Sejarah Masuknya Islam di Tanah Poso Sulawesi Tengah

 Sejarah Masuknya Islam di Tanah Poso Sulawesi Tengah

Sejarah Masuknya Islam di Tanah Poso Sulawesi Tengah

HIDAYATUNA.COM, Jakarta – Pakar filologi Islam dan juga dosen magister Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA) Jakarta, Ahmad Ginanjar Sya’ban menyebut sejarah masuknya Islam di Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah melibatkan jaringan kosmopolitan. Adalah komplek kampung tua Mapane, yang menurut Ginanjar Sya’ban sebagai titik mula sejarah Islam di Tanah Poso dimulai.

“Karena tonggak awal proses islamisasi Tanah Poso dimulai dari kampung ini (Mapane). Menariknya, sejarah proses islamisasi Poso melibatkan jaringan yang kosmopolitan,” ungkap Ginanjar Sya’ban dalam ulasannya di akun Facebook pribadinya dikutip Hidayatuna.com, Ahad (9/8/2020).

Jalur dakwah Islam di Poso lanjut dia, berasal dari pelbagai arah. Islam di tempat ini terdapat unsur Sumatera (Minangkabau), Sulawesi Selatan (Bugis, Mandar), Ternate dan Jawa.

“Di masa yang lebih belakangan, Wilayah Palu di Sulawesi Tengah juga memiliki peran yang sangat besar dalam proses ini di Poso melalui sosok Sayyid Idrus b. Salim al-Jufri (w. 1969) dan organisasi “al-Khairat”-nya yang berhaluan tradisionalis (Aswaja),” jelasnya.

Ginanjar menambahkan, di antara sosok yang terlibat dalam bentangan sejarah ini adalah Datuk Karama (Syaikh Abdullah Raqi), seorang ulama asal Minangkabau yang menjadi salah satu tokoh sejarah islamisasi kawasan Sulawesi Tengah di abad ke-17.

“Makam beliau berada di kota Palu dan menjadi salah satu “keramat sejarah Islam” di sana,” ujarnya.

Kemudian sosok yang lain dan memiliki pengaruh besar dalam sejarah islamisasi Poso adalah Andi Baso Ali. Ia hidup pada akhir abad 19 M dan awal abad 20 M.

“Andi Baso Ali dicatat sebagai sosok seorang saudagar kaya yang berasal dari Kesultanan Luwuk di Palopo (Sulawesi Selatan). Ia kemudian “membuka” kampung Mapane, mendirikan rumah besar dan masjid di sana. Makam Andi Baso Ali dan keluarganya pun terdapat di Mapane,” katanya.

Hingga kini, rumah, masjid dan makam Andi Baso Ali masih bisa diziarahi. Untuk masjid, bangunannya berbahan utama kayu berukir, berukuran tidak terlalu besar. Dalam catatan sejarahnya, masjid tersebut didirikan pada tahun 1923.

“Menurut tradisi masyarakat setempat, masjid tersebut dikenal dengan nama Masjid Nunu. Hal ini karena di dekat masjid pada saat itu terdapat pohon “Nunu”, yang dalam bahasa Poso berarti “Beringin”,” ungkap Ginanjar.

Pada pertengahan abad ke-20, arus baru yang berasal dari Palu, menurut Ginanjar kian mewarnai proses sejarah islamisasi di Poso. Arus ini dibawa oleh tokoh ulama besar dan kharismatik yaitu Sayyid Idrus b. Salim al-Jufri serta organisasi-madrasahnya, yaitu al-Khairat.

“Sekira tahun 1948, Sayyid Idrus mendarat di Mapane dan menziarahi masjid tua Mapane. Di kampung itu pula, Sayyid Idrus kemudian mendirikan Madrasah al-Khairat yang masih ada hingga saat ini,” jelasnya.

Ginanjar menjelaskan, secara kultural, mayoritas Muslim Poso menganut faham Islam tradisional. Karena itu, banyak tokoh Muslim di Poso yang berasal dari unsur al-Khairat, yang disebut “Abna al-Khairat”.

“Menariknya, bayak dari para “Abna al-Khairat” di Poso ini juga terafiliasi dan aktif sebagai pengurus Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Poso. Hal ini tidak mengejutkan, karena antara al-Khairat dan NU memiliki sumber haluan yang sama, hubungan sejarah yang dalam, dan koneksi jaringan intelektual yang erat,” tandasnya.

Redaksi

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

14 + two =