Warning: sprintf(): Too few arguments in /home/u7096914/public_html/wp-content/plugins/wp-user-avatar/includes/class-wp-user-avatar-functions.php on line 668
Cancel Preloader

Syair Dan Syiar: Dari Amir bin ‘Uquq, Fariduddin Attar Hingga Jalaluddin Rumi

 Syair Dan Syiar: Dari Amir bin ‘Uquq, Fariduddin Attar Hingga Jalaluddin Rumi
Digiqole ad

HIDAYATUNA.COM – Diriwayatkan di dalam Sahih Bukhari, salah seorang sahabat bernama Amir bin ‘Uquq ra memimpin perjalanan. Ketika memimpin di baris paling depan maka Amir bin ‘Uquq ini membaca syair-syair menyemangati hadirin yang ikut didalam shaf-shaf (barisan) Nabi Saw.

Ketika selesai membaca syair-syair, Rasulullah bertanya :

Man farih hadza? Siapa itu yg membaca syair paling depan?

Maka orang-orang berkata : Amir bin ‘Uquq ya Rasulullah.

Rasul menjawab : “Yarhamhullah” Allah SWT melimpahkan rahmat kepadanya.

Selain Amir bin ‘Uquq, masyhur kisah Hasan bin Tsabit, Abdulah bin Rawahah adalah penyair yang dimiliki umat muslim di jaman Rasulullah. Syair juga merupakan senjata ampuh untuk menghancurkan moral musuh, dan bisa juga sebagai peyemangat kaum muslimin dalam bersyiar.

Itu artinnya syair yang baik selama redaksi kalimat nya ma’ruf (manfaat) juga kesukaan Baginda Nabi Saw.

Lantas adakah ulama kemudian yang mengunakan syair sebagai sarana “dakwah” ?

Antara tahun 1215-1220 M kawasan Asia Tengah mengalami situasi panik dan mencekam karena penyerangan tantara mongol.

Ketika itu penduduk kota Balkh, Afghanistan, berbondong-bondong mengungsi. Mereka bergegas meninggalkan tanah kelahirannya untuk menyelamatkan diri dari kebiadaban pasukan tentara Mongol.

Pasukan Hulagu Khan itu dengan membabi buta menghancurkan kota-kota Islam di wilayah Khurasan Raya.

Sebuah keluarga ulama terkemuka bernama Bahauddin Walad Muhammad bin Husain kemudian memutuskan untuk hijrah ke Anatolia masuk wilayah Turki sekarang.

Di tengah perjalanan saat melintasi Kota Nishapur, Iran, keluarga itu bertemu dengan seorang penyair Persia terkemuka, Fariduddin Attar.

Attar terkagum-kagum saat melihat seorang bocah berusia delapan tahun yg tengah berjalan di belakang sang ayah.

Tiba-tiba, dari mulut Attar terucap sebuah kalimat :

“Tengah datang ke sini sebuah lautan (sang ayah) yang di belakanganya diikuti sebuah samudra (si bocah).”

Sang penyair besar itu pun meramalkan kelak si bocah akan menjadi tokoh spiritual yang besar.

Sang penyair besar itu lalu menghadiahkan sebuah kitab yang ditulisnya bertajuk “Asrarnama” kepada anak kecil itu. Berbilang tahun, ramalan Attar itu akhirnya menjelma menjadi sebuah kenyataan.

Ketika menginjak usia dewasa, bocah cilik itu benar-benar menjadi salah satu tokoh spiritual dan penyair sufi terbesar dalam sejarah peradaban Islam. Sang penyair sufi legendaris itu bernama Jalaluddin Ar Rumi.

Nama lengkapnya Maulana Jalaluddin Muhammad bin Muhammad Al Balkhi Al Quniwi. Lahir pada tanggal 30 September tahun 1207 M di Balkh (sekarang wilayah Afghanistan).

Jalaluddin Rumi adalah seorang pujangga atau penyair Muslim abad ke -13. Ia lebih dikenal sebagai seorang sufi mistic. Rumi telah diakui sebagai seorang ahli spiritual terbesar dan penyair intelek yg hebat sepanjang sejarah.

Hasil karya besarnya berupa syair telah dikenal sangat baik oleh seluruh dunia, khususnya di kalangan pujangga Persia, Afghanistan, Iran dan Tajikistan. Beberapa syair Rumi juga sangat populer di seluruh dunia dan telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa.

Mungkin tidak banyak masyarakat yang tahu ar Rumi juga menciptakan sebuah tarian yang dinamakan “Sema”, para penari bergerak berputar tanpa henti mengenakan pakaian putih berlengan panjang, dan bawahan seperti rok lengkap dengan celana dan kepala ditutup dengan penutup kepala.

Redaksi

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

16 − fifteen =