Cancel Preloader

Tak Ada Imlek di Indonesia Tanpa Gus Dur

 Tak Ada Imlek di Indonesia Tanpa Gus Dur

Ilustrasi/Hidayatuna

Digiqole ad

HIDAYATUNA.COM – Sebelum 2001, Indonesia tidaklah semeriah saat ini yang bebas menyaksikan pertunjukan barongsai. Melihat petasan dan kembang api, serta melihat kebahagiaan saudara-saudara kita yang keturunan Tionghoa merayakan Imlek. Dengan penuh suka cita mereka berkumpul bersama keluarga.

Di tahun itu juga warga Indonesia tidak bisa menikmati masa-masa libur Imlek seperti sekarang. Ini semua adalah berkat seorang sosok humanis yang kita cintai, Gus Dur.

Indonesia memang begitu istimewa. Rumahnya keberagaman adalah Indonesia. Diketahui berdasarkan data sensus pada tahun 2010, terdapat penduduk Tionghoa di Indonesia sebanyak 2,83 juta atau 1,2% dari 236,7 juta penduduk Indonesia.

Bahkan beberapa daerah di Indonesia ada kawasan khusus penduduk Tionghoa. Seperti halnya Yogyakarta yang memiliki pecinan bernama Kampung Ketandan yang ada di kawasan Malioboro. Setiap Imlek tiba, kampung pecinan tersebut selalu menyelenggarakan Pekan Budaya Tionghoa (PBTY).

Setiap orang bisa datang untuk melihat berbagai pertunjukan khas Cina dan menikmati berbagai suguhan makanan ala Cina. Pengunjung yang datang pun bukan saja mereka yang keturunan Tionghoa, tetapi dibuka secara umum termasuk muslim.

Gus Dur Bapak Tionghoa

Tepat pada tanggal 23 Januari 2001, yang menjadi malam tahun baru Imlek, mulai tampak lampion terpasang di atap-atap rumah dan klenteng. Orang-orang Cina pun bisa dengan leluasa sembahyang di klenteng tanpa adanya larangan lagi.

Sebagaimana diketahui bahwa sebelumnya, warga Tionghoa di Indonesia tidak bisa merayakan Imlek dengan bebas seperti saat ini. Hal ini tidak terlepas dari adanya Inpres yang diterbitkan oleh mantan Presiden Soeharto No. 14 tahun 1967 tentang larangan agama, kepercayaan, dan adat istiadat di Cina.

Segala sesuatu yang berbau Cina dilarang, termasuk perayaan Imlek.Bahkan di masa Orde baru, etnis Tionghoa tidak diakui sebagai suku bangsa. Kondisi ini tentunya sangat miris terutama di kalangan warga Tionghoa yang bertempat di Indonesia.

Ketidakadilan ini pun berakhir setiap Gus Dur menerbitkan Inpres No. 6/2000 yang membebaskan warga Tionghoa untuk dapat kembali menjalankan kepercayaan serta budayanya. Salah satunya merayakan tahun baru Cina, Imlek.

Hingga akhirnya pada tanggal 10 Maret 2004 yang juga bertepatan dengan Cap Go Meh, Gus Dur mendapatkan gelarnya sebagai Bapak Tionghoa. Kini warga Tionghoa di Indonesia pun bisa bernapas lega karena tradisi yang selama ini ditinggalkan bisa mereka jalankan kembali di bawah rangkulan dan perlindungan seorang Gus Dur.

Warga Indonesia pun kecipratan baiknya karena bisa tetap menikmati waktu santai bersama keluarga di rumah, di hari Imlek. Terbukti bahwa Islam adalah agama rahmatin lil alamin, hal inilah yang tercermin dari sikap Gus Dur dalam hal toleransi ini.

Bagi Gus Dur Tidak Ada Pribumi dan Nonpribumi

Gus Dur sudah menegaskan bahwa dalam konsep kebangsaannya, tidak ada yang namanya pribumi dan nonpribumi. Hal seperti inilah yang memberikan sekat dan keterbatasan bagi warga Tionghoa yang tinggal di Indonesia. Kesan rasis begitu jelas ditampakkan yang membuat warga Tionghoa serasa terpojok.

Banga Indonesia sendiri adalah kombinasi dari tiga ras berupa Melayu, Astro-melanesia, dan Cina sehingga di Indonesia tidak ada masyarakat asli. Bahkan Gus Dur sendiri menganggap dirinya adalah keturunan antara Cina dan Arab.

Islam dan Cina Adalah Perpaduan yang Indah

Kini tidak perlu lagi merasa asing dengan keberadaan warga keturunan Cina di sekeliling kita. Bahkan kita juga tidak perlu merasa aneh dengan seorang Tionghoa yang beragama Islam. Selama ini masih ada saja orang yang berpandangan bahwa orang keturunan Tionghoa adalah beragama Buddha.

Padahal tidak semua orang Tionghoa beragama Buddha. Kita tidak bisa mengeneralisirnya, contohnya saja salah satu suku minoritas terbesar di Cina yakni suku Hui adalah beragama Islam. Lalu di Yogyakarta dan beberapa daerah di Indonesia ada perkumpulan orang Tionghoa muslim yang bernama Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI).

Dengan begitu, mari kita rayakan Imlek tahun ini dengan penuh suka cita meskipun di tengah pandemi. Selamat Imlek bagi yang merayakannya. Xin Nian Kuai Le Shen Ti Jian Kang Wan Shi Ru Yi Gong Xi Fa Cai.

Widya Resti Oktaviana

Widya Resti Oktaviana

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

5 × three =