Sejarah dan Hukum Mimbar Jum’ah

 Sejarah dan Hukum Mimbar Jum’ah

Perbedaan Dakwah Bertahap dan Dakwah Merusak (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM – Di beberapa masjid, baik di Indonesia sendiri maupun di beberapa negara yang lain, penggunaan mimbar masjid menjadi hal yang sangat lumrah. Bentuknya pun bervariasi dan bermacam-macam. Mimbar-mimbar tersebut digunakan untuk ceramah, khutbah jum’ah, khutbah hari raya dan khutbah-khutbah yang lain.

Riwayat tentang sebab-sebab munculnya penggunaan mimbar khutbah jum’ah bervariasi. Menurut riwayat disebutkan:

عنِ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللهِ يُصَلِّي إِلَى جِذْعٍ إِذْ كَانَ الْمَسْجِدُ عَرِيشًا وَكَانَ يَخْطُبُ إِلَى ذَلِكَ الْجِذْعِ فَقَالَ رَجُلٌ مِنْ أَصْحَابِهِ: هَلْ لَكَ أَنْ نَجْعَلَ لَكَ شَيْئًا تَقُومُ عَلَيْهِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ حَتَّى يَرَاكَ النَّاسُ وَتُسْمِعَهُمْ خُطْبَتَكَ؟ قَالَ: نَعَمْ، فَصَنَعَ لَهُ ثَلاَثَ دَرَجَاتٍ فَهِيَ الَّتِي أَعْلَى الْمِنْبَرِ فَلَمَّا وُضِعَ الْمِنْبَرُ وَضَعُوهُ فِي مَوْضِعِهِ الَّذِي هُوَ فِيهِ.

Dari Ubay bin Ka’ab, ia berkata, “Rasulullah Saw. ketika mengerjakan salat mengahadap ke pohon kurma, karena masjid (pada waktu itu) terbuat dari kayu. Beliau juga khutbah pada pohon kurma tersebut. Kemudian salah seorang dari sahabat beliau menawarkan, ‘Apa Anda berkenan kami buatkan sesuatu yang dapat Anda gunakan pada saat salat Jum’ah, sehingga orang-orang dapat melihat Anda dan Anda dapat memperdengarkan khutbah?.’ Beliau lantas menajwab, ‘Baiklah’. Seseorang tersebut membuatkan mimbar beliau dalam tiga tingkat yang ia berada di atas mimbar. Ketika mimbar itu diletakkan, orang-orang meletakkannya di tempat yang biasanya.

***

Sementara Ibnu Sa’d dalam al-Thabaqat al-Kubra mengutip riwayat bahwa pada saat itu, setiap hari Jum’at, Rasulullah menyampaikan khutbah Jum’ah dengan bersandar pada pangkal pohon kurma di masjid sambil berdiri. Beliau bersabda, “Saya benar-benar lelah ketika menyampaikan khutbah sambil berdiri.” Kemudian Tamim al-Dari menawarkan kepada beliau, “Jika Anda berkenan, saya akan buatkan mimbar seperti yang pernah Anda lihat di Syam.”

Mendengar tawaran tersebut, Rasulullah meminta waktu agar bisa bermusyawarah dengan sahabat-sahabat beliau yang lain. Setelah tawaran dari Tamim al-Dari tersebut disampaikan dalam musyawarah, akhirnya disepakati bahwa memang sebaiknya Rasulullah dibuatkan mimbar.

Abbas bin Abdul Mutthalib, paman Rasulullah, salah satu sahabat yang ikut dalam musyawarah menawarkan agar pembuatan mimbar diserahkan kepada Kilab, budak pribadinya yang ahli dalam pertukangan. Setelah disetujui oleh Rasulullah, Abbas menyuruh Kilab untuk pergi mencari pohon asilah (nama pohon) di hutan. Pohon tersebut lalu dipotong dan dijadikan 2 tingkat plus tempat duduk. (Ibnu Sa’d, al-Thabaqat al-Kubra, juz 1, hlm. 250)

Sejarah Mimbar Pasca Wafatnya Rasulullah

Abu Ilyas Suwaid al-Ahmadi mengatakan bahwa orang yang pertama kali membuat mimbar pasca wafatnya Rasulullah adalah Mu’awiyah bin Abu Sufyan. Kemudian Mu’awiyah memerintahkan Marwan untuk menambah tingkatan mimbar menjadi sembilan tingkatan.

Setelah itu, mimbar khutbah semakin masif dan tersebar luas di beberapa kota dan desa sejak abad kedua Hijriyah. Sebelumnya para khatib hanya berdiri dengan memegangi tongkat. Yang menginisiasi pembuatan mimbar di kota-kota dan desa-desa di wilayah Damaskus adalah Abdul Malik bin Marwan al-Lakhami ketika ia menjabat sebagai gubernur Mesir di masa pemerintahan Marwan bin Muhammad, yang merupakan khalifah terakhir Dinasti Umayah. Setelah itu, pembuatan dan penggunaan mimbar khutbah Jum’ah di masjid-masjid berlanjut hingga sekarang. (Abu Ilyas Suwaid al-Ahmadi, Salat al-Jum’ah Fardhun ‘Ainiyyu Am Hadasun Ijtima’iyyun, hlm. 448)

Hukum Khutbah Jum’ah Menggunakan Mimbar

Dalam literatur-literatur Usul Fiqh dikenal dengan istillah la hukma lahu aslan (tidak mengandung hukum sama sekali). Atau dalam istilah Yusuf Qardhawi sunnah ghairu tasyri’iyyah (sunnah yang tidak berimplikasi hukum untuk diamalkan dan diikuti). Artinya, persoalan mimbar Jum’ah tidak mengandung hukum yang mengikat yang berdampak pada keabsahan khutbah Jum’ah.

Karena itu, mayoritas ulama sepakat bahwa hukum menggunakan mimbar dalam khutbah Jum’ah adalah sunnah. Imam al-Nawawi menjelaskan alasan kesunahannya karena selain didasarkan pada hadis, khutbah Jum’ah di atas mimbar bertujuan agar materi khutbah bisa tersampaikan ke para jama’ah dan ketika khatib dapat terlihat, mereka akan mudah mengambil ‘izhhad (pelajaran) dari substansi khutbah yang disampaikan. Imam al-Nawawi mengatakan:

أَجْمَعَ الْعُلَمَاءُ عَلَى أَنَّهُ يُسْتَحَبُّ كَوْنُ الْخُطْبَةِ عَلَى مِنْبَرٍ لِلَأَحَادِيْثِ الصَّحِيْحَةِ، وَلِأَنَّهُ أَبْلَغُ فِي الْإِعْلَامِ، وَلِأَنَّ النَّاسَ إِذَا شَاهَدُوْا الْخَطِيْبَ كَانَ أَبْلَغُ فِي وَعْظِهِمْ

Ulama’ sepakat bahwa khutbah (Jum’ah) di atas mimbar hukumnya adalah sunnah berdasarkan hadis yang sahih, dan karena hal itu materi khutbah dapat tersampaikan serta para jama’ah akan dapat mengambik izzhah dari materi khutbah tersebut jika mereka dapat melihat khatib. (Al-Nawawi, al-Majmu’, juz 4, hlm. 398)

***

Pendapat yang sama juga disampaikan oleh imam Ibnu Hajar al-Haitami. Ia mengatakan bahwa hukum khutbah Jum’ah di atas mimbar adalah sunnah. Meski hal itu dilakukan di Mekkah. Bahkan jika tidak ditemukan mimbar, maka khatib sebaiknya berdiri di tempat yang agak tinggi atau bersandar pada kayu atau sejenisnya. Tujuannya agar materi khutbah dapat tersampaikan ke para jama’ah. Ia berkata:

وَتُسَنُّ الْخَطْبَةُ عَلَى مِنْبَرٍ، وَلَوْ فِي مَكَّةَ خِلَافاً لِمَنْ قَالَ يَخْطُبُ عَلَى بَابِ الْكَعْبَةِ وَذلِكَ لِلإِتْبَاعِ… أَوْ مَحَلٍّ مَرْتَفِعٍ إِنْ فَقِدَ اَلْمِنْبُرُ، لِأَنَّهُ أَبْلَغُ فِي الْإِعْلَامِ،
فَإْنْ فَقِدَ اِسْتَنَدَ لِنَحْوِ خَشَبَةٍ

Disunnahkan khutbah di atas mimbar, walaupun di Mekkah. Namun ada yang berpendapat bahwa khutbah (di Masjid al-Haram) sunnah dilakukan di pintu Ka’bah, karena itba’ (mengikuti cara Nabi Khutbah). Jika tidak ditemukan mimbar, maka khutbah sebaiknya dilakukan di tempat yang agak tinggi karena yang demikian dapat menyebabkan materi khutbah tersampaikan. Jika keduanya tidak ditemukan, maka khatib bersandar ke kayu. (Ibnu Hajar al-Haitami, Tuhfat al-Muhtaj, juz 1, hlm.  347)

Namun ulama membatasi penggunaan mimbar agar tidak terlalu besar sehingga dapat menyebabkan tempat berjama’ah menjadi sempit, apalagi ukuran masjidnya kecil. Menurut mereka hukumnya adalah makruh.

Posisi dan Tingkatan Mimbar Khutbah Jum’ah

Menurut ulama mazhab Syafi’i dan ulama mazhab lain, bahwa mimbar sunnah diletakkan di sebelah kanan mihrab (jawa:imaman). Artinya, di sebelah kanan imam ketika imam berada di mihrab dalam keadaan menghadap kiblat. Imam al-Nawawi berkata:

قَالَ أَصْحَابُنَا وَغَيْرُهُمْ وَيُسْتَحَبُّ أَنْ يَكُونَ الْمِنْبَرُ عَلَى يَمِينِ الْمِحْرَابِ، أَيْ عَلَى يَمِينِ الإِمَامِ إذَا قَامَ فِي الْمِحْرَابِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ، وَهَكَذَا الْعَادَةُ

Ulama mazhab kami dan yang lain mengatakan bahwa sunnah hukumnya meletakkan mimbar di sebelah kanan mihrab. Artinya, posisi mimbar berada di sebelah kanan imam ketika ia berdiri di mihrab dalam kondisi menghadap kiblat. Begitulah tradisinya. (al-Nawawi, al-Majmu’, juz 4, hlm. 398)

***

Adapun mengenai jumlah tingkatan mimbar, jika merujuk pada beberapa hadis, redaksinya berbeda-beda. Riwayat dari Anas bin Malik dan Ibnu Umar menyebutkan bahwa mimbar Rasulullah terdiri dari dua tingkat. Sedangkan menurut riwayat Ubay bin Ka’ab dan Ibnu Abbas, mimbar Rasulullah terdiri dari tiga tingkat.

Terkesan kedua riwayat tersebut bertentangan, karena itu perlu dilakukan kompromi (al-jam’u). Ahmad Abdul ‘Al al-Thahtawi menjelaskan bahwa dua tingkat yang dimaksud tidak termasuk tingkat yang digunakan untuk duduk Rasulullah. Sedangkan maksud tiga tingkatan sudah mencakup tingkatan yang digunakan untuk duduk.

Ahmad Abdul ‘Al al-Thahtawi menegaskan bahwa jumlah tingkatan mimbar Jum’ah bukan tujuan yang ingin dicapai dalam menyampaikan khutbah, tetapi yang terpenting adalah khatib berada di tempat yang agak tinggi supaya para jama’ah bisa melihatnya, sehingga tema khutbah dapat tersampaikan dengan baik.

Ahmad Abdul ‘Al al-Thahtawi melanjutkan bahwa jumlah tingkatan mimbar Jum’ah bukan bersifat ta’abbudi. Karena itu, bentuk dan tingkatan mimbar boleh tidak sama dan persis dengan mimbar di jaman Rasulullah. (Ahmad Abdul ‘Al al-Thahtawi, Zad al-Da’iyah ila Allah, hlm. 252). Meski begitu yang lebih utama adalah meniru sebagaimana mimbar yang digunakan Rasulullah.

Pendapat ini dikuatkan oleh pernyataan Imam Ibnu Hajar al-Haitami bahwa jika jika mimbar Jum’ah terdiri dari tujuh tingkat, maka khatib disunnahkan berdiri di tingkatan ketujuah (yang disebut dengan al-mustarah). Wallahu A’lam

Abdul Wadud Kasful Humam

Dosen di STAI Al-Anwar Sarang-Rembang

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *