Cancel Preloader

Sejarah dan Dialektika Kekhasan Islam (di) Indonesia

 Sejarah dan Dialektika Kekhasan Islam (di) Indonesia

Kesalehan Virtual (Ilustrasi/Hidayatuna)

Digiqole ad

HIDAYATUNA.COM –  Membaca Indonesia berarti berbicara sejarah di dalamnya. Salah satu sejarah yang menarik ditelisik adalah proses Islamisasi di Indonesia.

Ulama dahulu tidak hanya sekedar menerima Islam, tetapi juga menyambutnya sampai kepada pusat kemunculan Islam, yakni Mekkah dan Madinah.

Uniknya lagi, ulama kita di Indonesia, dalam mempelajari Islam tidak begitu saja mengcopy-paste, akan tetapi memberi warna, penawaran baru, serta kreativitas dalam berislam dengan kebudayaan khas Indonesia.

Salah satu contohnya adalah tembang Lir-Ilir dan Gundul-Gundul Pacul karya Sunan Kalijaga. Isinya ruh Islam (nilai-nilai spiritualitas) sedangkan ekspresi luarnya berbentuk bahasa Jawa.

Kesadaran berislam yang khas tersebut tentu melalui proses panjang. Ia bergerak sangat dinamis dan kreatif. Tidak kaku dan saklek sehingga memberikan tempat terhadap kebudayaan lokal serta nilai-nilai Islam lebih mudah disampaikan. Proses tersebut memunculkan ke khasan yang berbeda, antara Islam di Indonesia dengan keberislaman negara lain.

Pergulatan Islam di Indonesia

Ada beberapa alasan, menurut penulis, yang melandasi ke khasan Islam yang ada di Indonesia. Sehingga terbentuk Islam yang begitu ramah, santun, dan toleran terhadap sesama.

Kekhasan ini memunculkan identitas tersendiri dan tentu dipengaruhi banyak hal. Di antaranya;

Masuknya Islam di Indonesia Tanpa Peperangan

Berbeda dengan negara-negara Eropa, misalnya Spanyol, Islam masuk dengan kontak senjata. Philip K Hitty mencatat dalam bukunya History of Arabs (2006), setidaknya ada 500 orang pasukan di bawah komando Tharif ibn Malik sebagai perintis untuk menaklukkan Spanyol.

Pada tahun 711 M, lanjut K Hitty, Musa ibn Nushair mengirim pasukan ke Spanyol sebanyak 7000 pasukan di bawah pimpinan Thariq ibn Ziyad.

Dari peristiwa tersebut, nampak perbedaan yang sangat mencolok antara masuknya Islam di Spanyol dan di Inonesia. Di Indonesia, proses masuknya Islam disebarkan melalui perdagangan, perkawinan serta pendidikan.

Faktor perdagangan disinyalir lebih kuat sebagai awal masuknya Islam ke Indonesia. Dalam bidang pendidikan, di Jawa, kita punya Walisongo yang menyebarkan Islam dengan pendekatan kebudayaan.

Jadi, faktor perbedaan inilah yang menjadikan ke-Islaman di Indonesia lebih ra(h)mah.

Islamisasi Melalui Ajaran Tasawuf

Tasawuf merupakan ajaran yang berpusat kepada kepasrahan dan ketundukan total kepada Allah SWT. Azyumardi Azra dalam bukunya Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII & XVIII (2013) menyebutkan bahwa peran para sufilah yang menyebabkan berkembangnya Islam secara luas di Indonesia.

Faktor keberhasilan tersebut, lanjut Azra karena kemampuan para sufi menyajikan Islam dalam kemasan yang atraktif ketimbang perubahan dalam kepercayaan dan praktik agama lokal. Oleh sebab itu, kebudayaan ataupun praktik agama tertentu yang sebelumnya telah ada tidak dibasmi.

Ia dijadikan oleh para penyebar Islam, khususnya kebudayaan, sebagai alat menyebarkan Islam.

Nalar Islam yang Iklusif

Masih berkaitan dengan alasan yang di atas karena masuknya Islam di Indonesia tanpa peperangan dan Islamisasi melalui tasawuf, maka terbentuklah apa yang disebut. Setidaknya menurut penulis, sebagai nalar Islam yang iklusif. Nalar Islam yang inklusif ini tentu dipengaruhi banyak faktor.

Nalar Islam iklusif inilah yang membuat orang-orang Islam di Indonesia bersifat terbuka dalam beragama, menghargai sesama tanpa merasa dirinya paling benar dan orang lain salah. Juga tidak menghapus kebudayaan atau – meminjam istilahnya Kiai Said Aqil Siroj – menjadikan kebudayaan sebagai infrastruktur agama (Islam).

Islam ra(h)mah ini harus terus digaungkan, khususnya di media sosial, sebagai upaya kontra-narasi ekstremis. Penulis berharap, mungkin juga kita semua, Indonesia akan menjadi role model bagi negara-negara di dunia dalam memahami Islam rahmatan lil ‘alamin.

Prinsipnya adalah almuhafadhotu ‘ala qodimis-sholih wal akhdzu bil jadidil ashlah (Islam yang tetap mempertahankan tradisi ke-Indonesiaan sekaligus mengambil nilai-nilai baik terhadap perkembangan yang ada).

Wallahu ‘alam bish-Showab.

Abdus Salam

Abdus Salam

https://hidayatuna.com

Santri di PP. Sunan Pandanaran, Yogyakarta

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

18 − twelve =