Syarat Saksi Nikah yang Harus Dipenuhi

 Syarat Saksi Nikah yang Harus Dipenuhi

Ijab qabul didampingi saksi (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM – Dalam sebuah akad nikah, harus ada saksi yang berjumlah minimal dua orang laki-laki. Untuk menjadi saksi nikah pun tidak sembarangan, Islam telah mengatur perihal syarat menjadi saksi nikah tersebut.

Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi seseorang ketika hendak menjadi saksi nikah. Allah SWT. berfirman,

فَإِذاَ بَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ فَأَمْسِكُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ أَوْفَارِقُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ وَأَشْهِدُوا ذَوَيْ عَدْلٍ مِّنكُمْ وَأَقِيمُوا الشَّهَادَةَ للهِ

Artinya : “Apabila mereka telah mendekati akhir iddah-nya, maka rujukilah mereka dengan baik atau lepaskanlah mereka dengan baik. Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu dan hendaklah kamu tegakkan kesaksian itu karena Allah.” (QS. at-Thalaq: 2)

Selain itu juga disebutkan dalam hadis keterangan berikut :

لاَ نِكَاحَ إِلاَّ بِوَلِيًّ وَشَاهِدَيْ عَدْلٍ

“Tidak sah pernikahan, kecuali dengan (izin) wali dan dua saksi laki-laki yang adil.” (HR. Baihaqi)

6 Syarat Menjadi Saksi dalam Pernikahan

Imam Abi suja’ dalam kitab Matan Taqrib li Matni Abi Syuja’, jilid I, halaman 31 menyebutkan setidaknya ada enam syarat seseorang dapat menjadi saksi atas pernikahan seseorang. Sebagaimana disebutkan dalam keterangan berikut :

ويفتقرالولي والشاهدان إلى ستة شرائط: الإسلام والبلوغ والعقل والحرية والذكورة والعدالة

Artinya, “Wali dan dua saksi membutuhkan enam syarat: Pertama, beragama Islam. Kedua, baligh. Ketiga, berakal sehat. Keempat, merdeka. Kelima, laki-laki. Keenam, adil.”

Dari penjelasan di atas, dapat kita pahami bahwa wali dan dua orang saksi dalam pernikahan harus memiliki enam persyaratan:

  • Islam

Seorang wali ataupun saksi nikah diharuskan beragama Islam. Dengan demikian, apabila wali atau kedua saksi tersebut non-Muslim, maka pernikahan tidak akan sah.

  • Baligh

  • Berakal sehat

  • Tidak dalam kondisi gila, mabuk atau epilepsi

  • Merdeka

  • Lelaki

Beradasarkan keterangan kitab ini, maka pernikahan dianggap tidak sah apabila wali atau saksi adalah perempuan.

  • Adil

Adil yang dimaksud di sini ialah sifat seorang muslim yang menjaga diri dan martabatnya. Kebalikan dari adil ialah fasiq.

Keterangan diatas juga selaras dengan saksi dalam perkawinan menurut Kompilasi Hukum Islam, sebagaimana terdapat dalam pasal 25 berikut: Yang dapat ditunjuk menjadi saksi dalam akad nikah ialah seorang lakilaki muslim, adil, aqil baligh, tidak terganggu ingatan dan tidak tuna rungu atau tuli.

Dari penjelasan diatas dapat diketahui bahwa seorang wali ataupun saksi nikah diharuskan beragama Islam. Dengan demikian, jika dalam sebuah akad nikah yang menjadi saksi salah satunya adalah non-Muslim, maka akad nikahnya tidak sah dan harus diulang.

Redaksi

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

5 × 5 =