Sang Mursyid dan Kiai Muchammad Muchtar bin Haji Abdul

 Sang Mursyid dan Kiai Muchammad Muchtar bin Haji Abdul

Ilustrasi/Hidayatuna

Digiqole ad

Hidayatuna.com – Khariqatul ‘adah atau hal-hal di luar kebiasaan manusia pada umumnya sudah mulai tampak sejak kecil pada diri Kiai Muchammad Muchtar. Muchtar kecil daripada kebanyakan anak sebayanya memiliki perilaku dan kebiasaan yang tidak lazim.

Sebagaimana yang diceritakan didalam buku berjudul “sepenggal perjalanan hidup sang mursyid Kiai Muchammad Muchtar Bin Haji Abdul Mu’thi” bahwa Kiai Muchtar merupakan sosok seorang sufi yang merasakan pahitnya perjuangan pada masa penjajahan. Di tengah getirnya penjajahan beliau harus berjuang melawan para penjajah dengan segala kecerdikannya.

Muchtar juga harus berdagang hingga menelusuri beberapa desa dan hutan demi menyokong hidupnya dan keluarga. Kiai Muchtar memutuskan untuk membantu ibundanya yaitu Nyai Nasichah untuk memenuhi kebutuhannya setelah wafatnya Mbah Mu’thi.

Kiai Muchtar tahu betul perjuangan bangsa Indonesia hingga merdeka pada saat itu beliau berusia 17 tahun. Meski begitu Kiai Muchtar tidak pernah meninggalkan kewajibannya terhadap Allah swt. Beliau selalu melaksanakan salat sambil berjualan menelusuri banyak desa dan hutan.

Tidak Menyukai Nasi Putih

Nasi putih merupakan menu utama makanan masyarakat Indonesia termasuk anak-anak kecil. Berbeda dengan Kiai Muchtar kecil yang justru sangat tidak menyukai nasi putih. Hal ini berlangsung selama bertahun-tahun atau semenjak beliau dilahirkan. Sehingga sebagai pengganti nasi putih yaitu kue brubi atau sejenis kue nagasari, makanan pisang yang dibungkus dengan adonan tepung.

Namun lebih aneh lagi tidak semua kue brubi cocok baginya. Kue brubi yang paling cocok bagi Kiai Muchtar yaitu brubi bikinan Mak Kasah dan Mak Taja. Mak Kasah adalah wanita tua yang membuka warung di dekat pasar Ploso, sementara Mak Taja adalah wanita tua yang membuka warung di Kalijaring Tambelang.

Selain itu Kiai Muchtar kecil juga enggan meminum air putih. Sehingga dalam kesehariannya beliau selalu meminum teh manis yang diminum saat menikmati brubi bikinan Mak Kasah. Pola makan ini mulai berubah semenjak Kiai Muctar menginjak usia 8 tahun dan memasuki bangku sekolah.

Muchtar kecil mulai menggantikan kue brubi yang selalu menjadi makanan favoritnya dengan nasi putih ditambah dengan kulupan atau urap-urap, tahu dan tempe. Kiai Muchtar sangat menyukai kulupan dan tidak minat sama sekali makanan daging atau ikan laut.

Nakal, Berani dan Cerdik

Anak seusia kiai Muchtar biasanya memiliki rasa takut terhadap hal-hal aneh. Berbeda dengan Muchtar kecil yang sejak kecil tidak pernah takut, misalnya di tengah malam saat mencari jangkrik melewati makam bertemu dengan jangkrik besar nan aneh muncul terlihat memakai topi merah seperti halnya boneka dan kepalanya selalu bergerak-gerak.

Pada saat yang lain Kiai Muchtar kecil bertemu dengan hantu menyerupai orang dewasa dengan memakai kaos motif garis merah putih (seperti pakaian tradisional Madura). Mengerti kalau itu hantu, Kiai Muchtar kecil tidak merasa takut sedikitpun.

Contoh keberanian Kiai muchtar kecil yaitu ketika disuruh oleh orang-orang yang melawan penjajah untuk menggoda polisi Belanda. Untuk meyakinkannya diceritakan kalau mereka baru saja diberi uang oleh sang polisi dengan syarat Kiai Muchtar mengatakan, “Londo…..alon-alon mbondo….. Londo alon alon mbondo”.

Alhasil diteriaki seperti itu, spontan polisi Belanda marah dan mengejarnya. Beruntung Kiai Muchtar berlari masuk rumah dan sembunyi di bawah kolong “amben” (tempat tidur dari bambu). Selain itu Kiai Muchtar juga cerdik, beliau harus selalu ikut ketika Mak Nyai bepergian.

Suatu ketika Mak Nyai berangkat tanpa sepengetahuan Kiai Muchtar. Namun rencana itu tidak lama diketahui Kiai Muchtar karena mendapati baju Mak Nyai yang biasanya dipakai bepergian tidak ada. Kiai Muchtar kecil langsung bergegas dan secepat kilat berlari memutari rumah, menyusuri sawan dan mencegat Mak Nyai di jalan. Mak Nyai merasa kaget tetapi bahagia melihat kecerdikan anaknya.

Gemar Wayang Kulit

Cerita wayang kulit lazimnya disukai oleh orang-orang dewasa. Sehingga Kiai Muchtar kecil terlihat aneh ketika sangat menyukai wayang kulit disamping hampir semua anggota keluarga tidak ada yang suka pada wayang kulit.

Kiai Muchtar kecil memiliki sahabat karib bernama Dul Mannan yang selalu menjadi teman ketika menonton wayang kulit. Dul Mannan juga yang selalu memberikan informasi setiap kali ada pertunjukan. Sehingga karena kuatnya hasrat terhadap wayang kulit keduanya seakan tidak ada pertunjukan yang luput dari kehadiran dua sahabat karib ini.

Suatu ketika Kiai Muchtar kecil bersama teman-temannya sedang belajar kitak fiqih oleh Mbah Mu’thi. Tiba-tiba harus dihentikan karena terdengar Dul Mannan memberikan kode khusus kepada Kiai Muchtar berupa bunyian tertentu yang berarti malam itu ada pertunjukan wayang. Hal ini membuat Kiai Muchtar kecil seketika tidak fokus terhadap pelajaran hingga Mbah Mu’thi memahami dan menyuruh Kiai Muchtar pergi bersama Dul Mannan.

Seiring berjalannya waktu Mbah Mu’thi mengetahui bahwa Kiai Muchtar sangat menyukai wayang kulit. Untuk itu, demi untuk membuat buah hatinya bahagia Mbah Mu’thi selalu membawa oleh-oleh wayang ketika bepergian. Bahkan Mbah Mu’thi rela memesan bermacam-macam wayang kepada pembuat wayang.

Kegemaran Kiai Muchtar kecil terhadap wayang kulit membuatnya rela berjalan kaki menempuh jarak yang cukup jauh hanya sekedar untuk melihat pertunjukan wayang, berusaha mempelajari seluk-beluk cerita wayang dan gending yang mengiringi jalan cerita. Sehingga untuk keperluan itu beliau tidak segan untuk menjadi wiyogo atau panjak wayang.

Ulfa Ainun Nikmah

https://hidayatuna.com/

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

three × three =