Tantangan Mempertahankan Kemenangan Pasca Bulan Ramadhan dan Idulfitri

 Tantangan Mempertahankan Kemenangan Pasca Bulan Ramadhan dan Idulfitri

Idulfitri (Ilustrasi/Hidayatuna)

Digiqole ad

HIDAYATUNA.COM – Satu bulan puasa telah berlalu. Berbagai cerita tentang perjuangan menahan hawa nafsu, utamanya dari rasa haus dan lapar telah bersama-sama dilalui oleh umat Islam sedunia.

Hari merayakan kemenangan dalam momentum Idulfitri 1442H juga hampir berlalu. Tetapi, upaya mempertahankan kemenangan tidak boleh turut berlalu.

Banyak hal yang perlu dipertahankan dari kemenangan yang selama sebulan terakhir (bulan puasa) bersama-sama diperjuangkan oleh umat Islam. Berikut adalah beberapa momentum kemenangan yang semestinya tetap konsisten dijaga segenap umat Islam, ketika, setelah dan nantinya sampai pada bulan Ramadhan lagi dan seharusnya begitu seterusnya.

Pertama, di bulan Ramadhan umat Islam diuji untuk kuat  menahan hawa nafsu dari rasa lapar dan haus. Rasa lapar dan haus ini bisa menjadi bagian dari pengendalian diri sehingga menjadi lebih selektif melakukan kegiatan-kegiatan yang positif. Hal ini tentu memberikan dampak yang lebih baik secara psikologis seperti lebih sabar, dan tidak ambisius melakukan suatu pekerjaan.

Kedua, dalam momentum bulan Ramadhan di mana-mana terdengar gaung lantunan ayat-ayat suci Alquran. Mulai dari kegiatan tadarus bersama atau membunyikan peringatan sebagai alarm bahwa waktu berbuka atau waktu sahur tiba. Semua terdengar saling bersahutan, semakin menambah meriah suasana di bulan puasa.

Ketiga, aktivitas bersedekah pun semakin giat dilakukan oleh umat Islam untuk berbagi di bulan Ramadhan. Mulai dari berbagi takjil yang sederhana, sampai bingkisan-bingkisan sembako yang dikhususkan untuk pihak-pihak yang membutuhkan atau sekedar memberi hadiah kepada para kolega. Nuansa ini seringkali kita temui di bulan Ramadhan.

Keempat, kebersamaan dan silaturahim dalam keluarga maupun antar teman pun semakin memperoleh momentum di bulan puasa. Secara otomatis waktu qulity time bersama keluarga selalu ada, utamanya ketika makan sahur atau berbuka. Terkadang kebiasaan makan bersama menjadi momentum langka di hari-hari biasa karena kesibukan setiap anggota keluarga.

Berharganya Momen Silaturahmi

Momentum buka bersama dengan para teman, sahabat atau kolega juga menjadi waktu yang tepat untuk menjalin kembali silaturrahim. Akibat hiruk-pikuk kesibukan urusan dunia, seringkali kita lupa menanyakan kabar teman atau sekedar “say hello”. Buka puasa bersama bisa menjadi salah satu cara menjalin kembali jalinan tali silaturahim yang mulai merenggang.

Sering terdengar sebuah pepatah, bahwa menjalin silaturahim juga bisa menjadi salah satu jalan membukakan pintu rizki, menjadikan panjang umur dan beberapa dampak positif lainnya.

Bulan Ramadhan memberikan banyak cerita di tengah rutinitas ritual keagamaan bagi umat Islam. Tetapi kenapa kemudian aktivitas positif di bulan suci Ramadhan tersebut seakan terhenti ketika gaung takbir bersahutan petanda bulan suci Ramadhan berlalu, dan Hari Raya Idulfitri datang menghampiri?

Pasca bulan Ramadhan kita menyebut hari Raya Idulfitri atau hari raya makan-makan, begitu kira-kira makna simpelnya. Dalam tradisi masyarakat Indonesia, hari Raya Idulfitri banyak disebut dengan istilah “Lebaran”. Sekilas kata Lebaran tersebut mengdopsi bahasa Jawa yang berarti lebar adalah selesai.

Artinya, selesai melakukan perjuangan panjang berupa kewajiban berpuasa menahan hawa nafsu, menahan rasa haus dan lapar selama sebulan. Saatnya kembali bisa menyantap kapan pun berbagai hidangan yang tersaji di sekitar.

Beralih pada Hari Raya Idulfitri di bulan Syawal, aktivitas untuk melakukan kunjungan dari satu pintu ke pintu lain pun terus diagendakan. Mulai dari pintu tetangga sebelah, keluarga maupun teman lama dan para kolega. Sebuah nuansa yang menggambarkan kehidupan yang penuh kedamaian dan kerukunan.

Menariknya, pada momentum hari Raya Idulfitri, umat Islam berbondong-bondong pergi dengan ketulusan dan suka cita  untuk bersilaturahim dan meminta maaf. Permintaan maaf merupakan simbol dari ketulusan, kerendahan hati dan kewibawaan seseorang bahwa setiap manusia tidak ada yang sempurna.

Alternatif Permintaan Maaf

Meskipun permintaan maaf di hari Raya Idulfitri sekilas terlihat hanya formalitas. Tetapi setidaknya dari adanya ruang dan kesempatan untuk bermaaf-maafan bisa menjadi salah satu alternatif. Untuk bersama-sama merefleksikan diri dan mengoreksi diri (bermuhasabah) dari berbagai kesalahan maupun kekurangan yang selama ini dilakukan.

Rentetan momentum di bulan Suci Ramadhan dan berlanjut di hari Raya Idulfitri memperlihatkan sebuah spirit harmoni yang luar biasa. Dari sini pada dasarnya prinsip Islam rahmatan lil ‘alamin seharusnya menjadi kesadaran kita bersama untuk duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi untuk saling menjaga satu sama lain.

Menjaga dalam arti yang lebih luas, yaitu menjaga untuk tetap mengendalikan diri agar tidak bersikap egois dalam memandang, menilai atau memutuskan suatu hal. Hal ini yang perlu dititik beratkan bagi umat Islam karena nyatanya perbedaan merupakan rahmat bagi semesta yang bersifat keniscayaan.

Untuk itu memaksakan sebuah pandangan beragama adalah hal yang sepatutnya tidak terjadi di kalangan umat Islam. Seperti aksi teror dan berbagai aksi yang bisa merugikan berbagai kalangan (tidak hanya umat Islam). Sebab banyak hikmah yang seharusnya bisa dipetik bersama dalam momentum laku berpuasa dan perayaan Idulfitri dalam tiap tahunnya.

Spirit Kemanusiaan

Hikmah dibalik bulan Ramadhan dan hari Raya Idulfitri sepatutunya menjadi spirit kemanusiaan yang tidak hanya perlu diresapi oleh umat Islam semata. Tetapi juga pihak-pihak di luar umat Islam, namun, hal ini tentu tidak mudah bagi umat Islam untuk menyampaikan spirit yang terkandung dalam dua bulan tersebut pada pihak lain (di luar Islam).

Tentu ada tantangan tersendiri untuk menyampaikan spirit perdamaian sebagaimana idealitas yang dibayangkan dalam ajaran tentang Islam rahamatan lil ‘alamin. Sebab nyatanya secara internal umat Islam juga tidak hanya satu, tetapi beragam.

Meski bagaimana pun, kesadaran untuk tetap menjaga perdamaian di tengah perbedaan adalah komitmen yang harus terus diperjuangkan dan dialogkan. Betapa sebenarnya banyak kemenangan yang sudah umat Islam raih dalam momentum bulan Suci Ramadhan dan hari Raya Idulfitri.

Semoga selanjutnya momentum kemenangan tersebut tetap bisa berjalan secara konsisten sebagai pengejawentahan. Terutama dari harmoni hubungan antara manusia dengan Allah (habl min Allah), dengan sesama manusia (habl minan naas) dan dengan alam (habl minal ‘alam).

Selamat memperingati Hari Dialog dan Pengembangan Perbedaan Budaya Sedunia, 21 Mei 2021.

Anas Shoffa’ul Jannah

Santri Pesantren Budaya Nusantara Kaliopak, Piyungan, Yogyakarta. Aktif juga dalam Kajian di Laboratorium Sosiologi Agama (LABSA) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

two × 3 =