Sosok Gus Baha Dinilai Sebagai Cendekiawan Rakyat

 Sosok Gus Baha Dinilai Sebagai Cendekiawan Rakyat

Sosok Gus Baha Dinilai Sebagai Cendekiawan Rakyat


HIDAYATUNA.COM, Jakarta – Ketua Komunitas Padhang Makhsyar, Nurbani Yusuf menilai sosok Gus Baha disebut sebagai representasi cendekiawan rakyat. Menurutnya fenomena ulama muda ‘alim Gus Baha dinilainya cukup riuh.

“Saya sangat suka. Ada oase. Segar penuh harapan. Menerangi juga hangat. Nakal, cerdas, jenaka, solutif, berani dan jujur apa adanya. Khas cendekiawan kampung,” ungkap Nurbani dikutip Hidayatuna.com (5/7) dari unggahan Facebooknya.

Ia menjelaskan, entah sejak kapan keilmuan hanya diklaim perguruan tinggi semacam collage, universitas, akademi atau institut— lalu hanya mereka yang berhak mengeluarkan ijazah. Melakukan sertifikasi. Menentukan lulus dan tidak lulus.

Dirinya menganggap, Gus Baha bukan hanya menguasai bahasa, metodologi, berbagai ilmu alat atau literatur berlimpah. Tapi juga punya perspektif yang luas.

“Karakter yang kokoh. Dan padanan lain semisal. Simbol Ilmuwan rakyat yang lahir dan besar dari rahim didikan rakyat. Ini yang membedakan Gus Baha dengan ilmuwan lain yang bergelar,” sambungnya.

Dalam ha ini, lanjut dia, Gus Baha tak perlu gelar. Tak perlu tunduk pada aturan baku para akademisi yang kaku berbelit dan boros kata karena ditindas footnote dan jurnal scopus.

“Pikiran-pikiran Gus Baha mudah dimengerti, gampang di dapat dan relevan dengan kehidupan,” jelasnya.

Seperti halnya para nabi. Maka cendekiawan sebagai pewaris para nabi berbicara dengan bahasa rakyatnya.

“Jadi Gus Baha tak perlu ‘ke-marab’ atau ‘ke-minggris’ agar terlihat pintar, terlihat ilmiah kemudian bicara dengan kata-kata yang sulit di mengerti. Gus Baha tidak bicara dengan bahasa buku atau jurnal. Ia hadir ditengah,” ujarnya.

Gus Baha lajut dia, meski NU tapi pikiran, wawasan, ide dan gagasannya sudah jauh melampaui— sebab kebenaran ilmu memang tak punya mazhab, aliran atau kelompok. Kebenaran itu universal tidak mengenal ruang dan waktu. Atau klaim para petualang ilmu.

“Ibarat kata, Gus Baha sukses menyajikan menu kampung ke hotel bintang 10– saya tidak mengatakan bahwa Gus Baha adalah ulama yang paling ‘ngalim’. Tapi Ia punya keberanian melawan hegemoni, merubah kemapanan dan manawarkan nuansa,” jelasnya.

“Melihat Gus Baha mengaji, pikiran saya melambung jauh — membayangi Imam Hanafi, Imam Malik, Imam Syafi’i dan Imam Ahmad mengajar dikitari para santrinya —yang ta’dzim menyimak, mendengar dan mengaji. Tidak kemrungsung menyalahkan yang tidak sepandangan,” tandasnya.

Redaksi

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

4 × 5 =