Siti Masyithah dan Ujian Keimanan di Zaman Fir’aun

 Siti Masyithah dan Ujian Keimanan di Zaman Fir’aun

Perawat Perempuyan Pertama dalam Islam (Ilustrasi/Hidayatuna)

Digiqole ad

HIDAYATUNA.COM – Siti Masyithah adalah budak keluarga Fir’aun, sehari-hari ia bekerja sebagai penata rambut putri dari penguasa besar Fir’aun. Soal agama, ternyata Masyithah tidak mengikuti Fir’aun yang pada saat itu mengaku sebagai tuhan. Ternyata Masyithah secara diam-diam mengikuti ajaran agama yang dibawa oleh Nabi Musa A.s.

Suatu ketika, ia sedang duduk menyisir rambut putri Fir’aun, tiba-tiba sisir yang dipegangnya jatuh. Ia langsung berkata:  “Dengan nama Allah, binasalah orang-orang yang kafir kepada Allah,” mendengar kalimat itu, putri Fir’aun berkata: “Apakah kamu mempunyai Tuhan selain ayahku?”

Tanpa ragu Masyithah menjawab, “Benar, Tuhanku, Tuhanmu dan Tuhan segala sesuatu adalah Allah, hanya dan hanya kepadanya aku menyembah.” Mendengar ucapan itu, putri Fir’aun menampar dan memukulnya lalu melaporkan kejadian tersebut kepada Fir’aun.

Setelah kejadian itu, Masyithah dipanggil oleh Fir’aun untuk memastikan apakah ia mempunyai Tuhan selain Fir’aun. Setelah di interogasi oleh Fir’aun, Masyithah pun tanpa ragu menjawab bahwa ia secara diam-diam mengikuti agama Musa dan menyembah Allah.

“Tuhanku, tuhanmu dan tuhan segala sesuatu adalah Allah, hanya dan hanya kepadanya aku menyembah.”

Ketika mendengar hal itu, Fir-aun langsung menyiksa, mengikat kedua dan kakinya lalu memasukkannya ke kandang ular. Masyithah dibiarkan dalam keadaan seperti itu selama beberapa hari dengan ular yang berbisa itu.

Keteguh Iman Masyithah Diuji

Kemudian Fir’aun pada suatu hari datang lagi menemui Masyithah dan menanyakan kembali apakah ia jera dengan hukuman itu.” Apakah kamu ingin hukumannya dihentikan?

Ia tetap kokoh dengan pendiriannya ia tetap menjawab: “Tuhanku, Tuhanmu dan Tuhan segala sesuatu adalah Allah, hanya dan hanya kepadanya aku menyembah.”

Mendengar hal itu, Fir’aun sangat geram dan mengancam  akan membunuh Masyithah dan anak-anaknya. Tetapi Masyithah tidak takut terhadap semua keputusan Fir-aun.

Seketika itu ia langsung menyuruh bala tentara untuk menyiapkan lempengan tembaga panas. Kemudian, ia memerintahkan agar Masyithah dan anak-anakanya dilemparkan ke atas tembaga panas tersebut.

Tanpa berfikir panjang, bala tentara Fir’aun melemparkan anak-anak Masyithah. Ketika giliran anak yang masih bayi tiba, tak disangka bayi itu berbicara, ”Ibuku! Loncatlah ke sana, jangan takut karena jalan yang ditempuh ibu sangat benar.”

Jaminan Surga bagi Siti Masyithah

Dalam sebuah riwayat diceritakan bahwa dalam sejarah ada empat bayi yang masih dalam ayunan sang ibu dapat berbicara. Mereka ialah bayi Masyitah, bayi yang menjadi saksi bagi nabi Yusuf, bayi yang menjadi teman Juraij, dan Nabi Isa a.s.

Dalam riwayat lain diceritakan bahwa mereka memang di lemparkan ke atas tembaga dan di sembelih satu persatu. Fir’aun menyembelih anak pertama dan keduanya di depan mata Masyitah, kemudian ruh anaknyan menyampaikan kabar gembira bahwa ibunya akan mendapatkan tempat yang termulya di sisi Allah.

Menurut Ibnu Katsir, istri Fir’aun mendengar suara ruh anak Masyitah. Siti Asia langsung beriman kepada Allah, ketika mencabut nyawa Masyitah, Allah menampakkan pahala, kedudukan dan kemuliaan di Surga kepada istri Fir’aun. Kemudian, ia beriman kepada Allah.

Ibu mana yang tega melihat anaknya dipanggang di atas tembaga panas? Namun, keimanan tidak bisa ditukar dengan apa pun, panas dunia biasa saja tetapi panas di akhirat siapa yang bisa melawan. Allah SWT. sudah menyiapkan surga yang begitu indah untuk Masyithah dan anak-anaknya.

Siti Masyithah adalah perempuan yang diuji keimanannya oleh Allah dengan dipaksa untuk mengakui Fir’aun sebagai tuhan. Namun, keimanannya tidak bisa ditukar dengan apa pun meski anaknya sendiri. Jika hal ini terjadi pada kita, mungkinkah kita bisa melakukan hal yang sama dengan Siti Masyithah? Wallahu a’alam.

 

Referensi : Buku Doa-Doa Khusus Wanita Agar Sukses, Sehat, Kaya Dan Bahagia Dunia Akhirat, Amrullah Syarbini

Nafilah Sulfa

https://hidayatuna.com/

Penulis adalah santri aktif Pondok Pesantren Ziyadatut Taqwa Pamekasan Madura, dan Mahasiswi Ilmu Alquran dan Tafsir semester akhir di IAIN Madura. Pegiat kajian Feminisme.

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

sixteen + 11 =