Slow Living: Sebuah Seni Menikmati Hidup dengan Pendekatan Diri kepada Pencipta

 Slow Living: Sebuah Seni Menikmati Hidup dengan Pendekatan Diri kepada Pencipta

Tidak Perlu Membanding-bandingkan (Ilustrasi/Putri Febrianti)

HIDAYATUNA.COM, Yogyakarta – Ada banyak kegiatan manusia yang harus terus dikerjakan setiap harinya. Dalam waktu 24 jam, manusia harus bisa membagi dan mengatur waktu demi menuntaskan urusannya.

Manusia mengerjakan hal-hal sesuai dengan kebutuhan dan perannya dalam kehidupan. Semakin sibuk, maka semakin akan dinilai produktif.

Begitulah standar penilaian yang dipasang oleh masyarakat pada umumnya. Selain urusan duniawi, tentu kita tidak bisa terlepas dari kebutuhan akan memenuhi urusan ukhrawi.

Belakangan ini, di kalangan anak muda, kata hectic menjadi salah satu istilah yang populer. Kata hectic didefinisikan sebagai keadaan di mana seseorang sedang banyak melakukan kegiatan yang padat atau situasi kerja yang sangat sibuk.

Namun, sering kali menjadi suatu hal yang diabaikan ketika seseorang berada dalam situasi tersebut, lantas apakah ia dapat berkomitmen agar bisa memenuhi kewajiban dan tugas-tugasnya sebagai seorang muslim?

Kegiatan-kegiatan yang termasuk dalam kategori urusan duniawi kadang lebih mudah dan banyak dilakukan oleh mayoritas orang.

Tanpa disadari, beberapa waktu untuk berurusan dengan Sang Pencipta menjadi berkurang bahkan terlupakan. Hal tersebut tentu harus lebih diperhatikan kembali.

Karena kesibukan yang dihadapi setiap harinya menjadi sesuatu yang kurang bernilai ketika kita melupakan tugas dan kewajiban kita untuk selalu memprioritaskan pendekatan diri kepada Sang Pencipta.

Mengenal Gaya Hidup Slow Living

Dijelaskan dalam surah Al-Anbiya’ ayat 37 sebagai berikut:

خُلِقَ ٱلْإِنسَٰنُ مِنْ عَجَلٍ ۚ سَأُو۟رِيكُمْ ءَايَٰتِى فَلَا تَسْتَعْجِلُونِ

Artinya:

“Manusia telah dijadikan (bertabiat) tergesa-gesa. Kelak akan Aku perIihatkan kepadamu tanda-tanda azab-Ku. Maka janganlah kamu minta kepada-Ku mendatangkannya dengan segera.”

Allah berfirman bahwa tabiat manusia itu tergesa-gesa. Allah memerintahkan agar tidak meminta sesuatu kepadaNya dengan terburu-buru dan terpengaruh hawa nafsu.

Hal tersebut tentu sangat relevan dengan kondisi yang selalu dihadapkan kepada umat muslim dalam kehidupannya.

Ada banyak keinginan dan permintaan yang harus segera dicapai serta pekerjaan-pekerjaan sehari-hari yang dikerjakan secara terburu-buru.

Dalam setiap harinya, seseorang selalu ingin mengusahakan keinginannya untuk segera ia dapatkan dan nikmati.

Padahal untuk menikmati hidup tidak hanya dengan memperbanyak pencapaian dan keinginan.

Bisa jadi dengan menerapkan gaya hidup slow living kita dapat lebih menikmati kehidupan dan tentu menemukan makna yang lebih berarti akan kehidupan.

Slow living menjadi tren besar yang jika dipelajari bahwa pesan dasar yang terkandung di dalamnya adalah tentang mengonsumsi lebih sedikit dan mengambil pendekatan yang lebih lambat untuk kehidupan sehari-hari.

Pola pikir yang membuat kita kemudian menyusun gaya hidup yang lebih bermakna dan sadar dengan apa yang paling kita hargai dalam hidup.

Mensyukuri waktu yang telah diberikan oleh Allah Swt. dengan cara merayakan hidup penuh dengan pertimbangan akan kualitas daripada kuantitas.

Namun demikian, slow living bukan berarti mengajarkan kita untuk bermalas-malasan karna seperti yang termaktub dalam Q.S. Al-Insyirah ayat 7 berikut ini:

فَإِذَا فَرَغْتَ فَٱنصَبْ

Artinya:

Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain.”

Hikmah yang terkandung dalam surah Al-Insyirah ayat 7 adalah nilai dan semangat produktivitas.

Quraish Shihahb, dalam Tafsir Al-Misbah menjelaskan jika ditinjau dari segi bahasa, kata faragha bermakna kosong setelah sebelumnya penuh baik secara materi maupun non-materi.

Dapat disimpulkan bahwa maksud dari ayat tersebut terdapat perintah untuk memanfaatkan kesempatan waktu yang Allah berikan kepada kita.

Namun dalam hal ini, tentu Allah tidak memerintahkan umatNya agar selalu berproduktivitas tanpa memperhatikan keseimbangan antara urusan ukhrawi dan duniawi.

Terlalu fokus dengan urusan-urusan duniawi justru akan membuat kita abai untuk tetap menjalin hubungan harmonis dengan Allah Swt.

Maka dari itu di era yang serba praktis dan cepat ini, tak heran jika banyak orang terlena akan tuntutan yang sesuai dengan keadaan zaman.

Slow living bisa menjadi salah satu solusi untuk menghindari serta mengurangi sikap terburu-buru dalam menikmati hidup yang telah diberikan oleh Sang Pencipta.

Wallahu ‘alam. []

Putri Febrianti

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *