Tata Cara Tayamum yang Benar

 Tata Cara Tayamum yang Benar
Digiqole ad

Islam merupakan agama yang mudah dan memudahkan bagi pemeluknya. Salah satu contoh kemudahan itu dalam bersuci saat akan beribadah yaitu tayamum. Apa itu tanyamum? yaitu bersuci dari hadas kecil atau hadas besar enggunakan debu disebabkan tidak adanya air karena kemarau atau kekeringan, bisa juga karena menderita sakit yang menyebabkan orang tidak boleh terkena air. Tayamum merupakan pengganti wudhu dikarenakan sebab-sebab tertenstu sebagaimana firman Allah:

وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَىٰ أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَفُوًّا غَفُورًا

Artinya: “Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau datang dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci); sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.” (QS. An-Nisa’: 43)

Ayat di atas juga menjelaskan diperbolehkan tayamum sebab bepergian, misalnya ketika sedang ada dikendaraan di mobil atau pesawat yang tidak memunkinkan berwudhu. Tayamum tidak hanya dapat menggantikan wudhu tetapi juga mandi besar, sebagaimana penafsiran sebagian ulama yang memaknai ungkapan lâmastumunnisâ dengan berhubungan suami-istri, seperti yang ditunjukkan dalam riwayat Ibnu ‘Abbâs, Mujahid, Qatadah, Ubay ibn Ka‘b, ‘Amar ibn Yasir, dan yang lain.

Imam Ghazali dalam kitabnya Ihyâ ‘Ulumiddin menjelaskan secara ringkas sebab-sebab bertayamum sebagai berikut:

إِلَيْهِ لِعَطَشِهِ أَوْ لِعَطَشِ رَفِيقِهِ أَوْ كَانَ مِلْكًا لِغَيْرِهِ وَلَمْ يَبِعْهُ إِلَّا بِأَكْثَرَ مِنْ ثَمَنِ الْمِثْلِ أَوْ كَانَ بِهِ جِرَاحَةٌ أَوْ مَرَضٌ وَخَافَ مِنَ اسْتِعْمَالِهِ فَسَادَ الْعُضْوِ أَوْ شِدَّةَ الضنا فَيَنْبَغِي أَنْ يَصْبِرَ حَتَّى يَدْخُلَ عَلَيْهِ وَقْتُ الْفَرِيضَةِ

Artinya: Siapa saja yang kesulitan menggunakan air, baik karena ketiadaannya setelah berusaha mencari, maupun karena ada yang menghalangi, seperti takut hewan buas, sulit karena dipenjara, air yang ada hanya cukup untuk minim dirinya atau minum kawannya, air yang ada milik orang lain dan tidak dijual kecuali dengan harga yang lebih mahal dari harga sepadan (normal), atau karena luka, karena penyakit yang menyebabkan rusaknya anggota tubuh atau justru menambah rasa sakit akibat terkena air, maka hendaknya ia bersabar sampai masuk waktu fardhu.

Dari uraian tersebut jelas dalam kedaan dan kondisi bagaimana tayamum diperbolehkan untuk dilakukan. Lebih rinci mengenai sebab-sebab tayamum dijelaskan oleh Syekh Mushthafa al-Khin dalam kitab al-Fiqh al-Manhaji ‘ala Madzahib al-Imam al-Syafi‘ sebagaimana dikutip M. Tatam Wijaya, ada empat alasan diperbolehkan tayamum. Pertama, ketiadaan air secara kasat mata dan syara’. Secara kasat mata dalam arti saat bepergian benar-benar tidaka ada air, sedangkan syara’ adalah sebenarnya da air tetapi hanya mencukupi untuk kebutuhan minum jelas lebih diutamakan.

Kedua, keberadaan air yang jauh di atas jarak setengah farsakh atau 2,5 kilometer. Ada air tetapi jaraknya sangat jauh, diperbolehkan tayamum mengingat beratnya perjalanan terlebih ditempuh dengan jalan kaki. Ketiga, Sulitnya menggunakan air, baik secara kasat mata maupun secara syara‘. Sulit secara kasat mata contohnya airnya dekat, tetapi tidak bisa dijangkau karena ada musuh, karena binatang buas, karena dipenjara, dan seterusnya. Sementara sulit menggunakan air secara syara‘ misalnya karena khawatir akan datang penyakit, takut penyakitnya semakin kambuh, atau takut lama sembuhnya.

Keempat, kondisi sangat dingin. Artinya, jika menggunakan air, kita akan kedinginan karena tidak ada sesuatu yang dapat mengembalikan kehangatan tubuh.

Tata Cara Tayamum

Berikut tata cara mengerjakan tayamum:

  1. Siapkan tanah berdebu atau debu yang bersih.
  2. Ucapkan basmalah lalu letakkan kedua telapak tangan pada debu dengan posisi jari-jari tangan dirapatkan.
  3. Kemudian usapkan kedua telapak tangan pada seluruh wajah disertai dengan niat dalam hati, salah satunya dengan redaksi niat berikut: نَوَيْتُ التَّيَمُّمَ لِاسْتِبَاحَةِ الصَّلَاةِ للهِ تَعَالَى  Artinya: Aku berniat tayamum agar diperbolehkan shalat karena Allah.
  4. Letakkan kembali telapak tangan pada debu. Kali ini jari-jari direnggangkan serta cincin yang ada pada jari (jika ada) dilepaskan sementara. 
  5. Tempelkan telapak tangan kiri pada punggung tangan kanan, sekiranya ujung-ujung jari dari salah satu tangan tidak melebihi ujung jari telunjuk dari tangan yang lain.   
  6. Usapkan telapak tangan kiri ke punggung lengan kanan sampai ke bagian siku. Lalu, balikkan telapak tangan kiri tersebut ke bagian dalam lengan kanan, kemudan usapkan hingga ke bagian pergelangan.
  7. Usapkan bagian dalam jempol kiri ke bagian punggung jempol kanan. Selanjutnya, lakukan hal yang sama pada tangan kiri.
  8. Terakhir, pertemukan kedua telapak tangan dan usap-usapkan di antara jari-jarinya.

Referensi:
Syekh Mushthafa al-Khin, al-Fiqh al-Manhaji ‘ala Madzahib al-Imam al-Syafi‘i, Terbitan Darul Qalam, Cetakan IV, 1992, Jilid 1
Al-Ghazali, Ihyâ ‘Ulumiddin, Terbitan Darut Taqwa lit-Turats, Jilid 1, Tahun 2000

Redaksi

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

13 + nineteen =