Sesajen dan Indonesia : Tradisi Lokal vis a vis Islam

HIDAYATUNA.COM – Indonesia adalah negara plural yang memiliki ragam rupa keunikan, mulai dari keragaman agama, ras, suku, keunikan adat budaya yang teramat beragam, hingga kekayaan kearifan lokal yang sangat ruah-melimpah. Keragaman yang ada di bawah payung Pancasila sebagai dasar negara dan dilindungi negara.

Pernahkah Anda melihat keanggunan rupa pelangi yang indah nan menawan? Bukankah pelangi yang indah karena ragam warna yang dimilikinya? Andai saja pelangi yang indah tadi hanya memiliki rupa warna yang seragam, niscaya akan hambar penampakan yang akan dirasa.

Kira-kira keindahan yang demikian tidak jauh berbeda dengan Indonesia. Ragam warna yang ada menjadi ciri keunikan yang tidak dimiliki negara lainnya. Bahkan Indonesia tercatat sebagai negara yang memiliki keragaman budaya yang paling banyak sedunia. Tidak berlebihan jika UNESCO menyebut Indonesia sebagai negara Super Power dari sisi warisan Budaya.

Namun sayang, keragaman adat dan budaya yang ada seringkali dibenturkan dengan intrik yang berkedok agama, khususnya Islam. Secara fakta empiris memang yang sering muncul adalah mereka yang kerap mendaku diri sebagai seorang muslim yang taat.

Tulisan ini bukan bermaksud mendiskreditkan Islam. Tapi beberapa oknum yang mengatasnamakan Islam tidak mengindahkan dan secara tidak langsung memunggungi nilai-nilai Islami yang menjunjung sikap toleransi dan sikap saling menghargai.

Bukankah Nabi telah mengajarkan bagaimana kita harus saling menghormati satu sama lain? Bahkan kehadiran Nabi sebagai utusanNya adalah untuk menyempurnakan akhlak. Tidak pernah sekalipun nabi menyakiti orang-orang termasuk pada mereka yang berbeda agama sekalipun.

Persebaran Islam Masa Lampau

Baru-baru ini muncul fenomena penendangan sebuah sesajen berujung viral yang dilakukan seorang pria yang berlokasikan di Lumajang, di kawasan Gunung Semeru. Pekikan takbir juga mewarnai usai penendangan.

Pasalnya dalam video tersebut menyebutkan bahwa terjadinya bencana alam berupa erupsi dan banjir yang terjadi beberapa waktu terakhir karena ulah pembuatan sesajen. Hingga membuat Allah murka hingga menurunkan azab-Nya.

Mungkin bagi mereka perbuatan ini adalah amar ma’ruf nahi mungkar hingga menyelipkan takbir sebagai bentuk legalitas perbuatannya. Mungkin mereka lupa sejarah bagaimana Islam menyebar dan terbentuk di bumi Indonesia.

***

Beberapa sejarahwan menyatakan Islam menyebar di Indonesia terjadi pada abad ke-7. Sebagaimana disampaikan Buya Hamka dan Mansur Suryanegara pun termasuk dengan buku Api Sejarahnya, dan lain-lain, beberapa lainnya menyebut pada abad ke-13. Ada yang menyatakan dari Arab, Hujarat, bahkan sampai Cina. (untuk lebih lanjut, anda bisa melihat di buku-buku sejarah).

Berikutnya kesimpulan menarik yang disampaikan oleh seorang dosen, Fatkhan, pengampu mata kuliah “Sejarah Islam Indonesia”:

“Sebelum Islam datang, sosio-kultur masyarakat Indonesia, khususnya Jawa, telah banyak memeluk ajaran animisme dan dinamisme. Hindu-Budha, Kapitayan (dianggap agama pertama yang dipeluk nenek moyang Indonesia) dan beragam kepercayaan lain yang hadir sebelum Islam.

Bahkan Islam yang muncul di Indonesia pada Abad ke-7 itu menggunakan pendekatan Fiqh. Alhasil penyebarannya tidak terlalu pesat dan memiliki pemeluk yang sedikit karena dianggap tidak sesuai dengan adat dan tradisi masyarakat Indonesia yang memang dekat dengan yang begituan (secara sederhana dapat disebut sesajen meski banyak jenis lainnya).

Sementara Islam yang dihadirkan pada Abad ke-13 menggunakan pendekatan budaya lokal yang diprakarsai oleh Wali Songo yang tidak menolak adanya adat kebudayaan. Tetapi menyusupkan nilai-nilai Islami dalam tindak-tanduk adat budaya yang ada dengan nuansa yang lebih Islami.”

Islam dan Adat-Budaya di Nusantara

Kearifan lokal yang ada di Indonesia telah mengalami penyusupan nilai-nilai Islami sehingga warna Islam Indonesia memberikan rona kekhasannya tersendiri yang cenderung berbeda dengan Islam yang ada di Arab atau Islam yang ada di negara lainnya. Tentu ini juga karena perbedaan sosio-kultur yang cenderung berbeda.

Berkat kelihaian dan kecakapan Wali Songo yang lebih memilih menggunakan pendekatan budaya sebagai strategi dakwah yang dilakukan membuat pemeluknya semakin bertambah demikian pesat. Adat dan budaya bukan dijadikan musuh hingga diharamkan, tapi dijadikan wahana memperluas cakrawala ajaran Islam. Diakui atau tidak, Indonesia yang menjadi populasi muslim terbanyak saat ini sebagai bentuk konsekuensi historis dari itu.

Lihat saja bagaimana Sunan Bonang mengubah Gamelan Jawa yang amat kental nuansa Hindunya menjadi bernuansa dzikir sebagai upaya mendorong kecintaan terhadap Sang Kuasa. Tombo Ati dalam dunia pewayangan mengubah lakon dengan memasukkan tafsir-tafsir khas Islam. Sunan Kalijaga pun demikian menjadikan pendekatan budaya lokal sebagai strategi dakwahnya. Masjid Demak juga korban akulurasi budaya, dan banyak jenis lainnya.

***

Sempat saya berandai-andai, jika saja Nabi Muhammad diturunkan dan diutus di bumi Indonesia bukan di tanah Arab, pasti akan melakukan hal yang sama seperti halnya Wali Songo. Hal ini dibuktikan bagaimana Nabi Saw hadir di tengah-tengah masyarakat Arab yang secara budaya dan kultur teramat lekat dengan mabuk-mabukan, main perempuan, perang antar suku, dan lain-lain. Para sejarahwan dan para ahli sepakat menyebut zaman kala itu dengan sebutan zaman Jahiliyah, yang jahil secara moral kemanusiaan.

Ketika masyarakat Arab dekat dengan minuman keras, Nabi tidak ujug-ujug langsung memberikan pengharaman terhadap minuman keras atau khamr. Tetapi secara bertahap, sedikit demi sedikit lalu tidak dibolehkan, begitupun pengusiran hantu-hantu patriarki yang melekat berusaha didobrak dan diruntuhkan.

Bayangkan saja nasib perempuan yang saat itu seperti halnya barang dagangan yang bisa ditukar atau diperjual-belikan. Bahkan lestari adat penguburan bayi perempuan yang baru saja lahir, yang paling mengerikan adalah anggapan perempuan bukan sebagai manusia yang utuh.

Islam Rahmatan lil Alamin

Semula marak terjadi beristri banyak, tetap dibolehkan hanya diberikan batasan sampai empat, yang semula tidak mendapat warisan hingga diberikan hak 1 banding 2. Semula dianggap di bawah laki-laki diberikan pemahaman akan hak kesetaraan dengan laki-laki lainnya yang memiliki status sama sebagai khalifahNya di bumi.

Intinya kehadiran Nabi tidak ujug-ujug mengharamkan, terdapat dialektika budaya dan proses panjang sebelum terjadi pelarangan/pengharaman. Betapa adiluhung perangai dan sikap yang diambil Nabi dan penerusnya (wali songo) menyampaikan Kerahmatan Islam yang dapat diterima semua kalangan, atau dalam bahasa Alquran disebut rahmatan lil ‘alamin.

Kembali pada problem penendangan sesajen, betapapun mereka menggunakan argumen teologis yang menyatakan keharaman atas itu. Kemudian dijadikan rujukan dasar pijakannya, pun tak masalah dan sah-sah saja jika mengganggap hal itu tidak boleh dan diharamkan. Tetapi jika sampai jatuh pada aksi penendangan seperti itu, secara terang-terangan telah mencoreng kerahmatan-Nya dan mencederai norma bermasyarakat.

Menurut pandangan sempit saya, dengan teramat yakin saya menyatakan bahwa Islam tidak bermusuhan dengan budaya-tradisi lokal. Bahkan dapat memberi warna dengan memberikan gaya baru yang bernuansa lebih Islami yang lebih mengedepankan prinsip ketauhidan. Hal yang sama sebagaimana diupayakan mendiang Gus Dur dengan konsep Pribumisasi Islam-nya yang diinspirasi dakwah ala Wali Songo tetap menemukan relevansinya untuk terus kita pelajari.

Andai saja penyebaran Islam Indonesia kala itu tetap keukeuh dan ngotot mengedepankan kekerasan atas budaya lokal yang telah mengakar kuat. Akankah Islam dapat diterima secara lapang oleh masyarakat setempa? Akankah Indonesia menjadi negara dengan populasi Muslim terbanyak di dunia?

Wallahu ‘alam bi al-shawab

Ali Yazid Hamdani

https://hidayatuna.com/

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *