Sastrawan Iman Budi Santosa Wafat, Ijazah Maiyah Saksi Hidupnya

 Sastrawan Iman Budi Santosa Wafat, Ijazah Maiyah Saksi Hidupnya

Iman Budi Santosa

HIDAYATUNA.COM, Yogyakarta – Sastrawan Iman Budi Santoso atau dikenal dengan sapaan IBS tutup usia, Kamis (10/9/2020). Jenazah sastrawan IBS disalatkan di kontrakannya, Dipowinatan, Jalan Brigjen Katamso, Yogyakarta. Kemudian dimakamkan di pemakaman seniman, Imogiri.

Kepulangan seniman asal Magetan yang lahir 28 Maret 1946 ini melengkapi kabar duka dari para tokoh terkemuka di Nusantara. Khususnya di penghujung tahun 2020.

Meski telah tiada, namun Iman Budi Sentosa akan teteap hidup dalam karya-karyanya. Tak banyak yang mengenal karya IBS karena ia sendiri memilih menyepi di ruang yang ‘anti mainstream’. Ia fokus pada karya berbahasa Jawa dengan sastra yang tinggi.

Karya-karya Iman Budi Santosa bernilai spiritual yang sangat tinggi, di antaranya ialah:

  • Tiga Bayangan (puisi antologi; 1970)
  • Ranjang Tiga Bunga (novel; 1975)
  • Bayang Kertapati (novel; 1976)
  • Dunia Semata Wayang (puisi; 1996)
  • Kalimantang (kumpulan cerita pendek; 2003)
  • Matahari-Matahari Kecil (puisi; 2004)
  • Perempuan Panggung (novel; 2007)
  • Ziara Tanah Jawa (puisi; 2013)
  • Sesanti Tedhak Siti (geguritan; 2015)

Ijazah Maiyah Imam Budi Santosa dari Cak Nun

Sastrawan Iman Budi Santoso semasa hidupnya pernah diijazahi Maiyah oleh Cak Nun atau Emha Ainun Najib. Ijazah Maiyah inilah yang menjadi saksi hidupnya selama ini, ia begitu dekat dengan Cak Nun. Bahkan dalam sebuah tayangan Yutube Maiyah, Iman Budi Santoso menceritakan perjalanan hidupnya selama berkesenian dengan Cak Nun di masa muda.

Ijazah maiyah diberikan oleh pencetus dan jemaah Maiyah kepada sastrawan Iman Budi Santosa atas kontribusinya selama hidup. Iman Budi Santosa kerap bergabung dalam jemaah Maiyah untuk menyampaikan petuah-petuah yang diamini bersama.

Selain dalam Maiyah, Iman Budi Santosa menyampaikan petuah-petuah tersebut dalam buku-bukunya. Ia begitu khidmat dalam menulis. Kini IBS sudah berpulang karena penyakit jantung yang dideritanya. Semoga apa yang ia sampaikan selama ini dapat menjadi renungan untuk kita yang masih hidup.

Redaksi

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *