The Grand Old Man of Indonesia, H Agus Salim

 The Grand Old Man of Indonesia, H Agus Salim
Digiqole ad

HIDAYATUNA.COM – H Agus Salim, seperti diungkap oleh Bung Karno, adalah seorang ulama dan intelek. Bung Hatta menyebutnya seoorang jenius, yang mendapatkan pikiran yang penting secara tiba-tiba dan mudah saja mengeluarkannya, sehingga penghhargaan yang tepat bagi dia, kata Hatta, adalah julukan “Indonesia’s Grand Old Man”. Seperti dikatakan Mohammad Roem, kawan akrab sekaligus “anak didik” Haji Agus Salim, “sejak sebelum kemerdekaan, pada tahun 1926 pemikiran Agus Salim sudah melampaui batas-batas Indonesia.”

Kehadiran H Agus Salim senantiasa disambut hangat oleh anggota Jong Islamieten Bond, ini dikarenakan beliau adalah seorang penasihat yang memberi kursus agama Islam yang sangat menarik. Di lingkungan JIB sendiir, Salim mendapat panggilan kehormatan Ouwee Heer, Orang Tua. Salim memang mempunyai banyak murid dan pengikut yang belajar di sekolah-sekolah Belanda, termasuk anggota dan pengurus JIB, seperti Mohammad Natsir, Prawoto Mangkusasmito, Kasman Singodimedjo dan masih banyak lainnya. Seperti yang diketahui bahwa banyak anggota JIB yang menjadi pemimpin umat Islam di bidang politik sesudah merdeka.

H Agus Salim dilahirkan di kota Gedang, Bukittinggi pada 8 Oktober 1884. Ayahnya adalah Sutan Muhammad Salim yang memberinya nama Masyudul Haq saat ia lahir. Nama ini diambil sang ayah dari tokoh utama sebuah buku yang sedang dibacanya. Dengan nama itu dia berharap anaknya kelak menjadi tokoh pembela kebenaran sesuai dengan arti namanya.

Ketika masih bayi, H Agus Salim diasuh oleh pembantunya yang berasal dari Jawa, yang biasa memanggil anak majikannya dengan sebutan “Den Bagus atau Gus” saja. Panggilan kesayangan ini kemudian diikuti oleh keluarga dan lingkungan yang lebih luas dan juga teman-teman disekolahnya dan juga guru-guru Belandanya. Lalu terciptalah nama “August”. Tambahan Salim dibelakang namanya diambil dari nama ayahnya.

Muhammad Salim berasal dari keluarga bangsawan dan sekaligus kalangan agama. Dia diangkat oleh Pemerintah belanda menjadi hoofdjaksa pada landraad di Riau en Onderhorigheden  atau jaksa tinggi pada Pengadilan Tinggi Riau dan daerah bawahannya. Bagi bumiputra atau orang Indonesia kedudukan hoofdjaksa waktu itu termasuk tinggi dan sangat terhormat. Berkat kedudukan sang ayah, H Agus Salim diterima di Europeese Lagere School (ELS), yang hanya menerima anak-anak keturunan Eropa.

H Agus Salim yang memiliki kecerdasan diatas rata-rata, termasuk dalam pelajaran bahasa Belanda, rupanya menarik perhatian kepala sekolah. Kepala sekolah pun meminta Muhammad Salim untuk membiarkan anaknya tinggal bersamanya untuk dibimbing lansung. Meskipun tawaran ini menarik, Sutan Salim tak sepenuhnya bisa memenuhi keinginan Belanda itu. Dia membolehkan anaknya tinggal pada keluarga Belanda itu sepulang dari sekolah sampai habis makan malam, setelah itu Agus harus pulang dan tinggal di rumah orang tuanya. Dengan begitu Sutan Salim tetap bisa mengawasi pertumbuhan sang anak, sementara itu Agus sendiri cukup mendapat bimbingan terutama bahasa belanda dan mendapat makanna Belanda.

Setelah tamat ELS, H Agus Salim meneruskan pelajarannya di Hogere Burgerschool (HBS) di Jakarta. Agus Salim menyelesaikan studinya di HBS pada 1898 dengan menyandang predikat sebagai juara pertama tak hanya di HBS temaptnya bersekolah, namun juga diseluruh HBS Hindia-Belanda. Agus salim menaruh minat di bidang kedokteran dan ingin melanjutkan pendidikannnya di negeri Belanda.

Melanjutkan sekolah di negeri Belanda membutuhkan biaya yang besar, sedangkan orang tuanya tidak mampu menanggung biaya yang amat mahal tersebut. Merasa sayang jika tak melanjutkan ke perguruan tinggi, guru-gurunya di sekolah HBS kemudian menyarankan Muhammad Salim agar mengajukan beasiswa kepada pemerintah Hindia Belanda. Permohonan pun ditolak, tak ada beasiswa bagi bumiputera atawa Inlander. Atas nasihat Gubernur Jendral, ayahnya mengajukan permohonan persamaan bagi anaknya agar statusnya disamakan dengan orang-orang Eropa dengan harapan terbukanya jalan beasiswa bagi anaknya.

Permohonan persamaan status di ajukan pada 1904, namun baru setahun kemudian datang jawaban yang isinya meloloskan permohonan bagi Jacob Salim dan Agus Salim untuk mendapatkan persamaan status. Jacob dan Agus Salim merupakan orang-orang non kristen pertama yang diluluskan permohonannya untuk persamaan status.

Sementara itu, H Agus Salim mendapat tawaran untuk bekerja di Konsulat Belanda di jeddah. Ibunya Siti Zainab, yang telah lama merasakan kecemasan mengenai keadaan anaknya yang tidak begitu tekun lagi menjalankan agama, sangat tertarik dan mendorong Agus Salim menerima tawaran itu, apalagi di Mekkah ada Syekh Ahmad Khatib yang merupakan paman Agus. 

Persoalan melanjutkan studi atau menerima tawaran bekerja di jeddah ini sempat menimbulkan ketegangan antara Agus dan kedua orang tuanya. Dikabarkan sering sekali terjadi pertengkaran di rumah Agus, sehingga makan bersama tak lagi diliputi ketenangan. Sutan Salim dan Agus sama-sama bersikap keras. Ibunya pun kemudian diliputi kesedihan hingga jatuh sakit, dan tak lama kemudian meninggal dunia. Agus Salim menyatakan “Akhirnya untuk menghormati pesan Ibu, aku merasa harus menerima tawaran bekerja di jeddah dengan kedudukan sebagai ahli penerjemah dan mengurus jemaah Haji Indonesia”.

Pada tahun 1906, tepatnya pada usia 22 tahun, sampailah H Agus Salim di Jeddah. Ia menjabat sebagai dragoman atau ahli penerjemah di konsulat Belanda. Juga, untuk mengurus soal jamaah Haji asal Indonesia di negara tersebut. Kenangan khusus mengenai soal haji, menurut Agus Salim sendiri adalah ia lebih memilih untuk berpihak kepada jemaah haji dari Indonesia daripada berpihak kepada konsulat Belanda jika terjadi berbagai permasalahan.

Selama lima tahun menetap di Jeddah, H Agus Salim belajar bahasa Arab dan mengenal ajaran Islam secara mendalam seperti yang diharapkan oleh ibunya. Salah satu gurunya adalah Syekh Ahmad khatib, ulama pembaru yang berasal dari Kota Gedang, yang merupakan pamannya yang sejak 1876 sudah menetap di Mekkah. Dia mencapai kedudukan tinggi dalam mengajarkan agama, yaitu sebagai imam dari madhab Syafi’i di Masjidil Haram. Diantara murid-muridnya adalah K.H Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah dan K.H Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdatul Ulama. Selama lima tahun beradadi Jeddah, lima kali pula Agus Salim melaksanakan ibadah Haji, ia mengatakan bahwa di masa-masa sebelumnya, keislamannya hanyalah berupa bawaan kebangsaan namun setelah lima kali naik Haji, bertambah sikapnya terhadap agama dan ia mengakui keberadaan Allah dan agama Allah.

Agus pulang ke tanah air pada tahun 1911, ia kemudian bekerja di Departemen Pekerjaan Umum (1911-1912) dan kemudian kembali ke kampung halamannya di Minangkabau untuk mendirikan sebuah sekolah dasar (HIS), sampai 1915. Pada tahun 1912 ia menikah dengan gadis sekampungnya yang bernama Zainatun Nahar binti Engku Almatsier. Dari pernikahannya ini ia dikaruniai sepuluh anak, dua diantaranya meninggal dunia ketika masih bayi. Agus Salim bergabung dengan Sarekat Islam dan menjjadi anggota dari satu organisasi ke organisasi lain, seperti Teosofi, NIVB (Naderlands Indische Vrijzinningen Bond) dan Indische Social Democratische Partij (ISDP).

Pengetahuan Haji Agus Salim tentang Islam sungguh sangat luas dan mendalam. Meski begitu, seperti dikatakan Deliar Noer, dia mungkin tidak akan tergolong pembaru atau mungkin hanya menjadi penonton saja  jika tidak menjadi anggota Sarekat Islam, hanya setelah menjadi anggota Organisasi ini, pemikiran modernnya dikenal dan Sarekat Islam memperoleh cap Islamnya dengan jelas.

Pada 1915, Haji Agus Sakim bergabung dengan Sarekat Islam. Awal perkenalannya dengan partai yang dipimpin oleh H.O.S Tjokroaminoto ini adalah ketika dia dikirim oleh polisi Belanda untuk mengamati kongres dan kegiatan SI di Surabaya sebagai intel. Tetapi setelah berdiskusi dengan Tjokro dan mendalami lebih jauh tentang seluk beluk SI, dia pun tertarik menjadi anggota.

Setelah menjadi anggota Sarekat Islam, Agus Salim menjadi pimpinan organisasi ini disamping Tjokroaminoto. Seperti diketahui, pada awalnya Sarekat Islam adalah satu-satunya pergerakan rakyat yang berpolitik, sampai Tjokroaminoto meninggal dunia pada 1934. pada 1921 Agus Salim menjadi anggota Volksraad atau Dewan Rakyat, menggantikan Tjokroaminoto. Selama menjadi anggota ini, Agus dikenal sebagai pembicara ulung dalam bahasa Belanda, ahli debat yang lincah dan tajam dalam kritik. Tak jarang pula ia menjadikan lawannya sasaran tertawaan. Maka tidak heran bila tak ada yang berani berdebat dengannya.

Di tahun 1923, Agus Salim keluar dari Dewan Rakyat yang dinilainya tidak lebih dari “komidi ngomong”. Agus Salim kemudian memunculkan kekecewaan partaiya terhadap pemerintah dengan menggunakan bahasa Indonesia untuk pertama kalinya dalam sidang-sidang dewan ini. Sarekat Islam pun kemudian resmi menempuh politik yang dinamakan “non-kooperasi”, yang juga dianjurkan oleh Perhimpunan Nasional Indonesia yang didirikan Soekarno pada 1927 yang juga menempuh jalur “non-kooperasi”.

Sepeninggal Tjokroaminoto, Agus Salim menjabat sebagai pimpinan Dewan Partai, sedangkan Lajnah Tanfidziyah dipegang oleh Abikusno Tjokroaminoto, yang tak lain adalah adik dari H.O.S Tjokroaminoto. Perpecahan mulai terjadi ketika Abikusno bertengkar dengan Agus Salim yang mengakibatkan pemecataan terhadap Agus Salim dan beberapa temannya dai Barisan Penyadar seperti Roem dan Sangaji.

Menginjak tahun 1936, Agus Salim seolah menyingkir dari kegiatan politik, karena merasa tak nyaman menghadapi berbagai pertikaian di antara pemimpin partai. Kegiatannya disalurkan dengan memberikan ceramah melalui radio NIROM dan PPRK hingga masa dimana Jepang masuk ke Indonesia. Pada zaman pendudukan Dai Nippon ini, ia bekerja sebagai penasihat di sebuah kantor Jepang, untuk membantu menemukan istilah yang tepat dalam Bahasa Indonesia bagi buku-buku yang diterjemahkan dari bahasa Jepang.

Menjelang proklamasi kemerdekaan, Agus Salim menjadi Badan Penyelidik Usaha kerja Untuk Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), yang beranggotakan 62 orang dan dipimpin oleh Dr. Radjiman Wediodiningrat. Dia juga menjadi anggota panitia kecil yang dibentuk Badan Penyelidik, yag terdiri dari sembilan orang dan diketuai Soekarno, yang kemudian menghasilkan apa yang dinamakan Piagam Jakarta atau The Jakarta Charter. Bersama Husein Djajadiningrat dan Supomo, Agus Salim juga mendapat tugas melakukan perbaikan redaksional terhadap rancangan UUD 1945.

Sesudah proklamasi, Haji Agus Salim beberapa kali duduk dalam kabinet, ia pernah menjabat sebagai Mneteri Muda Luar Negeri pada kabinet Sjahrir II (1946) dan pada kabinet Sjahrir III (1947), Menteri Luar Negeri pada Kabinet Amir Sjafruddin (1974) dan pada kabinet Hatta (1948-1949). Agus Salim juga pernah diasingkan oleh Belanda bersama Presiden Soekarno dan Sjahrir ke Brastagi dan kemudian dipindahkan ke Prapat menyusul pendudukan Yogyakarta oleh Belanda pda 20 Desember 1948.

Mereka kemudian dipindahkan ke Bangka dan dikumpulkan bersama Hatta dan kawan-kawan lainnya sebelum akhirnya kembali ke Yogyakarta waktu pemerintahan RI dipulihkan pada 6 Juli 1949. Karena usianya yang sudah lanjut, ia tak lagi menjabat sebagai menteri pada 1950, namun tenaganya masih diperlukan sebagai penasihat ahli Menteri luar Negeri. Pada 1953, Agus Salim berangkat ke Amerika Serikat atas undangan Cornell University, untuk memberikan serangkaian kuliah mengenai gerakan Islam di Indonesia. Pada tahun yang ia kembali ke tanah air dan Salim mulai tampak sakit-sakitan.

Semasa hidupnya, Agus Salim adalah orang yang sanagt pandai, terutama dalam bidang bahasa, ia mampu berbicara dan menulis dengan sempurna setidaknya sembilan bahasa. Hanya ada satu kelemahannya, yaitu hidup melarat. Menjadi Menteri pada beberaoa kabinet tidak menjadikan Haji Agus Salim hidup mewah, ini dikarenakan Haji Agus Salim tidak pernah memikirkan soal rumah mewah dan megah layaknya pejabat sekarang. Dulu setiap enam bulan sekali, ia mempunyai kebiasaan untuk menukar letak meja, kursi dan perabot lain di rumahnya, ia juga terkadang menukar kamar tidur dengan ruang makan. ia berpendapat bahwa berbuat demikian, maka ia dapt mengubah suasana yang diperlukan tanpa harus pergi ke villa atau pindah rumah.

Haji Agus Salim sebagai salah satu pendiri republik ini, betul-betul menerapkan istilah yang disampaikan kasman Singodimedjo saat bertamu kerumahnya, Leaden is Lijden, memimpin itu menderita. Artinya, memimpin itu tidak untuk foya-foya. Pada ulang tahunnya yang ke-70, sahabat dan murid-muridnya mempersembahkan buku Djejak Langkah Hadji Agus Salim, yang berisi karangannya dari waktu ke waktu. Agus Salim kemudian tutup usia pada 4 November 1954 di kediamannya di Jalan Gereja Theresia, Jakarta Pusat. 

Redaksi

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

two − one =