Situs Menara Peninggalan Pra Islam di Irak Masih Berdiri Kokoh

 Situs Menara Peninggalan Pra Islam di Irak Masih Berdiri Kokoh

Situs Menara (Ilustrasi/Hidayatuna)

Digiqole ad

HIDAYATUNA.COM, Jakarta – Setiap bangsa memiliki jejak sejarahnya masing-masing. Sejumlah situs sejarah itu tentu saja terus dilestarikan untuk mengenang sejarah masa lampau.

Salah satu situs sejarah di Irak bernama menara pengintai perang berhasil menarik perhatian publik luas. Hal ini dikarenakan situs sejarah tersebut merupakan situs sejarah peninggalan pra Islam.

Bahkan sampai detik ini, menara pengintai perang itu masih berdiri kokoh. Menara tersebut berbama menatra Al-Faruq, yang letaknya berada di ujung barat Irak. Bangunan tersebut termasuk salah satu situs sejarah tertua di kawasan tersebut.

Menara ini merupakan salah satu monumen terpenting Irak yang sebelumnya digunakan untuk tujuan militer, seperti memantau pasukan musuh yang menyerang kota. Meski kuno dan diabaikan otoritas terkait, landmark bersejarah ini terus bertahan.

Dilansir dari Republika, menara Al-Faruq yang terletak di distrik arkeologi Hit, sebelah barat Al-Anbar. Menara ini dinamai menurut nama khalifah Umar bin Khattab, yang membangun kembali dan merehabilitasi itu.

“Menara itu juga digunakan untuk menerangi jalan bagi konvoi dari gurun. Serta kapal yang menyeberangi sungai pada saat itu,” ungkap Inspektur Purbakala Distrik Hit, Nabil Moussa, Rabu (28/4/2021).

Dia menjelaskan, menara sangat terdampak karena pengabaian pemerintah berturut-turut, kurangnya pekerjaan pemeliharaan. Hal tersebut juga dikarenakan pembangunan banyak jalan di dekatnya, dan pembukaan Cornish Hit Street.

3 Menara Al-Minaret

Menara ini tingginya 100 meter dan bisa dilihat dari mana saja di dalam Hit. Diameternya tiga meter, bentuknya seperti silinder.

“Menara Al-Faruq dan peninggalan serta situs arkeologi lainnya di Al-Anbar harus mendapat dukungan pemerintah. Tim khusus harus mulai bekerja untuk memelihara menara dan peninggalan lainnya. situs di distrik,” kata dia Mossa.

Ada tiga Menara Al-Minaret di Al-Anbar, di Desa Jabba di Distrik Al-Baghdadi, kedua adalah Masjid Al-Faruq di distrik Haditha. Terakhir adalah menara Al-Faruq di Hit, yang semuanya merupakan situs arkeologi dan warisan.

Direktur Barang Antik al-Anbar, Mohammed Jassim, menuturkan ada masalah yang menghambat pemeliharaan Menara Al-Faruq di Hit. Dia juga memaparkan, menara itu milik Sunni Endowment.

Pekerjaan pemeliharaan diusulkan atas endowment tersebut di bawah pengawasan General Authority for Antiquities and Heritage.

“Tetapi Wakaf Sunni menjawab bahwa memelihara menara membutuhkan uang dalam jumlah besar. Pembicaraan dengan Wakaf Sunni mengenai pemeliharaan menara telah berlangsung sejak 2011, tetapi hasilnya sedikit. Otoritas Umum untuk Benda Purbakala dan Warisan tidak memiliki alokasi dana untuk pemeliharaan di manapun di Irak,” tambahnya.

Sejarawan Irak, Seifeddine Islam, berharap meminta Wakaf Sunni untuk berkontribusi pada pemeliharaan situs arkeologi. Daripada membuang-buang uang dengan membangun masjid dengan biaya lebih dari 80 miliar dinar Irak di Al-Fallujah, yang berisi lebih dari 150 masjid.

“Distrik Hit terkenal dengan warisannya, apakah Menara Al-Faruq, Al-Nawa’eer, atau Kastil Hit, semua landmark ini diabaikan dan tidak dipertahankan selama bertahun-tahun. Mayoritas slogan di lembaga negara mengusung menara masjid ini, tetapi menjadi slogan tanpa pemeliharaan dan perhatian,” tuturnya.

Redaksi

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

four × 3 =