Sejarah Revolusi Islam Iran adalah Islam Sejati

 Sejarah Revolusi Islam Iran adalah Islam Sejati

Sejarah Revolusi Islam adalah Islam Sejati (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM, Teheran – Sekretaris Jenderal gerakan perlawanan Hizbullah Lebanon, Sayed Hassan Nasrallah mengungkapkan sejarah Revolusi Islam Iran 1979 adalah “Islam sejati”. Ia mengatakan dalam wawancara bersama jaringan berita al-Alam berbahasa Arab Iran.

Melansir dari IQNA, ia menjelaskan bahwa “Islam sejatilah yang membawa Revolusi Islam menentang penindasan dan kekejaman.

“Ini adalah hal yang tidak disukai AS,” katanya.

Ia juga mencatat bahwa permusuhan Washington terhadap Teheran berakar pada munculnya pendirian independen di Iran yang menikmati kedaulatan rakyat. Dengan demikian, revolusi berhasil memotong tangan Amerika Serikat dan rezim Israel dari Iran.

Menurut Nasrallah, Revolusi Islam mendorong Israel dan AS keluar dari Iran, saat rakyat Iran merayakan ulang tahun ke-43 Revolusi Islam 1979. Hal ini merupakan momen yang mampu menggulingkan rezim Pahlavi yang didukung AS.

“Hari ini, Republik Islam adalah model kemerdekaan dan kebebasan di seluruh dunia Islam dan seluruh dunia. Sementara sebelum Revolusi, Iran dikendalikan oleh AS,” katanya.

Pemimpin Hizbullah menambahkan bahwa Republik Islam saat ini adalah “kekuatan regional yang besar” yang tidak dapat diabaikan begitu saja atau dilawan.

AS, Israel takut perang dengan Iran

Nasrallahari melanjutkan bahwa Amerika Serikat hari ini takut terlibat dalam perang dengan Iran karena Republik Islam adalah negara yang kuat dan berdaulat. Negara yang dengan mudahnya dapat meremehkan nada penghasutan Washington mengenai Republik Islam.

AS juga tidak mampu menghentikan program energi nuklir damai Iran. Setiap tindakan militer oleh rezim Israel terhadap Iran juga akan ditanggapi dengan tanggapan “yang sangat intens dan keras” dari pihak Republik Islam. Oleh karena itu, rezim Israel juga takut akan pembalasan Iran.

“Iran tidak sedang bercanda dengan siapa pun. Itu akan membalas untuk tindakan militer apa pun.”

Nasrallah mencatat, Rezim Israel tidak akan pernah mampu mencapai tujuannya mengenai Hizbullah melalui peperangan.

“Jika rezim Israel yakin bahwa mereka akan menang dalam perang [potensial] dengan Hizbullah, mereka tidak akan ragu-ragu. Bahkan untuk sesaat [untuk meluncurkan perang semacam itu],” ujarnya.

Gerakan perlawanan, bagaimana pun, tidak takut perang dan juga tidak menyerah dalam menghadapi ancaman, kata pejabat itu. Ia juga menegaskan bahwa pendekatan perlawanan bertumpu pada “menyebarkan senjata apa pun untuk menghadapi ancaman Israel.”

Hizbullah telah mengaktifkan sistem pertahanan udaranya untuk menghadapi pelanggaran tak henti-hentinya rezim Israel atas wilayah udara Lebanon. Sesuatu yang telah “sangat mengurangi” pelanggaran tersebut.

Apa yang menghubungkan Iran dan Hizbullah adalah masalah perlawanan, yang merupakan “kepentingan nasional”. Dia, sementara itu, dengan tegas menolak tuduhan bahwa Kedutaan Besar Iran di Beirut melakukan intervensi dengan cara apa pun dalam prosedur pengambilan keputusan Hizbullah.

 

 

 

Sumber: Press TV/IQNA

Redaksi

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *