Tatkala Toleransi Menjadi Ekstrem Tersendiri

 Tatkala Toleransi Menjadi Ekstrem Tersendiri

Tatkala Toleransi Menjadi Ekstrem Tersendiri (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM, Yogyakarta – Kaget campur mesem, tatkala seorang teman mengutarakan bahwa tema terkait radikalisme, toleransi dan sebangsanya itu sudah tidak lagi ‘seksi’ di kalangan akademisi.

Bukan karena statment dia yang menyatakan bahwa tema-tema di atas sudah basi. Melainkan, tempat dia menyampaikan sewaktu workshop yang berkaitan dengan toleransi.

Bayangkan, di depan pemateri berbusa-busa membahas toleransi, eh di belakang bisik-bisik bahwa itu sudah tidak menarik. Kalau pemateri mendengar bisikannya waktu itu, mungkin akan mengelus dada juga.

Ketika membahas apa yang dibisikkan di telinga saya, di saat itu pula saya punya wajah ganda. Wajah pertama saya gunakan untuk mengatakan bahwa statment teman saya mungkin akurat meski ia tak menyertakan data ilmiah.

Wajah kedua saya gunakan untuk menggugat dia sekaligus bahwa persoalan radikalisme dan hal sejenis bukan juga problem yang sepele. Sayangnya, di akhir pembicaraan saya hanya mengangguk-ngangguk tanpa menggugat.

Apa yang dibicarakannya sejatinya tidak kering dari fakta. Pembahasan terkait toleransi dan radikalisme sudah memang mainstream di kancah nasional. Hal inilah yang barangkali menjadi dasar kuat apa yang diucapkan.

Dari seminar, penelitian, jurnal, hingga opini dengan tajuk utama radikalisme sudah menjamur. Tidak kurang dari tiga tahun terakhir fokus kebanyakan orang memang dikerahkan ke sana.

Saya menganggap tidak ada masalah dengan itu, meski kadang berkesimpulan bahwa hal yang berlebihan tidak baik.

Pada dasarnya toleransi hendak memberikan kebebasan terhadap siapa saja untuk berpendapat. Tidak hanya memberi kebebasan berpendapat melainkan juga dipersilakan meyakini.

Sampai di titik itu, menjadi terang bahwa dalam konsep toleransi tidak ada tendensi pemaksaan. Bahkan toleransi itu sendiri pada titik terajauhnya tidak bisa memaksa orang yang berseberangan dengannya dalam ranah pendapat dan keyakinan. Ia hanya memberikan kelonggaran terhadap pendapat itu selama tidak mencederai kemanusiaan.

Suatu ketika seorang budayawan memberi peringatan keras bahwa orang yang mengklaim dirinya moderat terlarang untuk nyinyir dengan orang di seberanganya.

Orang yang dalam dirinya tertanam perasaan dan rasa toleran, idealnya tidak memandang sinis orang menyerukan jihad. Yang harus ditentang tidak lain adalah akibat dari itu semua, tatkala jihad yang diserukan menghabisi banyak nyawa.

Sedang soal berkeyakinan bahwa jihad dapat diganjar puluhan bidadari adalah hal yang tak harus ditentang. Selama tidak merugikan banyak pihak itu adalah hal yang dibiarkan berjalan semestinya.

Menjadi toleran juga diatributkan untuk menolak gerakan ekstrem, radikal dan yang setali tiga uang dengan itu. Tak jarang dalam hal-hal tertentu dan beberapa kasus yang kecil, para pendaku toleransi memaksakan konsep toleransi itu.

Saya menyayangkan dan menyebut hal demikian sebagai toleran (yang) radikal. Toleransi hanya akan bermakna jika ia sama sekali tidak dipaksakan untuk diikuti dan diimani. Di saat menyentuh satu titik memaksa, maka terjadi kontradiksi di dalam toleransi itu sendiri.

Sementara pembahasan terakit dengan pentingnya ide-ide moderat cum toleran memang tidak bisa terhindarkan. Mau mengaku atau tidak, untuk mencairkan ketegangan dalam silang sengkarut pendapat, kita butuh konsep toleransi.

Itu diupayakan untuk mendamaikan pihak yang berseberangan satu sama lain. Jika kok lalu konsep toleransi itu sendiri yang menjadi ekstrem dan radikal serta memaksa, berarti ia telah menyimpang dari garisnya. Toleransi seperti itu tidak ideal untuk mendamaikan selisih pendapat yang tak kunjung habis.

Tatkala toleransi menjadi keras sebagaimana ekstrem-esktrem lain, baik kanan atau kiri, maka ia akan jadi ekstrem tersendiri.

Manakala diklaim bahwa posisi tengah paling benar dan harus dipaksakan terhadap posisi yang lain, detik itu juga posisi tengah menjadi ekstrem. Lebih jelasnya ia menjadi ekstrem tengah.

Sangat lucu, jika konsep yang digadang-gadang mengatasi ekstrem juga menjadi salah satu ekstrem.

Takaran yang pas dan tepat dalam aktualisasi toleransi memang perlu dirembuk ulang.

Mungkin sudah ada secara konsepsi, meski tidak tertulis, bahwa toleransi tidak harus dipaksakan. Sayangnya, beberapa orang memahami konsep toleransi sebagai hal yang ideal serta tidak masalah jika harus dipaksakan. Mungkin hanya beberapa, tidak semua, tetapi ada di antara kita.

M Rofqil Bazikh

Mahasiswa jurusan Perbandingan Mazhab Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga dan bermukim di Garawiksa Institute Yogyakarta. Menulis di berbagai media cetak dan online. Bisa dijumpai di surel [email protected]

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

twelve + 5 =