Tanggapan Muslim Leicester Atas Tudingan Sebarkan Covid-19

 Tanggapan Muslim Leicester Atas Tudingan Sebarkan Covid-19

Tanggapan Muslim Leicester Atas Tudingan Sebarkan Covid-19

HIDAYATUNA.COM – Umat Muslim Leicester menanggapi tudingan kelompok mereka sebagai biang meningkatnya kasus Covid-19 di kota tersebut.

Perdana Menteri Boris Johnson mengatakan tengah berupaya mendorong Inggris kembali ke keadaan normal.

Sebuah berita kemudian menjadi viral setelah tangkapan layar atas berita tersebut yang kemudian dibagikan ratusan kali di Facebook yang mengklaim bahwa Leicester harus mengalami penguncian ketat.

Hal ini karena umat Muslim yang tinggal di daerah itu tidak memahami saran pemerintah dan tidak menggunakan pembersih tangan karena itu bertentangan dengan agama Islam.

Klaim yang menyudutkan masyarakat Muslim muslim tersebut tampaknya berasal dari komentar yang dibuat oleh Perdana Menteri dan sebuah artikel di Mirror.

Artikel itu mengatakan bahwa beberapa sumber lokal mengatakan bahwa kurangnya terjemahan pesan berkontribusi terhadap wabah.

Meskipun artikel itu tidak secara jelas menyebutkan agama namun postingan-postingan yang beredar di media sosial terkait hal ini kemudian mengkambing hitamkan umat Muslim.

Dilansir dari Full Fact, Sekretaris Otoritas Kesehatan, Matt Hancock mengatakan bahwa sejumlah besar kasus pada anak-anak lah yang kemudian mendorong diberlakukannya penguncian.

Kurangnya Kepatuhan Muslim Leichester

Departemen Kesehatan dan Perawatan Sosial mengatakan kepada Leicester Live bahwa mereka percaya peningkatan kasus adalah karena “penularan dalam rumah tangga, kepatuhan yang lebih rendah dengan jarak sosial di masyarakat, dan penularan di tempat kerja semua dapat berkontribusi pada situasi saat ini.”

Jadi faktor yang terkait dengan kurangnya pemahaman tentang saran pemerintah telah diusulkan sebagai alasan mengapa Leicester kemudian mengalami peningkatan kasus.

Namun mereka tidak terbukti, mereka bukan satu-satunya faktor yang diusulkan, dan hal tersebut belum dapat dibuktikan berkaitan secara eksplisit dengan satu komunitas, Islam misalnya.

Sedangkan untuk pembersih tangan, tidak ada bukti untuk mendukung klaim bahwa umat Muslim kurang taat menggunakannya dari komunitas lain, atau bahwa penggunaan pembersih tangan merupakan faktor dalam wabah Covid-19 yang belakangan dialami Leicester.

Seperti banyak agama Islam mencakup sejumlah aliran pemikiran yang berbeda, yang masing-masing mungkin mengikuti aturan yang sedikit berbeda.

Jadi kita tidak dapat mengatakan dengan pasti bahwa tidak ada beberapa Muslim yang memilih untuk tidak menggunakan pembersih tangan berbasis alkohol, mengingat bahwa mengkonsumsi alkohol pada umumnya dilarang dalam agama.

Muslim juga telah menyatakan sedari bertahun-tahun lalu, bahwa penggunaan sanitiser atau pembersih tangan diperbolehkan.

Dewan Muslim Inggris (MCB) telah mengeluarkan panduan untuk mencuci tangan sesering mungkin dengan sabun dan air, atau menggunakan gel pembersih tangan.

MCB mengatakan kepada Full Fact: “Masalah alkohol dalam Islam terkait dengan minum alkohol, dan tidak penggunaannya dengan cara lain, seperti desinfeksi kulit.

Banyak Muslim percaya bahwa diperbolehkan menggunakan sanitiser berbasis alkohol untuk mengurangi penyakit atau meningkatkan kesehatan, terutama karena ini merupakan kebutuhan dalam iklim saat ini. “

Pembersih tangan dengan kadar alkohol 60% ke atas efektif melawan virus, tetapi sabun dan air lebih diutamakan.

Umat Muslim beranggapan bahwa terlalu dini untuk memberikan penjelasan pasti mengapa lonjakan kasus Covid-19 di Leicester terjadi.

Redaksi

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

5 × 3 =