Sanad Guru-Murid Menjadi Ciri Otentik Jaringan Ulama Nusantara

 Sanad Guru-Murid Menjadi Ciri Otentik Jaringan Ulama Nusantara

Sanad Guru-Murid Menjadi Ciri Otentik Jaringan Ulama Nusantara

HIDAYATUNA.COM, Jakarta – Nurdinah Muhammad dalam tulisannya berjudul “Karakteristik Jaringan Ulama Nusantara” mengungkapkan bahwa, ada dua ciri penting dari wacana ilmiah jaringan ulama, yakni telaah hadist dan tarekat.

Melalui telaah-telaah hadist, para guru dan murid-muridnya dalam jaringan ulama menjadi terikat satu sama lainnya. Para ulama ini juga mengambil dari telaah-telaah hadist inspirasi dan wawasan mengenai cara memimpin masyarakat muslim menuju rekontruksi sosio-moral.

“Ini pada gilirannya, mendorong para tokoh dalam jaringan ulama untuk mendapatkan apresiasi yang lebih baik menyangkut hubungan yang seimbang antara syariat dan tasawuf,” ungkap Nurdinah di halaman 77 dikutip Hidayatuna.com, Rabu (15/7/2020).

Organisasi tarekat melalui silsilah yang berkesinambungan menjadi sarana untuk menghubungkan ulama satu dengan ulama lainnya. Ajaran-ajaran tarekat yang menekankan kesetiaan dan kepatuhan para murid kepada guru mereka memberikan kekuatan tambahan kepada jaringan ulama.

Sementara itu menurut Didin Nurul Rosidin dalam tulisannya berjudul “Ulama Pasca Sunan Gunung Jati” yang dimuat di Jurnal Sosiologi Walisongo menjelaskan bahwa pola penyebaran keilmuan Islam di Nusantara tidak terlepas dari sistem keilmuan Islam klasik yang menekankan hubungan solid antara guru dengan murid.

“Seperti sistem sanad hadist dan atau mengikuti pola hubungan murshid dan murid dalam tradisi tasawuf yang dikenal dengan istilah tariqah tarsilah,” ungkpanya di halaman 182.

Pola ini menggambarkan hubungan “vertikal” antara guru dengan murid dalam kerangka pengembangan jaringan intelektual Islam.

“Sementara bukti akan adanya hubungan tersebut melalui proses sertifikasi atau pemberian lisensi yang dikenal dengan istilah ijazah atau juga penggunaan karya-karya gurunya sebagai acuan dalam proses pengajaran untuk murid-muridnya,” sambungnya.

Jika merujuk pada kajian para sarjana tentang perkembangan jaringan intelektual Islam Nusantara yang dikaitkan dengan Timur Tengah sebagai pusat sekaligus sumber rujukan sejak abad ke-13 hingga awal abad ke-20, terdapat paling tidak ada tiga episode perkembangan jaringan intelektual Islam antara di kedua wilayah ini.

Redaksi

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

five × 1 =