Sejarah Qasidah Burdah, Imam Bushiri Menang Nasib Lebih Terkenal

 Sejarah Qasidah Burdah, Imam Bushiri Menang Nasib Lebih Terkenal

Qasidah Burdah

Digiqole ad

HIDAYATUNA.COM, Jakarta – Dalam perkembangan qasidah Syekh Muhammad bin Said Al Bushiri itu terdapat banyak sekali penyebutnya. Namun yang paling terkenal orang menyebutnya dengan sebutan burdah.

Menurut pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Leteh, Rembang, KH Ahmad Mustofa Bisri atau lebih sering dikenal dengan Gus Mus, berbicara tentang sejarah burdah, maka yang kaitannya dengan burdahnya Rasulullah SAW atau selimutnya Rasululullah tak lain adalah Ka’ab bin Zuhair.

“Jadi itu ada penyair pada zaman awal Islam namanya Ka’ab. Anaknya juga penyair terkenal pada zaman Jahiliyah, namanya Zuhair. Zuhair anaknya penyair lebih terkenal lagi namanya Abi Sulma. Jadi keluarga penyair,” kata Gus Mus dalam kajian Kitab Burdah Imam Bushiri yang diunggah akun Youtube Gus Mus Channel dilansir Senin (26/4/2021).

Gus Mus menjelaskan bahwa ketika masuk Islam, cerita Ka’ab bin Zuhair ini hampir mirip dengan Ikrimah. Yaitu Ikrimah putrinya Abu Jahal.

“Asalnya berawal dari ketakutan. Ketakutan karena sebelumnya membuat syair-syair yang mengecam (atau membully kalau bahasa sekarang) kepada Kanjeng Nabi dan sahabat-sahabatnya,” jelas Gus Mus.

Puisi Kanjeng Nabi

Ternyata sifat welas asih dan penyayang Rasulullah SAW ini membuat Ka’ab bin Zuhair mendapat hidayah. Meski dibully, Rasulullah justru tetap menerima taubat semua orang yang jahat kepadanya. Padahal ia telah menyakiti hati Rasulullah SAW.

“Ka’ab bin Zuhair ini membuat puisi memuji Kanjeng Nabi yang disebut “Madah” Kanjeng Nabi. Saking apresiasine Kanjeng Nabi terhadap syair-syairnya Ka’ab itu, terus (burdah/selimutnya) langsung dicopot. Yaitu burdahnya Kanjeng Nabi. Kemudian diberikan kepada Ka’ab,” ujar Gus Mus.

Nah sementara Imam Bushiri lanjut Gus Mus, ia juga dihadiahi burdah atau selimutnya Kanjeng Nabi, namun melalui mimpi. Hal itu karena ia melakukan hal sama seperti Ka’ab bin Zuhair yang telah membuat syair qasidah madah terhadap Rasulullah SAW.

“Bedanya kalau Ka’ab (diberikan burdah oleh Kanjeng Nabi) secara langsung, sedangkan Imam Bushiri melalui mimpi. Tapi menang nasib, justru yang lebih terkenal adalah Burdah Imam Bushiri,” jelasnya.

Padahal lanjut Gus Mus, kalau melihat berdasarkan qasidah “banat suad” yaitu qasidahnya Ka’ab yang memuji Kanjeng Nabi, nampaknya qasidah burdahnya Imam Bushiri ada kemirip-miripan. “Minimal di permulaannya itu meniru Ka’ab bin Zuhair. Ia langsung mengawali dengan kalimat “Amintadhakkuri”,” jelasnya.

Romandhon MK

Peminat Sejarah Pengelola @podcasttanyasejarah

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

five × 1 =