Situs Bongal Tapanuli Tengah Simpan Artefak Tua Peninggalan Umayyah-Abbasiyah

 Situs Bongal Tapanuli Tengah Simpan Artefak Tua Peninggalan Umayyah-Abbasiyah

Artefak Tua di Situs Bongal Tapanuli Tengah Peninggalan Umayyah dan Abbasiyah (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM, Jakarta – Baru baru ini, pakar filologi Islam, Ahmad Ginanjar Sya’ban, melalukan kunjungan ke rumah penyimpanan benda-benda bersejarah. Kunjungan dilakukan di Situs Bongal yang terletak di Desa Jago-jago, Kecamatan Badiri, Kabupaten Tapanuli Tengah (Sumatra Utara). Di situs tersebut banyak artefak tua peninggilan dari dinasti Umayyah dan Abbasiyah.

“Secara topografis, kawasan ini merupakan teluk dengan perairan yang tenang. Teluk ini juga dikelilingi oleh wilayah perbukitan yang hijau. Di seberang teluk terdapat pula gugusan kepulauan Mursala. Pada teluk Jago-Jago juga bermuara aliran sungai besar.” Demikian diungkapkan Ginanjar dalam catatan perjalanannya di wilayah tersebut yang diunggah di akun Facebook, Selasa (12/10/2021).

Ginanjar menjelaskan, para arkeolog yang melakukan penelitian atas situs ini menyimpulkan bahwa Bongal lebih tua sekitar 200 tahun. Usia itu dibanding situs yang ada di Desa Lobu Tua atau Pelabuhan Tua Barus. Di Situs Bongal ditemukan berbagai macam artefak tua yang menakjubkan.

Situs Bongal Tapanuli Tengah Simpan Artefak Tua Peninggalan Umayyah dan Abbasiyah
Situs Bongal Tapanuli Tengah Simpan Artefak Tua Peninggalan Umayyah dan Abbasiyah

“Di antaranya adalah kayu-kayu pecahan kapal kuno yang berasal dari abad ke-7 Masehi. Selain itu, di situs Bongal di Jago-Jago juga ditemukan banyak koin mata uang emas dari masa dinasti Umayyah dan Abbasiyah di Timur Tengah (abad ke-8 hingga 11 Masehi),” jelasnya.

Di samping koin emas, lanjut Ginanjar, terdapat beberapa artefak lainnya dari zaman Abbasiah di Timur Tengah juga ditemukan di situs Jago-Jago ini. Seperti pecahan piring keramik hias, botol kaca, tembikar, juga alembik (alat penyulingan kimia).

Catatan Pelancong Timur Tengah Masa Abbasiah

“Penemuan beberapa artefak dari zaman Abbasiah ini sekaligus mengkonfirmasi data-data historis yang sedang kami teliti. Yakni catatan para pelancong, pedagang, ahli geografi dan ilmuwan Timur Tengah dari masa Abbasiah yang merekam jejak kota-kota pelabuhan tua di sepanjang pesisir wilayah Barus Raya,” ungkapnya.

Menurut Ginanjar, di antara para pedagang, penjelajah, pelancong dan ilmuan Timur Tengah masa Abbasiah yang mewartakan keberadaan Barus. Dalam catatan mereka adalah Abu Zaid al-Shirafi, Sulaiman al-Tajir, Ibn Khardadbeh, Ibn al-Faqih, al-Mas’udi, al-Biruni dan lain-lain.

“Catatan para pelancong Timur Tengah masa Abbasiah di atas menginformasikan keberadaan Barus sebagai pusat niaga interasional yang penting di wilayah kepulauan Nusantara. Yang terkoneksi dengan Cina, India, Timur Tengah dan Eropa. Di antara komoditas niaga andalan Barus adalah kafur, gaharu, kemenyan dan rempah-rempah,” jelasnya.

Meski letak ibu kota pemerintahannya adalah Baghdad di Mesopotamia, imperium Abbasiah adalah pemegang kontrol utama lalu lintas niaga dan aktivitas perdagangan di Samudra India. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan kiranya jika di sepanjang kawasan pelabuhan tua. Di sepanjang wilayah Samudra India banyak ditemukan pelbagai macam artefak yang berasal dari zaman Abbasiah.

“Termasuk halnya penemuan artefak-artefak kuno zaman Abbasiah di situs Bongal (Jago-Jago) di Tapanuli Tengah ini. Saya jadi berasumsi, jika pada masa lalu kawasan Jago-Jago ini adalah sebuah pelabuhan niaga yang penting. Yang terkoneksi dengan Labo Tua di Barus dan Singkil Tua di Aceh Singkil,” tandasnya.

Romandhon MK

Peminat Sejarah Pengelola @podcasttanyasejarah

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

four × 5 =