Warning: sprintf(): Too few arguments in /home/u7096914/public_html/wp-content/plugins/wp-user-avatar/includes/class-wp-user-avatar-functions.php on line 668
Cancel Preloader

Teori dan Strategi Masuknya Islam di Indonesia

 Teori dan Strategi Masuknya Islam di Indonesia

Teori dan Strategi

Digiqole ad

HIDAYATUNA.COM – Indonesia merupakan negara berpenduduk muslim terbesar di dunia, melampaui negara asal dimana Islam pertama kali diturunkan. Proses Islamisasi Nusantara melewati proses yang sangat panjang.

Muncul beberapa teori berkaitan dengan masuknya Islam di dataran Nusantara atau sekarang Indonesia. Setidaknya ada empat teori besar yang masih bertahan dan diyakini oleh masing-masing pengusungnya.

Teori-teori tersebut antaralain Teori Arab (Mekah), Teori India (Gujarat), Teori Persia (Iran) dan Teori Cina. Perbedaan dalam menggali sejarah memanglah sangat wajar dan sah-sah saja asal didukung dengan dasar disertai bukti-bukti yang dapat dipertanggung jawabkan.

Islam masuk ke Nusantara diyakini oleh Buya Hamka yang mendukung Teori Mekah yang pada Abad 7 M. Dalam bukunya Sejarah Umat Islam yang terbit tahun 1997 mengajukan bukti bahwa dalam sebuah naskah kuno dari Cina menyebutkan pada 625 M, di kawasan Pantai Barat Sumatera telah bermukim orang-orang Arab. Selain itu juga ditemukannya nisan kuno bertuliskan nama Syekh Rukunuddin, wafat tahun 672 M menjadi bukti pendukung lainnya.

Sementara itu menurut Teori Cina yang diusung leh Jean A. Berlie, dinyakini bahwa Islam masuk Nusantara pada abad 9 M. Para pedagang Cina pemeluk Islamlah yang diyakini sebagai pembawa Islam ke Nusantara. Banyaknya pendakwah Islam keturunan Cina yang memiliki pengaruh besar dalam Kesultanan Demak menjadi bukti pendukungnya.

Dua teori selanjutnya yaitu Teori Persia yang diusung oleh Umar Amir Husen serta Husein Djajadiningrat dan Teori Gujarat yang diusung Sucipto Wirjosuparto meyakini bahwa Islam masuk ke Nusantara pada Abad 13 M. Meskipun begitu mereka menyatakan asal masuknya Islam berbeda sesuai dengan penamaan teorinya.

Strategi Masuknya Islam ke Nusantara

Islam merupakan agama ramahdan kasih sayang disebarkannya pun dengan cara-cara yang baik tidak dengan paksaan. Sebelum masuknya Islam di Nusantara dikenal sebagai pemeluk Hindu -Budha yang sangat kuat.

Bagaimana tidak, banyak sekali peninggalan rumah ibadah dan candi-candi yang menjadi bukti betapa kuatnya Hindu-Budha. Meskipun begitu pada akhirnya Islamisasi berjalan sangat cepat dengan berbagai cara dan sarana.

Menurut para sejarawan setidaknya ada enam media yang dipakai dalam strategi dakwah Islam di Nusantara. Media-media dakwah tersebut sebagai berikut:

Perdagangan

Sebagaimana teori-teori di atas bangsa Arab, Cina, India dan Persia datang ke Nusantara tujuan utamanya adalah berdagang. Seiring berjalannya waktu hubungan dangang menjadi media dalam mendakwahkan Islam.

Politik

Strategi politik diterapkan dalam dakwah Islam memegang peran penting dan pengaruh yang sangat besar. Walisongo misalnya, dalam Kesultanan Demak memeiliki peran startegis dalam berbagai kebijakan kenegaraan sehingga disesuaikan dengan nilai-nilai Islam.

Perkawinan

Status sosial ekonomi menjadi salah satu faktor kenapa terjadi perkawinan orang Islam (ketika itu pedagang) dengan pribumi. Masyarkat pribumi tertarik untuk menjadi Istri para pedagang karena status ekonominya lebih baik. Tidak jarang juga terjadi perkawinan saudrgar degan anak bangsawan atau raja sehingga memberikan dampak positif dan persebaran Islam berjalan lebih cepat.

Tasawuf

Para Ahli tasawuf umumnya hidup dalam kesederhanaan sehingga mampu menghayati kehidupan masyarakat. Masyarakat Nusantara pun menerima dengan senang hati sehingga seiring waktu dilakukan pengajaran teosofi yang dipadupadankan dengan ajaran masyarakat lokal. Islamisasi berjalan dengan sangat halus dan tanpa paksaan.

Pendidikan

Pesantren merupakan model pendidikan otentik yang dikembangkan ulama-ulama zaman dulu dalam menyebarkan Islam. Mereka tidak hanya diajara Ilmu agam secara khusus tetapi juga belajar hal-hal lain seperti berdagang, bertani dan lain sebagainya.

Setelah selesai nyantri mereka pulang kekampung halamannya dan kembali menyebarkan Islam bahkan mendirikan. Sehingga tidak heran berangsur-angsur berbagai daerah banyak berduri pesantren sebagai pusat pendidikan dan penyebaran Islam.

Kesenian

Seni kebudayaan dijadikan sebagai media dakwah khususnya oleh Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga. Kesenian yang telah hidup dalam masyarakat digubah dan disesuaikan dengan ajaran Islam. Wayang misalnya naskah ceritanya dibuat dengan menyelipkan nilai-nilai Islam.

Pada suatu waktu dalam sebuah pementasan wayang Sunan Kalijaga mengharusakn siapa saja yang ingin menonton pagelarannya untuk mengucapkan dua kalimat Syahadat. Metode-metode kreatif memegang peran penting dalam Islamisasi di Nusantara sehingga berkembang dan bertahan sampai sekarang ini.

Dawamun Niam Alfatawi

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

fifteen + six =