Santri Pelaku Ekonomi adalah Bagian dari Dakwah Sosial

 Santri Pelaku Ekonomi adalah Bagian dari Dakwah Sosial

Negara-Negara Muslim Didesak untuk Perkenalkan Mata Uang Bersama (Ilustrasi/Hidaytauna)

HIDAYATUNA.COM – Santri belakangan semakin mentereng, pandangan masyarakat terhadap santri tidak se-kaku dulu yang kental dengan stigma agamis. Sudah banyak santri yang sukses berwirausaha dan menjadi panutan dalam bidang ekonomi.

Salah satu kisahnya datang dari Dony Ekasaputra, alumni Ma’had Aly Situbondo. Ia juga pernah mengajar ngaji Fath al-Muin sebagaimana ditulis Ahmad Husain Fahasbu, Dosen Muda Ma’had Aly Nurul Jadid Paiton seperti dilansir madura.santrinews.

Berangkat dari seorang santri di salah satu pendidikan agama di Situbondo, kini ia memiliki sebuah perusahaan yang kemudian beranak-pinak menjadi banyak jejaring usaha secara online. Bukan tanpa proses, awalnya ia menjual camilan makroni hingga menjadi besar dan kini merambah ke kosmetik.

Dari beragam usaha tersebut, ia kini meraih ratusan omzet. Bagi seorang santri yang saat di pondok pesantren hanya bergulat dengan kitab kuning, sepertinya jauh sekali perbandingannya dengan kehidupannya kini yang justru giat di bidang ekonomi.

Pertanyaannya ialah, bagaimana seorang santri tanpa latar belakang ilmu ekonomi, menjadi pendiri dan mengelola perusahaan besar? Menurut kesaksian Ahmad Husain, bahkan ia memiliki agen hampir di seluruh Indonesia yang sebagian agen ialah non-muslim.

Nabi dan Para Sahabat Juga Pelaku Ekonomi

Kisah santripreneur (santri enterpreneur) ini mengingatkan kita kepada perkara muamalah-transaksional yang dilakukan jaman nabi dan para sahabatnya dulu. Bekerjasama dengan mereka yang non-muslim ialah bukan hal tercela apalagi haram.

Sebagaimana Nabi Saw dulu pernah menggandaikan baju besinya kepada seorang Yahudi dan belum sempat ditebus hingga beliau wafat. Tidak hanya Rasulullah Saw, Abu Yusuf dulunya juga merupakan santri senior Abu Hanifah. Abu Yusuf ialah ahli fikih, namun ia juga seorang pengusaha yang kaya raya.

Dalam kajian ekonomi Islam, peran Abu Yusuf sangatlah besar. Dia begitu fasih berbicara tentang kebijakan fiskal, keungan publik, sistem pajak dan lain sebagainya (baca kitab al-Kharraj). Beberapa kaum sufi juga tidak hanya terbatas pada ahli fikih, beberapa deret di antara mereka juga penjadi pengusaha dan kaya raya.

Maka, sufi yang identik dengan keterasingan, kemiskinan dan kumuh tidak sepenuhnya begitu. Ada beberapa sufi yang kaya raya, di antaranya adalah Abu Hasan al-Syadili. Salah seorang kiai di Pondok Pesantren yang ahli tasawuf pun pernah mengatakan, bahwa menjadi sufi itu tidak harus miskin. Malah, berusaha menjadi kaya dulu, ketika menjadi sufi bisa tetap memberi orang lain.

Dakwah dengan Memikirkan Ekonomi Keumatan

Dalam ajaran ilmu tasawuf memang benar harus zuhud (tidak cinta dunia), meski begitu bukan berarti tidak cinta dunia tidak boleh punya dunia. Sebab zuhud adalah harta yang ada di tangan mereka, bukan di hati mereka, al-Dunya fi aydihim la fi qulubihim.

Aal-Syatibi, ulama sekaligus pakar maqasid al-Syariah tidak merekomendasikan orang fokus ibadah sehingga ia lupa soal kerja dan usaha. Beliau berkata:

يكون الخروج عن المال سببا للشغل في الصلاة اكثر من شغله بالمال

“Meninggalkan urusan duniawi secara total lebih menyebabkan salat tidak khusuk ketimbang masih sibuk mengurusi soal usaha-kerja”.

Sebab memikirkan ekonomi keumatan merupakan salah satu bentuk dakwah dalam lingkup sosial. Untuk itulah santri sudah saatnya bangkit bukan hanya pandai dalam hal agama tetapi juga sebagai pelaku ekonomi sehingga bisa bersinergi bersama pemerintah dalam memberantas kemiskinan. Wallahu’alam bi showab.

 

Sumber : Madura.news

Redaksi

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *