“Tantangan Mbah Wahab” Menjadi Lecutan KH. Tholchah Mansoer

 “Tantangan Mbah Wahab” Menjadi Lecutan KH. Tholchah Mansoer
Digiqole ad

HIDAYATUNA.COM – Prof. Dr. KH. Tolchah Mansoer adalah Pendiri IPNU (Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama) yang juga menantu KH. Wahib Wahab (Mantan Menteri Agama), istrinya Nyai Umroh Machfudloh adalah pendiri IPPNU (Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama). KH. Tolchah selain seorang intelektual juga ulama yang mengajar ngaji kitab-kitab kuning ala pesantren. Pada awal dekade 70-an KH. Tolchah Mansoer mulai mengadakan pengajian rutin di garasi rumahnya atas masukan dan saran dari beberapa dosen muda IAIN Sunan Kalijaga.

Selain membuka pengajian untuk dosen-dosen muda IAIN setiap Senin sampai Jum’at setelah shalat shubuh, setiap sore KH. Tolchah juga membuka pengajian untuk mahasiswa, salah satu pesertanya adalah Prof. Machasin. Hal yang menarik adalah sekalipun KH. Tolchah bukan alumni pesantren namun beliau bisa mengajarkan kitab-kitab klasik berbahasa Arab tersebut dengan baik dan gamblang. Ada beberapa faktor yang dapat menjelaskan hal ini, sekalipun latar belakang Pendidikan KH. Tolchah adalah Pendidikan umum namun beliau sangat membanggakan pendidikannya saat ia belajar di Madrasah Nahdlatul Wathon yang didirikan KH. Nachrowi Thohir di Malang. Selain itu, beliau juga rutin mengaji kilatan saat Ramadhan di pondok-pondok terkenal.

Adapun faktor yang sangat penting adalah tantangan Mbah Wahab, alkisah setelah menyelesaikan gelar Sarjana Hukum di UGM tahun 1964, KH. Tolchah sowan (menghadap) kepada kakek istrinya yaitu KH. Abdul Wahab Hasbullah. Pada saat itu, kiai Abdul Wahab Hasbullah juga seorang pengacara. Mbah Wahab menyampaikan kepada KH. Tolchah “Buat apa kalau hanya sekedar sarjana hukum, aku sendiri tidak sekolah hukum pun bisa menjadi pengacara” tetapi sebaliknya, “mampukah kau menjadi seorang alim dalam penguasaan ilmu agama (menjadi kiai) tanpa harus belajar di pondok pesantren ?” Mendengar “tantangan” Kiai Abdul Wahab Hasbullah tersebut ada semangat yang membara dalam diri Tolchah muda untuk membuktikan bahwa sekalipun ia bukan keluaran pesantren ia mampu menguasai ilmu-ilmu agama terutama kajian kitab-kitab klasik.

Kealiman KH. Tolchah Mansoer juga diakui oleh KH. Bisri Musthofa (pengarang kitab Tafsir al-ibriz dan pendiri Pondok Pesantren Raudlatul Thalibien, Leteh, Rembang, Jawa Tengah). KH. Bisri Musthofa kagum dan mengakui kealiman KH. Tolchah dengan membuat syair-syair pujian kepadanya. KH. Bisri Musthofa sendiri yang menyerahkan langsung syair tersebut kepada KH. Tolchah di kediamannya, Komplek Colombo No. 21 Yogyakarta.

Sumber : KH. Tolchah Mansoer, Biografi Profesor NU yang terlupakan; informasi dari Ning Safirotul Machrusah pada 29 April 2017

Redaksi

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

14 + 1 =