenuhinya kebutuhan material-spiritual, terpeliharanya kehidupan moral, serta terwujudnya keharmonisan sosial.

Memang mudah dibayangkan namun susah dilakukan. Semua tergantung niat, jika kita mau sementara hidup susah dengan mencari jalan yang berkah, insyaallah kelak akan mendapat rezeki yang melimpah ruah, bisa untuk berkunjung ke Mekah dan Madinah, dan tentunya bisa semakin menambah semangat ibadah.


Heri Kurniawan
(Entrepreneur Muda)

Tags

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close