Selayang Pandang Kitab Tafsir Jalalain

 Selayang Pandang Kitab Tafsir Jalalain

Mengenal Kitab Tafsir Hidayatul Qur’an, Tafsir “Interkoneksi” antar Ayat-Ayat Qur’an (Ilutstrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM, Yogyakarta – Tradisi mengaji kitab di pondok pesantren merupakan bagian penting dalam proses transmisi keilmuan dari kiai kepada santri.

Berbagai macam bidang kelimuan diajarkan dalam waktu yang relatif bersamaan, salah satu yang diajarkan adalah tafsir Al-Qur’an.

Tafsir Al-Qur’an yang cukup populer di kalangan orang pesantren adalah kitab Tafsir Jalalain.

Tak hanya di pesantren, Tafsir Jalain juga diajarkan kepada masyarakat secara umum di beberapa masjid.

Sependek pengetahuan penulis, pengajian Tafsir Jalalain sering diadakan setiap Jumat pagi, tepatnya bakda subuh di Masjid Menara Kudus, Jawa Tengah yang diikuti masyarakat sekitar, dari yang muda sampai yang tua.

Biografi Pengarang Tafsir Jalalain

Tafsir Jalalain ditulis oleh dua mufasir yang berstatus sebagai guru dan murid yaitu Jalaludin al-Mahalli dan Jalaludin al-Suyuti.

Nama asli kitab tersebut adalah Tafsir al-Qur’an al-‘Azim. Namun, lebih populer dengan nama Tafsir Jalalain, karena dinisbatkan kepada kedua penulisnya yang bermakna “Tafsir Dua Jalal.”

Penulis pertama yakni Jaluddin al-Mahalli (selanjutnya disebut Al-Mahalli) bernama asli Muhammad ibn Ahmad ibn Ibrahim Ibn Ahmad Ibn Hasyim al-Mahalli.

Beliau lahir di Mesir pada tahun 791H /1389 M dan wafat pada tahun 864 H/1462 M dengan usia 73 tahun.

Selama masa hidupnya Al-Mahalli merupakan orang yang produktif dengan menguasai banyak banyak bidang pengetahuan Islam di antaranya fiqh, ilmu kalam, ilmu ushul, ilmu nahwu dan ilmu manthiq.

Berbekal dengan kematangan ilmu  yang telah dikuasainya, ia banyak menulis kitab-kitab yang sampai hari ini banyak dijadikan rujukan oleh ulama lain.

Selain itu ia juga mendapat gelar al-‘Allamah yang berarti orang yang mempunyai kemampuan intelektual yang sangat tinggi.

Di antara kitab-kitab yang ia tulis dalam bidang ushul fiqh adalah Syarh Jam’u al-Jawami’ dan Syarh al-Waraqah, sedangkan dalam bidang fiqih bermazhab Syaf’i ia menulis Syarh Minhaj.

Al-Mahalli menulis tafsirnya dimulai dari surah al-Kahfi sampai surah an-Nas.

Kemudian dilanjutkan dengan surah al-Fatihah. Namun, belum sempat menulis surah selanjutnya Jalaluddin Al-Mahalli lebih dulu menghadap Sang Pencipta.

Pasca wafatnya Al-Mahalli, penulisan Tafsir Jalalain diteruskan oleh murid beliau Jalaluddin al-Suyuti dari surah al-Baqarah sampai surah al-Isra’.

Sehingga tak heran jika dalam Tafsir Jalalain surah al-Baqarah diletakkan al-Suyuti setelah surah an-Nas.

Hal ini bertujuan agar tafsir yang ditulis gurunya menjadi satu kelompok.

Penulis kedua yakni Jalaluddin al-Suyuti (selanjutnya disebut Al-Suyuti). Al-Suyuti merupakan seroang ulama yang bernama lengkap Jalal al-Din Ab al-Fadil Abd al-Rahman ibn Abi Bakr ibn Muhamad Al-Suyuti al-Syafi’i.

Nama “aL-Suyuti” merupakan nama yang dinisbatkan dari tempat kelahiran beliau yang berada di salah satu daerah Mesir.

Al-Suyuti merupakan orang yang dikenal cerdas. Bagaimana tidak, pada usia yang relatif muda yakni 8 tahun ia sudah mampu menghafal Al-Qur’an 30 juz dan telah hafal berbagai matan hadis.

Tidak berbeda dengan gurunya “Al-Mahalli, As-Suyuti juga merupakan seorang yang produktif dan ahli dalam bidang hadis dan beberapa macam ilmu lainnya.

Ketika Al-Suyuti berusia 40 tahun, ia melakukan uzlah dan meninggalkan seluruh aktivitas dakwah dan mengajar.

Al-Suyuti mulai menyempurnakan tafsir yang ditulis oleh gurunya setelah 6 tahun pasca wafatnya Al-Mahalli.

Dalam prosesnya, Ia menghabiskan waktu selama 40 hari diawali dengan menulis surah al-Baqarah sampai surah Al-Isra’ pada hari Rabu, 1 Ramadhan dan selesai pada tanggal 10 Syawal 870 H. As-Suyuti wafat pada malam jum’at 19 Jumadil ‘Ula 911 H.

Metode dan Sistematika Kitab

Metode yang digunakan oleh al-Mahalli dan as-Suyuti dalam pemaparan tafsirnya adalah  Ijmali (global) yaitu penafsiran yang memiliki penjelasan secara singkat dan dilakukan secara berurutan dari surah ataupun ayat.

Secara metodologi Tafsir Jalalain masuk dalam kategori tafsir bi al-ra’yi.

Dengan penjelasan yang cukup singkat dan penggunaan bahasa yang sederhana tafsir jalalain dapat dipahami dengan mudah.

Untuk memperkuat penafsirannya terkadang juga ditampilkan hadis Nabi dan pendapat ulama salaf serta menampilkan Asbab al-Nuzul ayat untuk memperlihatkan konteks turunnya ayat.

Seperti tafsir pada umumnya, Tafsir Jalalain diawali dengan muqaddimah, dilanjutkan dengan surah Al-Baqarah sampai Al-Isra’ yang ditulis oleh Imam Al-Suyuti dilanjutkan dengan surah Al-Kahfi sampai surah Al-Fatihah yang ditulis oleh Al-Mahalli.

Salah satu keunikan dalam tafsir ini yaitu surah Al-Fatihah terletak dibagian akhir setelah surah An-Nas.

Dalam proses pengajarannya terdapat perbedaan di beberapa pesantren, ada yang mengawali dari surah al-Fatihah (bagian belakang) kemudian dilanjut ke surah al-Baqarah (bagian depan).

Namun, ada pula yang mengawali ngaji tafsir Jalalain dari tengah-tengah “surah al-Kahfi” sampai surah al-Fatihah, kemudian dilanjutkan dengan surah al-Baqarah sampai surah al-Isra’.

Secara periodik Tafsir Jalalain masuk dalam kategorisasi tafsir klasik.

Namun, di masa kontemporer ini tafsir jalalain masih bisa mempertahankan eksistensinya untuk dikaji.

Hemat penulis alasan mengapa tafsir Jalalain masih eksis hingga hari ini karena penjelasannya yang ringkas, kesamaan ideologi, serta pelestarian tradisi ngaji di kalangan pesantren dan masyarakat. Wallahua’alam. []

Khairun Niam

Khairun Niam adalah seorang mahasiswa dan santri Pondok Pesantren Nurul Ihsan Yogyakarta. Dapat disapan melalui Instagram @khn.niam10.

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *