Biografi TokohKabar Nasional

Syaikh Muhammad Garut, Sosok Ulama Besar Nusantara di Makkah


HIDAYATUNA.COM, Jakarta – Pada masa peralihan abad 19 ke 20 Masehi, terdapat banyak ulama-ulama besar Nusantara yang menjadi tokoh penting dalam dunia pendidikan di Makkah. Salah satunya adalah Syaikh Muhammad Garut.

Dalam sebuah manuskrip Syaikh Salim b. Muhammad Garut (Syaikh Salim Garut), menurut Dosen Magister UNU (Universitas Nahdlatul Ulama) Ahmad Ginanjar Sya’ban memberikan informasi berharga terkait jaringan intelektual ulama Sunda di Makkah.

“Dalam sanad di atas, Syaikh Salim Garut menyebutkan beberapa nama ulama Nusantara yang mengajar di Makkah. Di antara para ulama itu adalah Syaikh Muhammad Garut yang tak lain adalah ayahnya sendiri,” ungkap Ginanjar Sya’ban dilansir dari catatan di akun Facebooknya.

Lantas siapakah sosok Syaikh Muhammad Garut ini? Ginanjar menyebutkan bahwa sosok Syaikh Muhammad Garut tak lain adalah orang tua dari Syaikh Salim Garut.

Michael F. Laffan dalam “The New Turn to Mecca”, mengutip bagian dari catatan perjalanan Snouck Hurgronje ke beberapa pesantren di Priangan sepanjang 1889-1891 (LOr. 7931: 26), menyebut Syaikh Muhammad Garut sebagai putra dari Kiyai Hasan Basori Kiarakoneng (Laffan menulisnya dengan “Kiara Kareng”), Suci, Garut dari istrinya yang berasal dari Jawa di Makkah.

“Kiyai Hasan Basori sendiri adalah murid dari Kiyai Mulabaruk Garut dan guru dari R.H. Hasan Mustapa,” jelasnya.

Ginanjar menambahkan, Muhammad Garut pada mulanya belajar dasar-dasar ilmu keislaman dari ayahnya di Kiarakoneng, juga dari pamannya Kiyai Muhammad Razi Sukamanah sekaligus dari kakeknya, Kiyai Abdullah Salim Cibangbang. Muhammad Garut juga sempat belajar kepada Kiyai Bunter di Tanjungsari Sumedang, lalu meneruskan ke arah timur, yaitu ke pesantren Sidoresmo di Surabaya di bawah asuhan Kiyai Ubaidah, kemudian menyeberang ke Bangkalan di pulau Madura.

Baca Juga :  Abuya KH Sirajuddin Abbas Ulama dan Politikus Besar Asal Minang

“Ketika berusia dua puluh tahun, Muhammad Garut pergi ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji dan belajar di kota suci itu. Selama kurang lebih tujuh tahun lamanya, ia belajar di bawah bimbingan Kiyai Zahid Solo,” sambungnya.

Setelah itu, ia pun belajar kepada Syaikh Muhammad Shâlih al-Zawâwî dan Syaikh Muhammad Hasbullâh al-Makkî, untuk kemudian menjadi murid terdekat dari Syaikh Ahmad Khatib Sambas. Syaikh Muhammad Garut sempat pulang ke tanah asalnya dan membina sebuah pesantren di kampung Balong, Cibunut, Garut.

“Di usia tuanya, Syaikh Muhammad Garut kemudian kembali pergi ke Makkah dan menetap di kota suci itu sambil mengajar,” jelas Ginanjar.

Sebelumnya, Syaikh Muhammad Garut pernah dijumpai oleh Snouck saat ia berada di Makkah pada tahun 1885. Jejak tentang Syaikh Muhammad Garut terekam dalam buku Snouck yang berjudul “Mekka” (dipublikasikan pada tahun 1888). Snouck mendeskripsikan sosok Muhammad Garut sebagai ulama besar Sunda yang mengajar di Makkah dengan reputasi keilmuan yang tinggi.

Syaikh Muhammad Garut juga terbilang sebagai penyambung koneksi keilmuan antara Makkah dengan Sunda (Priangan) yang penting. Ia mengajar di Masjidil Haram dan membuka kelas keilmuan Islam di rumahnya yang terletak di Jabal (gunung) Abû Qubays, Makkah. Oleh karena itu pula, bagi kalangan orang-orang Sunda di Makkah, Syaikh Muhammad Garut lebih dikenal dengan julukan “Mama [Ajengan] Jabal”.

“Julukan lain untuk Syaikh Muhammad Garut adalah “Ajengan Balong” atau “Ajengan Cibunut” (merujuk pada pesantrennya di Balong, Cibunut, Garut),” sambungnya.

Selain itu, Syaikh Muhammad Garut juga disebut sebagai salah satu murid dan suksesor Syaikh Ahmad Khatib Sambas, sang inisiator Tarekat Qadiriah Naqsyabandiah. Dalam jaringan ini, Syaikh Muhammad Garut selevel dengan Syaikh Abdul Karim Banten, murid dan suksesor Syaikh Ahmad Khatib Sambas yang paling masyhur.

Baca Juga :  UIN Jakarta Pastikan Mahasiswa Terdampak Covid-19 Dapat Bantuan

“Syaikh Muhammad Garut memiliki seorang murid sekaligus suksesornya dalam tarekat ini, yaitu Kiyai Muhammad Shalih dari Sukabumi,” ungkap Ginanjar.

Syaikh Muhammad Garut memiliki beberapa anak. Di antara mereka adalah Syaikh Salim b. Muhammad Garut yang sedang kita bicarakan di muka, Syaikh Abdullah Manshur b. Muhammad Garut, Syaikh Ahmad b. Muhammad Garut, Syaikhah Khadijah bt. Muhammad Garut, dan yang paling terakhir adalah Syaikh Siraj b. Muhammad Garut.

Terkait sosok Syaikh Siraj Garut dan Karyanya, Baca Juga: Kitab Kuno Karya Ulama Besar Makkah Asal Sunda Ditemukan

Tags

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close