Kabar Internasional

Sekilas Pertempuran di Provinsi Idlib Suriah

HIDAYATUNA.COM – Tahun ini adalah tahun ke sembilan sejak perang saudara di Suriah dimulai. Sebuah perang yang kembali mengalami eskalasi, ketika pemerintah Suriah dan pasukan sekutunya meluncurkan kampanye militer untuk melawan daerah-daerah di barat laut dari negara itu yang sedang dikuasai oleh pihak oposisi.

Dalam beberapa tahun terakhir, ketika pemerintah Suriah dan pasukan sekutunya terus melancarkan kampanye militernya atas daerah-daerah yang dikuasai oleh pihak oposisi, ratusan ribu orang warga sipil dan juga pejuang oposisi yang berasal dari daerah-daerah itu akhirnya terseret ke Provinsi Idlib.

Sebagian dari Provinsi Idlib dan Aleppo yang sekarang telah menjadi garis terdepan dalam pertempuran antara kelompok-kelompok oposisi bersenjata Suriah, yang beberapa di antaranya mendapat dukungan dari Turki dan Rusia. Dan juga pasukan yang didukung oleh Iran yang setia kepada Presiden Suriah Bashar al-Assad, yang terus berusaha untuk mendapatkan kembali kendali dari seluruh daerah di Suriah.

Sampai saat ini, Pemerintah Suriah telah berulang kali berupaya untuk mengambil kendali atas jalan raya M5 yang strategis. Sebuah jalan yang membentang melewati Provinsi Aleppo dan Idlib, serta sebuah jalan yang dulunya merupakan rute komersial utama yang menghubungkan Aleppo ke Damaskus dan juga ke bagian selatan negara itu.

Posisi Provinsi Idlib juga berdekatan dengan Provinsi Latakia, sebuah benteng dari pemerintah Suriah yang merupakan rumah bagi pangkalan udara militer milik Rusia, Hmeimim.

Pada tahun 2018, kampanye militer dari pasukan pemerintah Suriah di Idlib dihentikan ketika Turki dan Rusia sepakat untuk menjadikan Provinsi Idlib sebagai zona demiliterisasi, dimana beberapa kelompok oposisi yang berada di zona itu diharuskan untuk mundur.

Namun pada bulan April 2019, pasukan Pemerintah Suriah yang didukung oleh kekuatan udara Rusia, kembali meluncurkan serangan militer terhadap pasukan oposisi di wilayah tersebut. Sejumlah kesepakatan gencatan senjata yang pernah disetujui pada musim panas lalu, dengan cepat mulai runtuh. Dan akhirnya pada bulan Desember, pasukan yang setia kepada Damaskus (ibukota Suriah) memulai lagi meluncurkan kampanye militernya melalui udara maupun darat.

Baca Juga :  Umat Islam Estonia Giat Belajar-Mengajar Demi Obati Sang Guru

Konflik Suriah pun semakin meningkat pada awal bulan ini, ketika beberapa personel militer Turki terbunuh oleh pasukan pemerintah Suriah, yang mendorong pembalasan dari militer Ankara (Ibukota Turki).

Perlu diketahui, saat ini Provinsi Idlib merupakan rumah bagi lebih dari tiga juta orang, yang sebagian besar di antaranya adalah para pengungsi. Menurut data dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), serangan terbaru pada akhir-akhir ini telah memaksa lebih dari 700.000 orang untuk meninggalkan rumah mereka, yang sebagian besar dari orang-orang itu melarikan diri ke kamp-kamp pengungsian di sepanjang jalur perbatasan dengan Turki yang telah ditutup.

Pekerja bantuan disana telah memperingatkan bahwa saat ini situasi kemanusiaan di daerah perbatasan yang penuh sesak telah menjadi sangat mengerikan. Ada sekitar satu juta orang pengungsi dari Suriah yang terpaksa tinggal di dekat perbatasan itu, dengan kamp-kamp pengungsi yang sudah dalam kondisi over kapasitas. PBB juga telah memperingatkan atas ‘bencana kemanusiaan’ yang akan terjadi jika situasi tak kunjung berubah. (Aljazeera.com)

Tags

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close