Tidak Bersyukur Melepaskan Nikmat, Bersyukur Mengikat Nikmat

 Tidak Bersyukur Melepaskan Nikmat, Bersyukur Mengikat Nikmat

Tidak Bersyukur Melepaskan Nikmat, Bersyukur Mengikat Nikmat

Oleh: Prof. H. Ahmad Thib Raya

HIDAYATUNA.COM – Kali ini Ibn Atha’illah Al-Iskadari menyampaikan kalimat hikmah tentang mensyukuri nikmat. Dia berkata: “Siapa yang tidak mensyukuri nikmat, berarti dia telah melepaskan nikmat itu. Siapa yang mensyukuri nikmat, berarti dia telah mengikat nikmat itu dengan tali yang kuat.” Alangkah indah kalimat hikmah yang disampaikan oleh Ibnu Atha’illah, dalam pesan hikmahnya yang ke-66 itu, yang tertuang di dalam bukunya, Terjemah al-Hikam, hal. 93.

Nikmat adalah segala sesuatu yang menyenangkan hati, baik yang bersifat material, seperti mendapat keuntungan maupun yang bersifat immaterial, seperti kesehatan, ketenangan hidup, dan ketenteraman. Adapun musibah adalah sesuatu yang tidak menyenangkan hati. Nikmat yang diberikan oleh Allah kepada seluruh umat manusia itu begitu banyak jumlahnya, tidak terhitung banyaknya. Walau Anda memiliki alat yang paling canggih dan modern yang akan digunakan untuk menghitung nikmat-nikmat itu, maka alat tidak akan sanggup menghitungnya. Nikmat yang diberikan oleh Allah kepada umat manusia di atas dunia ini tidak pernah habis, walau pun makhluk yang ada di bumi yang ada di langit menggunakannya.

Kita mungkin tidak merasakan atau tidak tahu bahwa nikmat Allah itu ada di mana-mana. Paling tidak tempat nikmat dapat dibagi atas dua tempat, yaitu 1) nikmat yang ada di dalam diri kita, dan 2) nikmat yang di luar diri kita.  Nikmat yang ada di dalam diri kita maupun  nikmat yang ada di luar diri kita tidak terhitung banyaknya. Semua anggota badan kita, seperti kepala, mata, telinga, mulut, tangan kaki, dll. adalah nikmat Allah yang menyenangkan kita. Kesehatan, kekuatan, keamanan, dan ketenteraman juga nikmat yang diberikan Allah. Nikmat-nikmat yang ada di luar diri kita banyak sekali, seperti nikmat udara yang sejuk, nikmat cuaca dan suasana yang menyenangkan kita, nikmat dari benda-benda yang kita manfaatkan untuk kebutuhan hidu kita, dan nikmat-nikmat yang lainnya.

Semua nikmat itu harus kita syukuri dengan memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya untuk kebaikan dan kemaslahatan dan untuk beribadah kepada Allah. Tangan adalah suatu nikmat. Gunakan tangan itu untuk kebaikan dan kemaslahatan, jangan digunakan untuk melakukan kejahatan, perbuatan buruk. Kaki adalah salah satu nikmat Allah yang ada di badan kita. Manfaat kaki untuk berjalan menuju tempat yang baik, untuk hal-hal yang maslahat, untuk tujuan ibadah kepada Allah. Nabi pernah berkata: “Barangsiapa yang berjalan kaki ke masjid untuk melaksanakan ibadah, maka setiap langkahnya akan diberikan dua kebaikan, yaitu kebaikan dalam bentuk satu pahala, dan kebaikan dalam pengampunan satu dosa.” Dengan mensyukuri nikmat itu Allah akan menambahkan nikmat dan keberkatan. Jika nikmat itu tidak disyukuri, maka Allah akan memberikan sesuatu yang tidak menyenangkanmu. Syukurilah nikmat yang kamu terima agar Allah menambahkannya. Jangan kafir (tidak bersyukur) terhadap nikmat itu karena hal itu akan menghilangkan nikmat lain yang ada padamu.

Dari sinilah Ibn Atha’illah al-Iskandari berkata bahwa seseorang tidak mensyukuri nikmat-nikmat yang dianugerahkan Allah itu, maka sebenarnya dia telah melepaskan nikmat itu dari dirinya, dan buknat itu tidak akan kembali kepadanya. Jika seseorang mensyukuri nikmat Allah itu, maka dia telah menahan atau mengikat nikmat itu sekuat-kuatnya, dan ini akan mendatangkan nikmat yang lain yang lebih baik atau lebih besar lagi daripada itu.


Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Redaksi

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

4 × 4 =