Sejarah IslamTokoh Muslim

Sejarah Lahirnya, Resolusi Jihad 22 Oktober, Hari Santri Nasional

HIDAYATUNA.COM – Kemunculan basis kaderisasi kemiliteran di Jawa Timur pada 5 Oktober 1945 lalu secara tak langsung melahirkan resolusi jihad. Hal ini kemudian yang kini diperingati sebagai Hari Santri Nasional pada 22 Oktober.

Kemunculan basis ini memiliki kekuatan yang tidak diragukan lagi karena kesolidannya. Jaringan ini dibangun di pesantren dengan komandan KH Wahab Chasbullah dan KH Masjkoer, serta basis-basis laskar dan sebagian dari kader kader Peta dulu.

Jaringan ini kemudian berhimpun bersama Panglima Besar Jend Soedirman. Tokoh-tokohnya pun menjadi penasihat sang Jendral besar nasionalis tersebut, seperti KH Wachid Hasjim, dokter Moewardi dan Bung Tomo.

Dilansir dari Pesantren.id, konsolidasi laskar kiai-santri dengan TNI ini tentu berbahaya bagi masa depan tentara-tentara kader KNIL dan politisi-politisi sisa-sisa pendukung-pendukung Neokolonialisme-imperialisme pasca Perang Dunia 2.

Skema Neo kolonialisme negara-negara pemenang Perang Dunia ke-2 pun tidak menyukai aliansi nasionalis dari Jawa Timur ini. Mereka menyebutnya “aliansi muslim fanatik dengan tentara kader fasis Jepang”.

Provokasi Hingga Pembubaran Laskar Kiai-Santri

Provokasi kemudian digencarkan mulai dari Solo lalu ke Madiun pada September 1948, hingga Musso dimunculkan untuk dipancing agar membuat makar. Makar ini memakan korban, yang pertama adalah dokter Moewardi. Setelah itu kembali jatuh korban selanjutnya yakni laskar-laskar santri dan kiri, tentara nasionalis Jawa Timur pun turut terlibat saling bentrok.

Pasca provokasi Musso dan Amir syarifuddin, timbul pembenaran mengenai masuknya tentara Siliwangi dan kader-kader KNIL untuk menguasai keadaan. Hal ini otomatis menciptakan kekuatan baru yang akan merontokkan aliansi lama di Jawa Timur.

Kekuatan baru ini kemudian mendiktekan jalannya Re-Ra (Rekonstruksi Rasionalisasi), program pemerintah Hatta untuk mengurangi jumlah angkatan bersenjata. Anggota laskar santri dan kiai-kiai komandan mereka di Jawa Timur menjadi sasaran utama program ini.

Baca Juga :  Sultan Hasanuddin : Legenda Ayam Jantan dari Timur

Re-Ra bahkan menuntut pembubaran laskar kiai-santri, lalu integrasi kader-kader KNIL ke dalam TNI. Setelah Jend Soedirman wafat di tahun 1950, berakhir pula bulan madu aliansi santri dan tentara nasionalis ini.

Orang-orang militer KNIL, terutama sayap kader tentara Belanda/Amerika lalu menganggap hanya dirinya yang paling sah menjadi pembela negara dan paling berjasa untuk membela NKRI, dan mengklaim paling banyak pahlawannya. Mereka tidak mengakui  peran laskar kiai-santri.

Sejarah Ditulis Oleh yang Menang

Sebagaimana ungkapan “sejarah ditulis oleh pemenang”, itulah yang kemudian terjadi pada era lahirnya revolusi jihad para santri ini. Orang-orang militer KNIL lalu menulis buku sejarah sesuai versi mereka. Jend A.H Nasution, seorang sejarawan tentara ikut menulis 11 jilid mengenai sejarah Perang kemerdekaan RI 1945-1949.

Tentu tidak ada kontribusi laskar rakyat dalam buku ini, seperti laskar Sabilillah atau Hizbullah, tidak ada pahlawan yang paling berjasa dari kiai atau orang-orang pesantren, apalagi nama KH Wahab Chasbullah dan Kiai Wachid Hasjim. Padahal salah satu kekuatan terbesar pada diri Mbah Wahab.

Posisi Mbah Wahab sebagai pimpinan nasional tentara rakyat Sabillah atau Hizbullah dalam perang gerilya melawan tentara Sekutu/Nica-Belanda, diingkari oleh versi resmi tentara dalam Sejarah Perang Kemerdekaan.

Itulah alasan mengapa Suharto tidak mengakui Mbah Wahab sebagai pahlawan karena mereka tidak memiliki bukti tertulis. Tidak seperti Tentara. Revolusi jihad yang melahirkan hari santri ini menjadi pengingat bagi kita semua untuk menuliskan kembali sejarah perjuangan jaringan kiai-santri dalam membela NKRI.

Tags

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close