Selayang Pandang Perjalanan Historis Sastra Islam

 Selayang Pandang Perjalanan Historis Sastra Islam

Mengenal Utbah bin Ghazwah: Sahabat Rasulullah Sang Pendiri Basrah (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM, Yogyakarta – Sudah bukan rahasia lagi bahwasanya puncak kejayaan peradaban Islam adalah pada masa pemerintahan Bani Abbasiyah Periode I.

Pada masa tersebut, terjadi banyak sekali interaksi antara peradaban Islam dengan banyak peradaban lain di dunia.

Interaksi tersebut terjadi melalui perdagangan dan perniagaan, pernikahan dengan bangsa lain, jalur dakwah, dan masih banyak lagi.

Salah satu aspek yang juga turut berkembang pada masa tersebut adalah sastra Islam.

Membincang sastra Islam tentu merupakan suatu hal yang menarik.

Istilah sastra Islam di sini dimaknai sebagai karya-karya sastra karangan umat Islam di mana di dalamnya bukan membicarakan tentang agama Islam.

Tetapi sebelum kita berbicara lebih jauh mengenai sejarah dan periodesasi sastra Islam, terlebih dahulu harus diketahui dan dipahami apa itu sastra.

Sastra dan Paradigma yang Dibangun

Mursal Esten dalam bukunya menyatakan bahwa sastra atau kasusastraan adalah pengungkapan dari fakta asrtistik dan imajinatif sebagai bentuk perwujudan kehidupan manusia dan kehidupan bermasyarakat melalui Bahasa sebagai medium, serta memiliki efek yang positif terhadap kehidupan manusia dan kemanusiaan itu sendiri.

Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia sastra adalah karya tulis yang bila dibandingkan dengan tulisan lain, ciri-ciri keunggulan, seperti keaslian, keartistikan, keindahan dalam isi dan ungkapannya.

Karya sastra berarti karangan yang mengacu pada nilai-nilai kebaikan yang ditulis dengan bahasa yang indah.

Sastra memberikan wawasan yang umum tentang masalah manusiawi, sosial, maupun intelektual, dengan caranya yang khas.

Pembaca sastra dimungkinkan untuk menginterpretasikan teks sastra sesuai dengan wawasannya sendiri.

Pengertian sastra menurut Plato, seorang filsuf Barat, adalah hasil peniruan atau gambaran dari kenyataan (mimesis).

Sebuah karya sastra harus merupakan peneladanan alam semesta dan sekaligus merupakan model kenyataan.

Sementara dalam konteks penyebutan istilah sastra Islam pada makalah ini dimaknai sebagai karya-karya sastra karangan umat Islam di mana di dalamnya bukan membicarakan tentang agama Islam.

Pemaknaan istilah sastra yang dipakai dalam makalah ini telah disebutkan dalam pendahuluan.

Peradaban Barat sendiri memiliki khazanah kasusastraan yang beragam, di mana dalam sejarah perkembangannya tidaklah lepas dari pengaruh peradaban lain termasuk pengaruh dari peradaban Islam.

Berdasarkan periodesasi yang diajukan Harun Nasution dalam bukunya Islam Ditinjau dari Berbagai Aspek, pembabakan Sastra Islam atau sastra muslim dapat dipetakan menjadi beberapa periode, yakni klasik (611-1258 M), pertengahan (1258-1800), dan modern (1800-s.d. sekarang).

Periode yang pertama adalah Periode Klasik, yakni sastra muslim yang berkembang pada masa Rasulullah hingga masa hancurnya Bani Abbasiyah.

Periode ini dapat dibagi lagi menjadi beberapa masa lagi, yakni Masa Rasulullah (23 Tahun, yakni 611-632), Masa Khulafa al-Rasyidun (30 tahun, yakni 632-661), Masa Daulah Umayyah (92 tahun, yakni 661-750), Masa Daulah Abbasiyah (518 tahun, yakni 750-1258).

Tahun 1258 ini merupakan titik tonggak peralihan dari masa klasik ke masa pertengahan dari periodesasi peradaban Islam.

Tahun ini merupakan masa keruntuhan Dinasti Abbasiah yang berpusat di Baghdad karena serangan pasukan Mongol.

Setelah keruntuhan ini, wilayah muslim dikuasai oleh penguasa-penguasa lokal (sultan atau wazir) yang berpusat di berbagai wilayah yang tersebar, baik di Timur maupun di Barat, hingga munculnya beberapa kerajaan besar di berbagai wilayah dunia Islam.

Periode yang kedua adalah Periode Pertengahan, yakni sastra muslim yang berkembang pada masa 1258-1800.

Sebagaimana dijelaskan di atas, bahwa setelah keruntuhan Baghdad, sebagai pusat utama kekhalifahan (kekuasaan politik) muslim, wilayah-wilayah muslim dikuasai oleh penguasa-penguasa lokal, yang kemudian dikenal sebagai Lima Kerajaan Muslim besar, yakni Turki Utsmani (Eropa), Safawiah-Persia, Mughal-India (Asia Selatan), Aceh Darussalam (Melayu) dan Mataran Islam (Jawa) (Keduanya berada di Asia Tenggara).

Semua kerajaan ini tumbuh berkembang di daerah-daerah periferal (penyangga) dunia Islam, atau tidak muncul di wilayah pusat (Timur Tengah).

Oleh karena itu, sebagian ahli menganggap masa ini sebagai abad kegelapan bagi Islam di Timur Tengah.

Anggapan ini tidak terlalu salah jika sudut pandangnya adalah politik; tetapi jika ditelisik dari aktivitas lainnya, Islam di Timur Tengah tidaklah sesuram yang disajikan dalam bidang politik.

Pada periode ini, kehidupan aktivitas sastra muslim berada pada beberapa wilayah besar yaitu Sastra muslim pada wilayah protektorat Turki Utsmani, Sastra muslim di wilayah Safawiyah-Persia, Sastra muslim di wilayah Mughal-India, Sastra muslim di Melayu-Nusantara, Sastra Muslim di Jawa (Cirebon, Banten, Demak,Mataran Islam), dan Sastra muslim di Sulawesi (Bone dan Tidore).

Periode yang ketiga adalah Periode Modern, yakni sastra muslim yang berkembang pada tahun 1800 hingga masa sekarang.

Titik peralihannya adalah ketika dunia Muslim dikuasai oleh kolonial dan imperialis Eropa, terutama wilayah-wilayah di Timur Tengah.

Misalnya, Mesir jatuh pada kekuasaan Napoleon Bonaparte pada tahun 1789. Pada sisi lain, imperialisme Eropa atas dunia Islam ini telah memunculkan berbagai gerakan pembaharuan dan modernisasi di berbagai wilayah Muslim.

Karenanya, periode 1800 ini dijadikan tonggak masa modern dalam periodesasi sejarah Muslim.

Periode ini dapat juga dipetakan menjadi beberapa masa, yaitu  Sastra muslim pada masa intensif persentuhan Barat terhadap Dunia Timur (untuk tujuan perdagangan dan koloni), Sastra muslim pada masa kolonialisme dan imperialisme Barat atas dunia Timur, Sastra muslim pada masa pembaharuan pemikiran dan pergerakan menuju kemerdekaan, Sastra muslim pada masa revolusi fisik kemerdekaan dunia Islam, Sastra muslim pada masa pasca-kemerdekaan. Pembagian di atas sekali lagi mengikuti periodesasi politik yang terjadi pada masyarakat muslim. []

 

Lutfi Maulida

Saat ini aktif di Komunitas Puan Menulis dan Komunitas Santri Gus Dur Yogyakarta. Perempuan yang menyukai bacaan, film/series dan kuliner. Dapat disapa melalui Instagram @fivy_maulidah dan surel lutfimaulida012@gmail.com

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *