Setajam Apa Senjatamu?

 Setajam Apa Senjatamu?

Mengajarkan Doa (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM, Yogyakarta – Hidup ini penuh dengan permasalahan dan marabahaya. Dalam menghadapi semua itu kita memerlukan senjata. Senjata seorang mukmin adalah doa.

Mengapa disebut sebagai senjata? Karena doa adalah inti atau otak dari ibadah. Sebuah senjata akan berdayaguna jika digunakan oleh seorang expert.

Begitu juga dengan doa. Tidak setiap doa yang (langsung) dikabulkan.

Kalau senjata membutuhkan tangan yang terampil agar ia berfungsi sebagaimana mestinya, maka doa membutuhkan hati yang bersih untuk mendapatkan ijabah dari Zat yang diminta.

Simaklah sebuah kisah berikut ini yang menggambarkan betapa dahsyatnya doa sebagai senjata umat mukmin.

Di negeri Khurasan ada seorang alim rabbani bernama Abu Utsman al-Hiri. Ia bagi masyarakat Khurasan sama seperti Imam al-Junaid bagi masyarakat Irak.

Penguasa di masa itu bernama Ahmad bin Abdullah al-Khujastani. Meski namanya bagus tapi perbuatannya sangat tidak bagus.

Ia yang membunuh alim Khurasan yang sangat disegani Imam Haikan adz-Dzuhli. Ia tidak segan membunuh siapapun demi memenuhi keinginannya.

Suatu ketika ia memancangkan sebuah tombak yang panjangnya lebih kurang dua meter.

Lalu ia berkata kepada para pedagang dan orang-orang kaya di daerah itu,

“Kalian mesti menutup tombak ini sampai ke ujungnya dengan uang. Kalau tidak, darah kalian halal untukku.”

Tentu dibutuhkan uang yang sangat banyak untuk menutupi tombak itu sampai ke ujungnya dengan tumpukan dinar dan dirham.

Para pedagang yang ketakutan itu berbagi beban sesama mereka. Ada yang mendapat beban 10.000 dirham, 20.000 dirham dan seterusnya.

Salah seorang pedagang mendapat beban 30.000 dirham. Tapi ia hanya bisa mengumpulkan sebanyak 3000 dirham saja.

Ia pun datang pada Abu Utsman al-Hiri mengadukan masalah berat yang dihadapinya.

Abu Utsman berkata, “Apakah engkau izinkan aku bertasharruf pada 3000 dirham ini?”

Sang pedagang berkata, “Silahkan.”

Abu Utsman kemudian membagi-bagikan uang 3000 dirham itu pada fakir miskin.

Sang pedagang hanya bisa terpaku. Uang yang ia kumpulkan susah payah untuk menebus nyawanya ternyata dibagi-bagikan Abu Utsman pada orang-orang yang membutuhkan.

Setelah itu Abu Utsman bermunajat pada Allah Swt dengan penuh tadharru’. Malam itu ia bolak-balik dari rumah ke masjid dan berdoa sampai datang waktu subuh.

Setelah azan subuh dikumandangkan ia menyuruh salah seorang muridnya untuk keluar mendengar apakah ada sesuatu yang terjadi.

Muridnya pulang dan mengatakan, “Tidak ada apapun yang terjadi, Imam.”

Abu Utsman kembali bermunajat. Kemudian ia berkata dengan penuh yakin:

وَحَقِّكَ لاَ أَقَمْتُ مَا لَمْ تُفَرِّجْ عَنِ الْمَكْرُوْبِيْنَ

Artinya:
“Demi Dzat-Mu, aku tidak akan iqamahkan subuh ini sampai Engkau lapangkan orang-orang yang sedang kesusahan.”

Barangkali inilah yang dimaksud dalam sebuah hadits Rasulullah saw:

إِنَّ مِنْ عِبَادِ اللَّهِ مَنْ لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللَّهِ لَأَبَرَّهُ

Artinya:

“Sesungguhnya diantara hamba-hamba Allah ada hamba yang kalau ia bersumpah terhadap Allah, Allah akan penuhi permintaannya.”

Kemudian ia kembali menyuruh salah seorang muridnya untuk pergi mencek apakah ada peristiwa terjadi.

Muridnya kembali dengan penuh gembira sambil berkata, “Allah Swt sudah berikan kelapangan. Ahmad bin Abdullah baru saja terbunuh.”

Setelah itu Abu Utsman berkata pada muazinnya:

أقم الصلاة

Setelah menukil kisah ini dari Imam al-Hakim, Imam adz-Dzahabi dalam Siyar A’lam an-Nubala’ berkomentar:

مثل هذا يعظم مشايخ الوقت

Artinya:
“Karena inilah para masyayikh di masa itu dimuliakan.”

رحم الله مشايخنا وقدواتنا وألحقنا بهم مع الصالحين

Demikian kisah inspiratif mengenai betapa dahsyatnya doa sebagai senjata umat mukmin. []

Yendri Junaidi

Pengajar STIT Diniyah Putri Rahmah El Yunusiyah Padang Panjang. Pernah belajar di Al Azhar University, Cairo.

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *