Selalu Bertanya dan Berpikir, Fitrah Islam yang Sesungguhnya

 Selalu Bertanya dan Berpikir, Fitrah Islam yang Sesungguhnya

Membaca Konsepsi Fikih Minoritas (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM – Sejak kecil, barangkali ada banyak pertanyaan yang merupakan cermin dari fitrah Islam yang suci di dalam kepala kita. Hal ini terlihat ketika salah seorang jemaah majelis mengisahkan ketika sang anak bertanya:

“Kenapa Allah menciptakan orang kafir lalu Dia siksa mereka di neraka? Kenapa tidak Dia ciptakan semua manusia beriman?” tanya seorang anak kepada ibunya, yang diceritakan oleh jemaah majelis taklim.

Disamping itu, si anak terus bertanya, “Jika orang yang pahalanya lebih banyak dari dosanya, di surga. Orang yang dosanya lebih banyak dari pahalanya, di neraka. Kalau pahalanya dan dosanya sama banyak di mana nanti tempatnya?” lanjutnya.

***

Sesungguhnya apa yang ditanyakan oleh anak Ibu itu dan anak-anak lain seusianya merupakan cerminan dari fitrah yang suci semula jadi. Fitrah yang bersih, belum terkontaminasi. Fitrah yang lurus, bukan yang sudah menjurus. Fitrah yang merupakan hakikat dari Islam itu sendiri.  

فطرة الله التي فطر الناس عليها 

Fitrah manusia yang selalu mempertanyakan keadilan, ke mana semua akan berakhir. Siapa yang berada di balik drama kehidupan ini, kenapa begini dan kenapa begitu, dan sebagainya.

Ketika berbagai pertanyaan polos itu dibungkam dan dimentahkan, maka fitrahnya akan terganggu. Ketika rasa ingin tahunya dimatikan maka ia akan kehilangan daya kritis. Ia akan terima saja semua yang diajarkan kepadanya atau bahkan didoktrinkan, tanpa berani bertanya kenapa begini kenapa begitu.

Kalau sudah demikian, ia yang semula mempertanyakan hal-hal besar itu berubah menjadi mempertanyakan orang-orang yang mempertanyakan hal-hal itu. 

Ketika anak diajak berpikir dan menganalisa ia akan berkata, “Agama ini bukan untuk ‘diakali’. Abaikan akal ketika berhadapan dengan nash.” Inilah sesungguhnya benih dari ta’ashub (fanatik) dan taqlid (ikut saja), meskipun slogan yang sering digembar-gemborkan adalah “Jangan fanatik… Jangan taqlid…”. 

Seorang penyair Arab berucap : 

رمتني بدائها وانسلت  

*** 

Kita perlu kembali kepada Islam yang fitri atau Islam Fitrah (إسلام الفطرة). Apalagi saat ini sudah zaman di mana setiap kelompok mengkampanyekan kelompoknya, setiap ittijah mempromosikan tokoh-tokohnya.

Islam yang menjadikan fitrah sebagai tolok ukur, pedoman dan pemandu. Bukan Islam yang didasarkan kepada ras (Arab dan non-Arab) demografi (Asia atau Nusantara), wilayah (perkotaan dan pedesaan) dan sebagainya. 

Islam pada hakikatnya adalah perpaduan antara rasa dan akal. Itu kenapa seseorang baru akan diberikan beban (taklif) saat ia mencapai usia baligh. Pada usia ini, rasa yang dibawa sejak lahir dipandu oleh akal yang secara perlahan mulai matang. Baligh adalah titik temu yang sangat harmonis antara rasa dengan akal.  

Islam fitrah adalah Islam yang murni (pure), Islam yang menolak segala bentuk ketidakadilan, Islam yang mengakui hak akal untuk bertanya. Islam yang berpihak pada kemandirian (istiqlaliyyah), Islam yang mengapresiasi rasa ingin tahu dan menghargai perbedaan sudut pandang. Islam seperti ini yang akan diterima oleh setiap manusia karena ia sesuai dengan fitrah.  

كل مولود يولد على الفطرة 

Kalau ada yang menolak Islam, kemungkinannya hanya ada dua. Pertama, fitrah orang itu yang sudah terkontaminasi. Kedua, Islam yang dikenalnya bukan Islam yang Fitrah.  

والله تعالى أعلى وأعلم 

Yendri Junaidi

Pengajar STIT Diniyah Putri Rahmah El Yunusiyah Padang Panjang. Pernah belajar di Al Azhar University, Cairo.

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *