Taat pada Allah adalah Kesaktian yang Sejati

 Taat pada Allah adalah Kesaktian yang Sejati

Ratib al-Haddad (Ilustrasi/Hidayatuna)

Digiqole ad

HIDAYATUNA.COM – Orang dulu banyak yang tertarik dengan ilmu kesaktian sebab di masa lalu adalah eranya perang, penjajahan dan minimal perkelahian. Di masa itu para guru sering memberi resep “wirid sakti” pada orang-orang yang suka kesaktian.

Agar wirid itu ampuh ada syaratnya, yaitu agar dibaca tiap sesudah salat. Akhirnya orang yang awalnya tidak berminat salat jadi salat agar bisa ampuh wirid saktinya.

Niat mencari kesaktian ini receh karena duniawi, tapi berhasil membuat orang salat. Kalau dipikir-pikir, metode iming-iming recehan ini juga bisa dicari landasannya di Alquran. Dalam ayat perintah sedekah misalnya, kita dapati iming-iming bahwa sedekah kita akan diganti 10 kali lipat atau lebih.

Ayat ini seolah menyuruh anak kecil untuk memberikan permennya yang seharga 1.000 lalu dijanjikan akan dibelikan permen baru senilai 10.000. Dibanding balasan surga, balasan di dunia ini hanya recehan, tetapi efektif membuat orang yang selalu perhitungan soal uang akhirnya tertarik bersedekah.

Jalan Hidayah atau Ukuran Kesalihan?

Tak perlu terlalu kritis ketika banyak guru di masa ini sering memberi iming-iming recehan untuk amalan yang seharusnya bisa mendatangkan balasan besar di akhirat. Misalnya, mengajari orang bersalawat, membaca waqi’ah dan salat dhuha dengan iming-iming agar lancar rezekinya.

Ada pula yang mengajari berbuat baik ke orang dengan iming-iming agar dibalas kebaikan pula oleh orang lain. Lalu mengajari pakai jilbab trendi agar dibilang anggun dan salihah, dan sebagainya.

Hal-hal semacam itu adalah recehan semua, bahkan dapat menghabiskan pahala kebaikan yang harusnya didapat di akhirat. Tapi iming-iming recehan itulah yang membuat banyak orang meniti jalan hidayah.

Lambat laun ketika yang diinginkan tercapai atau ketika sudah menjadi pribadi yang lebih matang. Besar kemungkinan untuknya beralih pada tujuan yang ideal, yakni ridha Allah semata.

Bagaimana bila justru goalnya adalah recehan terus? Banyak juga yang hingga tua kebaikannya hanya fokus pada tujuan recehan seperti ingin dihormati orang, kaya raya dan semacamnya. Demikian itu biasanya memang sudah “garisnya” di level itu saja.

Abdul Wahab Ahmad

Ketua Prodi Hukum Pidana Islam UIN KHAS Penulis Buku dan Peneliti di Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur dan Pengurus Wilayah LBM Jawa Timur.

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

1 × three =