Setelah Hoax Klepon Muncul Indomie Saksang Babi, Bagaimana Pandangan Islam?

 Setelah Hoax Klepon Muncul Indomie Saksang Babi, Bagaimana Pandangan Islam?

Setelah Hoax Klepon Muncul Indomie Saksang Babi, Bagaimana Pandangan Islam?

HIDAYATUNA.COM – Satu hari kebelakang publik media sosial dihebohkan dengan makanan. Ya, betul yaitu kue klepon yang disebut sebagai makanan yang tidak Islami dan ternyata itu hoax. Meme tersebut disinyalir dibuat untuk memancing dan menimbulkan keributan. beanra saja banyak sekali yang meresponnya.

Belum selesai masalah klepon, muncul lagi gambar Indomie rasa Saksang Babi. Apa itu Saksang Babi, yaitu makanan khas Batak dibuat dari daging anjing atau babi yang dibuat dengan rempah dan santan. Lagi-lagi, seperti klepon ini menyebabkan keributan kembali pasalnya Indomie merupakan salah satu brand mie instan yang digemari masyarakat Indonesia. Padahal Indonesia adalah myoritas muslim, jelas kemudian yang muncul adalah pertanyaan ke halalan produk Indomie.

Tidak tinggal diam pihak Indomie mengklarifikasi dan menjawab bahwa gamabr yang berdar mengenai mie rasa Saksang Babi tidaklah benar dan menyatakan produk Indomie sudah mendapatkan sertifikasi HALAL dari MUI agar aman dikonsumsi.

Dua kasus di atas menunjukkan banyak kasus hoax disaekitar kita, khususnya di media sosial. Bagaimana Islam menghukumi hoax?

Berita bohong (hoax) dalam khazanah Islam bukanlah hal baru, bahkan dalam Alquran dan hadis disinggung dengan jelas. Bagaiman orang muslim harus waspada terhadap sebuah informasi atau berita yang berkembang. Allah berfirman dalam Surat al-Hujarat ayat 6:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (Qs. Alhujurat: 6).

Penjelasan dalam ini sangatlah jelas agar selalu menelaah kabar atau berita yang datang, khususnya jika berita itu dibawa oleh orang fasik. Sekarang ini menjadi lebih rumit sebab dalam perkembangan medsos dan media masa yang begitu masif kita tidak bisa meneliti lagi siapa sang pembawa berita serta dari mana asalnya. Tentu untuk lebih hati-hati penting sekali meragukan tiap informasi yang ada sambil mencari tahu kebenarannya.

Islam menyuruh manusia untuk berhati-hati akan hadirnya berita bohong (hoax) jangan sampai ikut menyebarkannya. Allah sangat membenci orang yang membuat dan menyebarkan berita bohong bahkan melaknatnya. Sebagaimana dalam hadis al-Mughirah bin Syu’bah, Nabi SAW bersabda:

إِنَّ اللَّهَ كَرِهَ لَكُمْ ثَلَاثًا قِيلَ وَقَالَ وَإِضَاعَةَ الْمَالِ وَكَثْرَةَ السُّؤَالِ

Artinya: “Sesungguhnya Allah membenci tiga hal pada kalian: menyebarkan kabar burung (katanya-katanya), pemborosan harta, dan banyak bertanya.” (HR Al-Bukhari Nomor 1477).

Allah sangat tidak ridha terhadap penyebar berita bohong (hoax), sebab yang dilakukan tidak hanya merugikan diri sendiri tapi juga orang lain. Berita bohong memiliki dampak yang sangat luas dan serius karena dapat berujung pad fitnah. Sudah banyak diketahui bahwa memfitnah dosanya sangat besar bahkan disamakan atau lebih besar daripada membunuh.

Mungkin saja pembuat berita bohong (hoax) bisa aman di dunia tapi diakhirat azabnya sangat pedih. Sebagaimana dijelaskan dalam potongan hadis dari Samurah bin Jundub, Rasulullah menceritakan mimpi beliau, Nabi berkata, “Aku tadi malam mimpi tentang dua orang laki-laki yang mendatangiku kemudian keduanya memegang tanganku lalu membawaku ke negeri yang disucikan (al-muqaddasah), di sana terdapat seorang laki laki yang sedang berdiri dan yang satunya lagi duduk yang di tangannya memegang sebatang besi gancu. Besi gancu tersebut dimasukkan ke dalam satu sisi mulutnya hingga menembus tengkuknya. Kemudian dilakukan hal yang sama pada sisi mulut yang satunya lagi, lalu dilepas dari mulutnya dan dimasukkan kembali dan begitu seterusnya.” (HR Al Bukhari, hadits nomor 1297).

Betapa ngerinya laknat terhadap pembuat dan penyebar hoax, semoga kita dapat melindungi diri dan keluarga kita terhadap hoax. Wallahu a’lam.

Redaksi

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

19 + 7 =