Takwil Mimpi Tentang Wafatnya KH. Wahid Hasyim

 Takwil Mimpi Tentang Wafatnya KH. Wahid Hasyim
Digiqole ad

KH. Abdul Hamid Hasbullah adalah adik Pendiri NU KH. Wahab Hasbulllah. Sepulang belajar dari Makkah beliau hanya fokus tinggal di Pondok Pesantren Tambakberas Jombang untuk mengajar para santri dan ngaji di kampung sekitar Tambakberas saja. Sedangkan KH. Wahab bertugas untuk dakwah memperkenalkan NU ke luar kota dan provinsi. Hanya pada saat pulang saja beliau ikut mengajar santri.

Sebagaimana masyhur diketahui masyarakat Mbah Hamid dikaruniai Allah SWT beberapa kelebihan, diantara kelebihan tersebut adalah kemampuan beliau untuk menakwilkan mimpi. Suatu saat KH. Wahid Hasyim (putra KH. Hasyim Asy’ari) pergi ke Tambkberas untuk sowan ke KH. Wahab Hasbullah. Setelah bertemu Mbah Wahab, Kiai Wahid sebagai kolega di NU yang sangat dekat berdiskusi urusan NU dan negara.

Setelah selesai membahas urusan penting tersebut, KH. Wahid Hasyim menyampaikan kisah mimpi yang baru saja dialaminya dan meminta kepada Mbah Wahab untuk menakwilkannya. KH. Wahid Hasyim mimpi kejebur atau kecemplung (tercebur) ke dalam sumur.

Mengetahui hal itu, Mbah Wahab lalu menyuruh Kiai Wahid untuk menemui Mbah Hamid. Ketika Kiai Wahid bertemu Mbah Hamid dan bercerita tentang mimpinya, maka Mbah Hamid hanya menangis. Beliau tidak menerangkan tafsir mimpi tersebut kepada Kiai Wahid Hasyim.

Setelah Kiai Wahid pulang Mbah Wahab bertanya kepada Mbah Hamid “Lapo mbok tangisi ?” (kenapa kamu menangisi Kiai Wahid ?). Mbah Hamid menjawab “Gus Wahid niku cepet munggah derajate, tapi geh cepet pejahe ?” (Kiai Wahid itu derajatnya cepat naik, tapi juga cepat wafatnya).

Dikemudian hari, takwil mimpi itu menjadi kenyataan. KH. Wahid Hasyim diangkat menjadi Menteri Agama saat usianya tergolong muda (35/36 tahun). KH. Wahid Hasyim wafat juga dalam usia muda. Ceritanya saat KH. Wahid berencana menghadiri rapat Nahdlatul Ulama di Sumedang, Jawa Barat, Sabtu 18 April 1953. Perjalanan menggunakan mobil Chevrolet putih milik KH. Wahid yang disupiri dari tim Harian Pemandangan. Gus Dur kecil duduk di depan, ayahnya di jok belakang bersama Argo Sutjipto, Sekretaris Jenderal Majalah Gema Muslimin.

Pukul satu siang, sampailah mereka di Cimindi. Hujan deras membuat jalan licin, ban Chevrolet selip dan sang supir tak mampu mengendalikannya. Mobil melaju zigzag, di depan sebuah truk mobil KH. Wahid mengerem, bagian belakang mobil membentur truk itu dengan keras. Supir dan Gus Dur selamat, tetapi KH. Wahid Hasyim terpelanting keluar dan jatuh di bawah truk, Argo turut terlontar keluar. KH. Wahid terluka para di bagian kening, mata, pipi, leher dan langsung pingsan seketika. KH. Wahid wafat pukul 10.30 keesokan harinya 19 April 1953 pada usia 39 tahun.

Sumber : Tambakberas, menelisik Sejarah memetik Uswah – 2018

*Ditulis oleh Gus Ainur Rofiq dari kisahyang diriwayatkan oleh KH. Irfan Sholeh Tambakberas pada tanggal 16 agustus 2016 dan dari buku “Wahid Hasyim untuk Republik dari Tebuireng”.

Redaksi

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

19 − 14 =