Susupan dalam Sisipan: Ajaran Salafi dalam Kitab Aswaja

 Susupan dalam Sisipan: Ajaran Salafi dalam Kitab Aswaja

Maulid Nabi Menurut Ahli Hadis Al-Hafidz As-Sakhawi (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM – Upaya kelompok Salafi menyusupkan ajarannya ke kitab-kitab Aswaja bukan barang baru, sudah lama sekali. Tapi kini mereka membidik kitab yang paling sering digunakan oleh pengikut Mazhab Syafi’i, kitab Ianah Ath-Thalibin, Hasyiah dari kitab Fathul Mu’in yang dijadikan jenjang “Fikih Menengah”, dan hampir semua pesantren mengkajinya.

Keunggulan lain dari kitab Ianah Ath-Thalibin ini termasuk referensi yang paling banyak dijadikan rujukan dalam keputusan Bahtsul Masail. Sebab Muallif kitab tersebut wafat tahun 1302 H dan menjadi guru dari para Muassis NU.

Sebelum secara khusus kita bahas apa yang disisipkan dalam kitab Ianah Ath-Thalibin, ada baiknya kita telusuri dulu model-model mereka dalam upaya menyusupkan ajarannya:

1. Hadis

Di bidang hadis ini sepertinya yang paling banyak. Dapat kita jumpai catatan Syekh Albani yang mentakhrij kitab Bulughul Maram karya Al-Hafidz Ibnu Hajar, ketika hadis Qunut Subuh langsung dikomentari “Hadis Munkar”.

Saat ngaji saya beri penjelasan kepada jemaah bahwa Imam Ibnu Hajar itu Mazhab Syafi’i. Di kitab Raudhatul Muhadditsin Al-Hafidz Ibnu Hajar menilai hadis Qunut Subuh sebagai hadis Hasan, bukan dhaif apalagi Munkar.

2. Akidah

Saya temukan langsung saat saya menelaah Fathul Bari, karya Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqallani, guna persiapan Kuliah Subuh yang secara khusus ngaji kitab Sahih Bukhari.

Pemberi Ta’liq adalah Syekh Bin Baz, Ketua Mufti Arab Saudi. Catatan yang beliau sisipkan bukan soal nama-nama Rijalul Hadis, tetapi ketika Al-Hafidz Ibnu Hajar menakwil hadis-hadis yang secara zahir menunjukkan Allah seolah memiliki sifat yang sama dengan manusia -karena Ibnu Hajar beraqidah Asy’ariyah- maka di catatan kaki Syekh Bin Baz menyalahkan takwil Al-Hafidz Ibnu Hajar dan diarahkan menjadi Tajsim.

3. Fikih

Demikian pula dalam ilmu Fikih seperti karya-karya Imam Nawawi, diantaranya kitab Majmu’, Al-Adzkar dan Riyadhus Sholihin, terkait baca Alquran di kuburan langsung divonis salah dalam catatan kaki yang mengatasnamakan Tahqiq.

Langkah Kongkrit

Sebenarnya mudah melacak susupan mereka ke dalam kitab-kitab klasik kita, yakni seputar amalan yang mereka kampanyekan sebagai syirik dan bid’ah. Itu saja. Baik yang terdapat dalam kitab Akidah, Hadis dan Fikih.

Bentuk kongkritnya tidak lain dan tidak bukan adalah penguatan dalil-dalil Amaliah Aswaja.

  • Kitab Ianah Ath-Thalibin menganjurkan ziarah ke makam para ulama, namun pentahqiq justru mengatakan perjalanan ziarah kubur adalah dilarang.

Ma'ruf Khozin

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

1 + seventeen =