Tapak Jejak Kiai Mustaqim dari Tulungagung

 Tapak Jejak Kiai Mustaqim dari Tulungagung

HIDAYATUNA.COM – Di masa kolonial, ada banyak daerah yang melakukan perlawanan dengan saksama. Khususnya di masa Jepang, tiga tahun menjelang kemerdekaan itu, konon rakyat Indonesia banyak mengalami penderitaan melebihi era kolonial Belanda yang berabad-abad lamanya.

Hanya saja narasi yang banyak dimunculkan di berbagai literatur sejarah melulu memuat gerak juang dari nama-nama mashur, baik di daerah maupun yang terorganisir di level nasional. Selebihnya tetap dinilai berkontribusi, namun tidak cukup signifikan.

Dari situ, ada banyak nama yang saya rasa patut untuk dinarasikan supaya bisa muncul dan dikenali kembali. Minimal sebagai apresiasi dan rasa terimakasih kepada mereka yang tanpa pamrih bersedia untuk menjadi pemimpin dari gerakan perlawanan yang tidak seberapa. Di antara sekian nama itu, ada nama Kiai Mustaqim dari Tulungagung.

Kiai Mustaqim sendiri lahir di Desa Nawangan, Keras, Kediri pada tahun 1901 M. Ayahnya bernama Kiai Husain bin Abdul Djalil. Jika ditarik sanad ke atas, ayahnya merupakan keturunan ke-18 dari Ali bin Muhammad bin Umar atau di Indonesia akrab dikenal sebagai Mbah Panjalu dari Ciamis, Jawa Barat.

Pendidikannya sedari kecil dimulai dari orang-orang terdekatnya. Pada usia 12 tahun, Kiai Mustaqim kecil dipondokkan ke Kiai Zarkasyi yang letaknya tidak terlalu jauh dari rumahnya, di Kauman, Tulungagung.

Ketika menjadi santri itu, Kiai Mustaqim kecil dinilai oleh Kiai Zarkasyi memiliki kapasitas yang mumpuni. Ia cepat dalam meresap setiap ajaran yang diberikan.

Jihad Mendirikan Pesantren Hingga Melawan Belanda

Satu dekade setelah menjadi santri, ia dinikahkan oleh Kiai Zarkasyi kepada putrinya Mbah H. Rois, yang bernama Nyai Halimah Sa’diyyah. Dari pernikahannya inilah, Kiai Mustaqim lamat-lamat mendirikan pondok pesantren di kediaman mertuanya.

Mengingat masih di masa kolonial, Kiai Mustaqim juga mengajarkan ilmu silat kepada santri-santrinya sebagai bekal. Jika sekali waktu dibutuhkan untuk terlibat melawan dan mengusir penjajah.

Dalam buku Masterpiece Islam Nusantara; Sanad dan Jejaring Ulama-Santri (1830-1945) diceritakan bahwa Kiai Mustaqim bersama dengan kiai-kiai lainnya di Tulungagung dan sekitarnya pernah disiksa oleh Jepang. Hal ini ditengarai oleh ketidakmauannya untuk melakukan Seikerei, semacam upacara penghormatan dengan membungkukkan badan ke matahari yang baru terbit.

Kiai Mustaqim tetap kekeh pada prinsipnya. Bahwa, satu-satunya yang patut untuk memperoleh sembah sujud dan penghormatan penuh hanya Allah, Maha Pemilik Segalanya.

Akhirnya Kiai Mustaqim bersama kiai-kiai lainnya itu dihukum dengan tubuh dirantai. Kemudian, ia dijepit dengan bongkahan es batu di bagian dada depan dan punggung.

Tidak hanya itu, ia juga pernah sengaja dijatuhkan dari ketinggian 10 meter dari permukaan tanah. Akan tetapi, alih-alih terluka, tubuh Kiai Mustaqim justru tetap segar bugar seperti sedia kala.

Jepang tidak menyerah sampai di situ. Perut Kiai Mustaqim pernah sengaja dipaksa diisi air melewati hidungnya dengan pipa kecil. Tetapi ternyata yang dimasuki air tersebut bukan hidungnya, melainkan kantong di ikat pinggang yang sedang dipakainya.

Selain itu masih ada sekian upaya Jepang demi membuat Kiai Mustaqim patuh pada perintahnya. Sebab jika Kiai Mustaqim sudah ditaklukkan, maka kiai-kiai lainnya akan mengikuti dan tunduk pada perintah Jepang. Tanpa harus dipaksa dan disiksa. Namun segala upaya itu tidak pernah membuahkan hasil.

Mursyid dari Tarekat Syadziliyah

Selain sebagai pejuang, Kiai Mustaqim juga dikenal sebagai mursyid dari Tarekat Syadziliyah. Ia memperoleh ijazahnya dari Syekh Abdurrazaq Tremas, adik dari Syekh Mahfudz Tremas.

Silsilah tarekat tersebut jika ditarik ke atas setelah Syekh Abdurrazaq bin Abdillah Tremas adalah Syekh Ngadirejo Solo, kemudian Syekh Ahmad Nahrowi Muhatarom al-Jawi Tsummal Makky.

Kendati sebelumnya di usia 15 tahun, beliau pernah diajak oleh pamannya yang bernama Kyai Sholeh untuk berguru ke Syekh Khudlori di Malangbong, Garut, Jawa Barat. Di situ yang usianya masih menginjak remaja, ia dibaiat dan diijazahi Tarekat Qodiriyah wa Naqsabandiyah dan Tarekat Naqsabandiyah.

Kini pondok pesantren yang dirintis beliau di Tulungagung itu dikenal sebagai Pondok Pesantren Pesulukan Thoriqot Agung (PETA). Lokasinya berada di pusat kota. Berdekatan dengan akses administrasi kedaerahan dan budaya global dari masyarakat kota.

Dalam setahun sekali saat digelar acara HAUL Pondok Pesantren PETA, arus lalu lintas di pusat Kota Tulungagung mesti dialihkan. Hal tersebut sebagai bentuk penghormatan dari generasi yang datang sesudahnya. Hanya saja pandemi kali ini memaksa peringatan HAUL digelar secara virtual. Begitu.

Ahmad Sugeng Riady

Masyarakat biasa merangkap marbot di pinggiran kota Yogyakarta

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

2 × 2 =