Tersingkapnya “Wali Mastur atau Khumul” Melalui Kemarau Panjang

 Tersingkapnya “Wali Mastur atau Khumul” Melalui Kemarau Panjang

Kiai-kiai NU (Ilustrasi/Hidayatuna)

Digiqole ad

HIDAYATUNA.COM – Tahun 1070 H, Dimasyq terjadi kemarau panjang. Masyarakat Dimasyq sudah melaksanakan istisqa berkali-kali, namun hujan tak kunjung datang.

Saat itu, Wali yang hendak saya kisahkan ini pun juga berdoa istisqa sendiri, belum ikut masyarakat karena tawadhu (menutup diri). Melalui Wali majzub, Allah mengilhamkan bahwa jika kalian menginginkan hujan maka hendaklah beristisqa dengan keturunan Sayyidina Abbâs -Radhiyallâhu ‘anhu-.

Setelah itu, penguasa Syam menunjuk Sayyid Muhammad bin Umar al-Abbâsi al-Kholwati al-Dimasyqi al-Shâlihi untuk memimpin salat istisqa bersama-sama masyarakat. Dengan sangat sungkan, beliau pun bersedia.

Beliau lalu berdoa: Ya Allâh! Mereka ini adalah hamba-hambaMu. Mereka telah berbaiksangka padaku, karenanya janganlah Engkau singkap (aib)ku diantara mereka. Berikanlah hujan karena kebinasaan mereka.

Masyarakat pun pulang ke rumah masing-masing, namun dengan kesulitan, karena pasca doa itu, hujan turun dengan deras dan terus-menerus hujan selama tiga hari.

Setelah itu, masyhurlah nama beliau dan beliau tak mampu lagi menutupi “kewalian” beliau.

Redaksi

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

9 + 2 =