Khutbah

Termasuk Orang yang Bersyukurkah Kita?

إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُ, الدَّاعِيْ إِلىَ الصِّرَاطِ الْمُسْتَقِيْمِ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَبَارِكْ عَلى نَبِيِّنَا مُحمَّدٍ وَعَلى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإحْسَانِ إِلى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَا بَعْدُ: فَياَ عِبَادَ اللهِ. أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَقُوْنَ. إِتَقُوا اللهِ حَقَ تُقَاتِهِ وَلاَتَموْتُنَ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِى كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ, أَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ, إِنَّ اللَّهَ لَذُو فَضْلٍ عَلَى النَّاسِ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَشْكُرُونَ

 Ma’asyirol muslimin, rohimakumulluh

Jamaah Sidang Jumat yang dirahmati oleh Allah. Kebanyakan dari manusia tidak bersyukur kepada Allah. Setidaknya ada lima ayat Al-Quran yang menyatakan demikian, yaitu Al-Baqarah ayat 243 Yunus ayat 60, Yusuf 38, dan Al-Mu’min 61 dan An-Naml 73:

إِنَّ اللَّهَ لَذُو فَضْلٍ عَلَى النَّاسِ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَشْكُرُونَ

Sesungguhnya Allah benar-benar mempunyai karunia yang dilimpahkan atas manusia, akan tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur, ” (QS. Al-Mu’min 61)

Ada tiga situasi di mana orang merasa berada dalam kesulitan/kekurangan, dan gara-gara kesulitan-kesulitan itu, orang tersebut enggan bersyukur. Pertama, kesulitan sebagai akibat dari kemalasannya. Orang seperti ini pada dasarnya telah menzalimi diri sendiri dengan cara menghalangi dirinya dari rezeki Allah. Jika dia sampai enggan bersyukur, itu namanya tak tahu diri. Sudah malas, kemudian saat rezeki seret, dia malah menyalahkan Allah dan menyebut dirinya sebagai orang yang disia-siakan oleh Allah.

Ada juga manusia yang memang mendapatkan kezaliman dari pihak lain (manusia ataupun alam) sehingga ia terhempas ke dalam penderitaan. Misalnya dia terkena musibah bencana. Jika kita sedang berada dalam situasi seperti ini, kitajuga tetap tidak boleh menyalahkan Allah. Kita harus ingat bahwa segala macam musibah bagi orang mukmin yang sabar berarti bergugurannya dosa-dosa, dan ini berartijaminan masuk surga. Seberat apa pun penderitaan di dunia ini tentu saja tidak ada artinyajika dibandingkan dengan kenikmatan surgawi yang sempurna, hakiki, dan abadi.

Baca Juga :  Mengatasi Narkoba dan Khamr'

Tapi, kebanyakan manusia sebenarnya tidak berada dalam dua situasi di atas. Kebanyakan manusia cukup rajin bekerja karena bekerja adalah salah satu sifat naluriah manusia. Orang umumnya merasa tidak nyaman dalam siłuasi menganggur. Situasi kedua juga bukan hal yang terjadi pada kehidupan sehari-hari semua manusia. Sangat sedikit manusia sepanjang hidupnya dizalimi orang lain atau terus-menerus ditimpa bencana.

Yang sering terjadi adalah situasi ketiga, yaitu, orang merasa berada dałam situasi sangat sulit, padahal sebenarnya tidak sama sekali. Kebanyakan manusia gagal melihat berbagai macam kenikmatan melimpah ruah Yang Allah anugerahkan kepadanya. Kebanyakan manusia adalah kufur (menutup-tutupi) nikmat, dan artinya tidak bersyukur.

Orang yang gagal bersyukur bisa dipastikan bukan orang yang berbahagia ia selalu bersedih, khawatir, dan tertekan. Makin gagal bersyukur, ia akan makin tidak bahagia. Puncaknya, ia akan memiliki jiwa yang labil. Kalau pada saat hidupnya berkecukupan saja ia banyak berkeluh kesah, apalagi jika ia ditimpa musibah. Sedikit saja ada masalah Yang menimpanya, ia akan merasa sudah terjerembab ke dałam kubangan lumpur penderitaan. la merasa hidupnya sia-sia.

Ketidakmampuan bersyukur juga menjadi indikasi keimanan sangat rendah (atau malah tidak punya keimanan) kepada sifat Maha Pengasih Allah. Seorang yang beriman kepada Allah beserta segala sifat baik-Nya tidak mungkin tidak bersyukur, dałam situasi apa pun.

Jika ia didera penyakit mahaberat dan tak sembuh-sembuh, ia yakin bahwa rasa sakitnya itu malah menjadi sebab bergugurannya dosa-dosa. Penyakit yang dideritanya malah menjadi jalan untuk meraih kemuliaan di sisi Allah. Jika ia terlilit urusan ekonomi yang pelik, ia akan terus berusaha karena ia sangat yakin bahwa Allah tidak mungkin memberikan beban yang tidak mampu dipikul. Jika ada yang menyakiti hatinya, ia yakin bahwa sikap sabar yang ditunjukkannya akan menjadi sebab kemuliaannya di Sisi Allah. Jika ia ditimpa musibah, ia akan teringat dengan kisah Nabi Ayyub yang ditimpa musibah luar biasa berat, dan faktanya musibah-musibah itu bisa ditanggung oleh manusia. Bahkan saat Ayyub ditimpa rentetan bencana luar biasa berat, ia tetap menyeru Allah dengan sebutan “Arhamur-râhimin” (Tuhan yang Maha Penyayang di antara para penyayang), sebagaimana yang bisa kita baca kisahnya di dałam surah Al-Anbiyă’ ayat 83.

Baca Juga :  Perhatian Islam Terhadap Ilmu Pengetahuan

Hal yang sama juga terjadi pada para auliya. Seorang keturunan Rasulullah, menyampaikan kata-kata bijak “Perilaku bersyukur atas nikmat yang memang harus disyukuri lebih baik dariPada nikmatnya itu sendiri, karena kenikmatan hanyalah kesenangan (di dunia yang fana ini), sedangkan bersyukur (akan diganjar dengan) kenikmatan abadi di akhirat

Perkataan yang sangat bijak itu disampaikan, justru di saat berada dalam situasİ tertekan akibat kezaliman yang ditimpakan oleh penguasa di saat itu.

Ungkapan syukur itu tak cukup di lisan saja, walau bersyukur dengan lisan adalah salah satu ungkapan syukur. Tetapi syukur yang lebih tinggi dari itu adalah saat kita menggunakan nikmat Allah, di jalan Allah. Berapa banyak kita melihat pejabat yang korupsi di negeri ini, merugikan masyarakat dan merugikan negara ini, kemudian setelah itu si pejabat mengundang ribuan orang dalam acara tasyakuran, dari hasil korupsi tadi. Dia ingin mengelabuhi Allah SVVT dan ingin menggambarkan di hadapan orang-orang sebagai orang yang bersyukur. Orang seperti ini adalah orang yang keliru, karena saat dia tidak mengambil nikmat itu dari jalan yang halal, dia tak termasuk sebagai orang yang bersyukur. Karena yang bersyukur adalah yang mendapatkannya dari jalan Allah SWT dan kemudian mengeluarkannya di jalan Allah. Berapa banyak, orang yang merusak di negeri ini, kemudian melakukan ibadah umroh, dia berfikir dengan melakukan ibadah, dia tercatat sebagai orang yang bersyukur, padahal ibadah itu dilakukan setelah dia melakukan kejahatan. Dan banyak lagi contoh-contoh yang lain, dimana orang-orang bersyukur dengan lisannya, tetapi perbuatannya tak mencerminkan rasa syukur itü sedikitpun.

Negeri ini adalah negeri yang kaya raya, tapi jika dikeloa oleh orang-orang yang tak bersyukur, maka walaupun negeri ini kaya, penduduknya akan hidup miskin. Kita perlu orang-orang yang bersyukur, agar nikmat yang Allah tebarkan di negeri ini, bisa dinikmati oleh seluruh kalangan. Dan pada akhirnya penduduk negeri ini akan tergolong hamba yang bersyukur. Jika sudah termasuk hamba yang bersyukur, maka Allah akan melimpahkan tambahan nikmat bagi negeri ini, sebagaimana firmannya:

Baca Juga :  “ISLAM ANTI KEKERASAN”

لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ

jika kalian bersyukur niscava Kami tambah nikmat atas kalian. ” (QS. Ibrahim: 7)


بَارَكَ الله لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هذا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Tags

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close