Sketsa Hidup Muhammad Diponegoro, Sang Pengarang Muhammadiyah

 Sketsa Hidup Muhammad Diponegoro, Sang Pengarang Muhammadiyah

Muhammad Diponegoro, Sang Pengarang Muhammadiyah (Ilustrasi/Hidayatuna)

Digiqole ad

HIDAYATUNA.COM – Empat bulan sebelum Sumpah Pemuda dideklarasikan, lahir seorang pengarang yang namanya mirip dengan pejuang Jawa Pangeran Diponegoro. Dialah Muhammad Diponegoro, lahir di Yogyakarta (1928-1982).

Di masa awal hidupnya tidak terlalu mulus. Kendati demikian, ia tercatat telah menamatkan Hollandsch-Inlandsche School (HIS) dan lulus di SMP Muhammadiyah Yogyakarta. Pendidikannya dipaksa berhenti karena kondisi negeri yang tengah perang melawan penjajah.

Di masa jeda pendidikan itu, ia ikut latihan militer di BKR, TRI, sampai TNI. Tahun 1945 ia menjadi anggota Hisbullah Batalyon 25 Wonosari dengan pangkat Letnan Dua. Ia juga pernah menjadi Komandan Seksi pada Resimen Ontowiryo III Yogyakarta (1947-1948).

Baru pada tahun 1951, Mohammad Diponegoro melanjutkan pendidikannya di SMA. Namun sayangnya, ketika melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi di ITB jurusan teknik elektro dan Fisipol UGM, ia harus berhenti sebelum dinyatakan lulus.

Meski demikian, suami dari Azminah yang dikaruniai delapan orang anak ini aktif terlibat dalam gerak seni bercorak Islam di lingkungan Muhammadiyah. Keterlibatannya dibuktikan dengan mendirikan Teater Muslim pada tahun 1961.

Seni Berdakwah Muhammad Diponegoro

Muhammad Diponegoro mendirikan Teater Muslim atas restu dan dukungan dari Prabuningrat (kakak Sri Sultan Hamengkubuwono IX) dan tokoh Muhammadiyah, A.R. Baswedan. Teater Muslim ini bersamaan dengan Bengkel Teater yang didirikan Rendra dan teater milik Umar Kayam menjadi barometer seni perteateran di Indonesia pada masa itu.

Nama Teater Muslim melejit ketika mementaskan naskah drama bertajuk Iblis. Bahkan naskah drama Iblis tersebut pernah dipentaskan di kota-kota besar di Indonesia pada masa itu seperti Solo, Surabaya, Malang, Klaten, Madiun, Ponorogo, Jakarta, Bandung, dan lain-lain (1961-1964).

Saking populernya, naskah ini pernah dimuat dalam satu babak di Majalah Budaya nomor 102 dan diterbitkan oleh Pustaka Panjimas, Jakarta pada tahun 1983.

Di tahun 1975, karir Mohammad Diponegoro sebagai pengarang mendapatkan pengakuan yang baik di lingkungan Muhammadiyah. Ia dipercaya untuk menduduki jabatan Wakil Pemimpin Umum merangkap Wakil Pemimpin Redaksi Majalah Suara Muhammadiyah. Tidak hanya itu, ia juga menjadi Komisaris PT Percetakan Persatuan.

Ia pernah menulis puitisasi terjemahan Alquran Juz Amma sebanyak 38 buah. Puitisasi itu dimulai dari Al-Fatihah (pembukaan) dan dipungkasi dengan An-Nas (Manusia). Dari karyanya itu, ia tercatat sebagai orang pertama sekaligus pelopor di negeri ini dalam penulisan puisi yang bersumber dari ayat-ayat kitab suci milik umat Islam.

Secara tidak langsung, Mohammad Diponegoro juga ingin memberi terang. Puisi yang bersumber pada Alquran selain memiliki daya sakral, juga sebagai alat dakwah bagi umat Islam.

Sebab Alquran pada dasarnya memang memuat kalimat-kalimat indah yang tidak lekang oleh usia, tidak terbatas pada tempat, dan bisa diekspresiakan dalam berbagai bentuk kesenian.

Memenangkan Sayembara

Konon, Mohammad Diponegoro juga menulis cerpen tidak kurang dari 500 karya. Sebagian besar dari cerpennya yang ditulis ini telah disiarkan di Radio ABC pada siaran Bahasa Indonesia di Australia sepekan sekali.

Beberapanya lagi dikirim dan dimuat di berbagai majalah dan koran ternama di negeri ini seperti Kompas, Suara Muhammadiyah, Panji Masyarakat, Gema Islam, Majalah Budaya, Majalah Siasat, dan lain-lain.

Hanya saja yang disayangkan, cerpen ratusan itu luput tidak terawat dengan baik. Satu-satunya buku kumpulan cerpennya diterbitkan oleh Shalahuddin Press pada tahun 1986 dengan judul “Odah dan Cerita lainnya”.

Belakangan Penerbit Interlude bekerjasama dengan Studio Pertunjukan Sastra mengais sisa-sisa cerpennya dan dibukukan dengan tajuk Zaman Perang (2018). Itu pun hanya memuat 17 cerpen dari sekian ratus karya semasa hidupnya yang telah diproduksi.

Mohammad Diponegoro juga hanya menulis satu buah novel semasa karirnya sebagai pengarang. Novel itu diberi judul Siklus yang diterbitkan Pustaka Jaya (1975). Novel itu pun memenangkan sayembara yang diselenggarakan oleh Panitia Tahun Buku Internasional DKI Jakarta di tahun tersebut.

Kini nama Mohammad Diponegoro telah tertimbun tidak dikenal oleh generasi yang datang belakangan. Ia terlupakan oleh tumpukan pengarang anyar yang mungkin kiprahnya tidak terlalu moncer dibanding dirinya.

Kendati demikian, ia telah menjadi salah satu pilar pengarang yang selalu mencatut nafas Islam dalam setiap karya-karyanya.

Ahmad Sugeng Riady

Masyarakat biasa merangkap marbot di pinggiran kota Yogyakarta

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

8 + 19 =