Cancel Preloader

Sejarawan AS Kagum Manuskrip Bahasa Bugis Dari Kitab Tanbīh al-Ghāfilīn

 Sejarawan AS Kagum Manuskrip Bahasa Bugis Dari Kitab Tanbīh al-Ghāfilīn

Ilustrasi/Hidayatuna

Digiqole ad

HIDAYATUNA.COM, Jakarta – Sejarawan dari University of Maryland, AS (Amerika Serikat) Jonathan Parkes Allen tak bisa menutupi rasa kagumnya. Hal itu terkait manuskrip berbahasa Bugis dari kitab Tanbīh al-Ghāfilīn karya Abu al-Laith al-Samarkandī.

Sejarawan yang fokus kajiannya sejarah Islam abad pertengahan dan modern itu mengunggah sebuah foto manuskrip di akun twitter pribadinya. Manuskrip itu merupakan peninggalan intelektual Islam Nusantara abad k-18.

Dalam postingannya itu, Allen mendiskripsikan secara singkat tentang manuskrip yang ia unggah tersebut. Allen menyebut dalam keterangannya, bahwa manuskrip beraksara Bugis (aksara lontar) itu merupakan naskah kuno peninggalan abad ke-18 M.

Manuskrip berbahasa Bugis itu merupakan terjemahan dari kitab Tanbīh al-Ghāfilīn karya Abu al-Laith al-Samarkandī. Ia melihat terdapat pemandangan yang membuatnya terkesan ketika melihat kombinasi bahasa di luar Arab (non Arab) dengan bahasa Arab.

“Sebuah contoh mencolok dari aksara Arab yang digunakan di lingkungan aksara non-Arab: akhir abad ke-18. Terjemahan bahasa Bugis Tanbīh al-Ghāfilīn karya Abu al-Laith al-Samarkandī, dengan nama dan frasa tertentu. (Seperti taṣliya dan Allāh taʿālā) dalam bahasa Arab (BL Add MS 12370),” tulis @Mar_Musa dikutip Kamis (18/2/2021).

Allen pun kemudian memuji betapa sangat menariknya manuskrip berbahasa Bugis tersebut. Ia menilai manuskrip berbahasa Bugis disebut sebagai sesuatu yang sangat bagus.

“Mari kita luangkan waktu sejenak untuk memikirkan betapa kerennya script Bugis,” jelasnya.

Sebagai informasi, saat ini fisik dari manuskrip kitab Tanbīh al-Ghāfilīn yang memakai bahasa Bugis ini disimpan di British Library di Inggris. Dimana manuskrip tersebut merupakan terjemahan dari kitab Tanbīh al-Ghāfilīn.

Untuk versi digitalnya, kita bisa mengaksesnya langsung di Digitised Manuscripts British Library. Dalam bentuk digitalnya kita bisa melihat secara jelas teks ditulis dalam aksara Bugis (dibaca dari kiri ke kanan) dan aksara Arab (dibaca dari kanan ke kiri). Manuskripnya sendiri telah berganti-ganti gaya Arab, dari kanan ke kiri, padahal teks utama dibaca dari kiri ke kanan.

Romandhon MK

Romandhon MK

Peminat Sejarah Pengelola @podcasttanyasejarah

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

fifteen + ten =